AMMN dan INCO Diprioritaskan, Sektor Logam Hadapi Tekanan Margin

JAKARTA — BRI Danareksa Sekuritas menempatkan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebagai prioritas di sektor

Jul 08, 2026 - 13:47
0 0
AMMN dan INCO Diprioritaskan, Sektor Logam Hadapi Tekanan Margin

JAKARTA — BRI Danareksa Sekuritas menempatkan saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebagai prioritas di sektor pertambangan logam, meskipun momentum laba secara sektoral diperkirakan masih selektif pada kuartal II-2026. Rekomendasi buy juga diberikan kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Timah Tbk (TINS).

Proyeksi ini disampaikan di tengah estimasi pendapatan sektor pertambangan logam yang mencapai US$ 4,5 miliar pada kuartal II-2026, mencerminkan peningkatan 12% secara kuartalan (qoq) dan 38% secara tahunan (yoy). Menurut analis BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey, kenaikan pendapatan tersebut lebih ditopang oleh perbaikan harga jual dan bauran produk daripada pemulihan volume produksi maupun penjualan.

“Lonjakan biaya pada kuartal II-2026 terjadi di berbagai komponen, meski intensitasnya mulai berbeda menjelang akhir kuartal,” tulis Andhika dalam risetnya, Rabu (8/7/2026).

Proyeksi Performa Kuartal II-2026

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan margin laba kotor sektor ini berada di level 26%, margin laba usaha 21,7%, dan margin laba bersih 16%. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi kuartal I-2026, yang mencatatkan margin laba kotor 27,3%, margin laba usaha 23,6%, dan margin laba bersih 17,4%. Selisih proyeksi tersebut merepresentasikan penyusutan margin sebesar 130-190 basis poin (bps) secara kuartalan.

Metrik ProfitabilitasKuartal I-2026Kuartal II-2026 (Proyeksi)Penyusutan (bps)
Margin Laba Kotor27,3%26,0%130 bps
Margin Laba Usaha23,6%21,7%190 bps
Margin Laba Bersih17,4%16,0%140 bps

“Penurunan itu disebabkan oleh melemahnya penyerapan biaya tetap serta masih tingginya biaya bahan baku,” jelas Andhika. Margin keuntungan diperkirakan mulai kembali ke level yang lebih normal, seiring masih tingginya biaya bahan bakar dan sulfur.

Saham Prioritas di Tengah Selektivitas Laba

Dari tujuh emiten yang dipantau, AMMN dan INCO dinilai sebagai perusahaan yang masih mampu membukukan pertumbuhan laba secara kuartalan pada periode April-Juni 2026. Kedua emiten ini menjadi pilihan utama berkat kapasitas mereka menyerap tekanan biaya dan mempertahankan ekspansi margin di tengah kenaikan biaya bahan bakar dan sulfur yang membebani industri secara keseluruhan.

Rekomendasi ini menempatkan AMMN dan INCO satu tingkat di atas ANTM, BRMS, MBMA, NCKL, dan TINS, yang tetap mendapat rekomendasi buy namun menghadapi tantangan profitabilitas lebih besar pada kuartal berjalan. Dengan pendapatan sektor mencapai US$ 4,5 miliar, kontribusi pendapatan terbesar diproyeksikan berasal dari segmen nikel dan tembaga, yang menjadi andalan portofolio AMMN dan INCO.

Prospek Tekanan Biaya Paruh Kedua 2026

BRI Danareksa Sekuritas memprediksi tekanan biaya bahan bakar akan berangsur mereda pada paruh kedua 2026, seiring pulihnya arus pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz serta meningkatnya kuota produksi OPEC+. “Dengan kondisi tersebut, harga minyak Brent diperkirakan kembali mendekati level sebelum konflik pada awal Juli,” sebut Andhika.

Sebaliknya, tekanan biaya sulfur diprediksi masih bertahan lebih lama. Data menunjukkan bahwa Selat Hormuz menangani hampir separuh perdagangan sulfur dunia melalui jalur laut. Di sisi lain, China membatasi ekspor asam sulfat sejak Mei, memperketat pasokan global untuk komponen penting dalam proses pemurnian logam. Kondisi ini berpotensi memperpanjang siklus biaya tinggi bagi emiten yang bergantung pada sulfur sebagai input produksi, terutama di segmen nikel dan tembaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User