Konflik AS-Iran Memanas Kerek Harga Minyak, Bitcoin (BTC) Tertekan
SINGAPURA — Pasar kripto mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu
SINGAPURA — Pasar kripto mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (8/7/2026) setelah eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu gejolak di pasar komoditas dan mata uang global. Bitcoin (BTC) memimpin pelemahan aset digital seiring investor beralih ke instrumen safe haven.
Mengacu data CoinDesk, Bitcoin sempat merosot ke level US$ 62.657 pada sesi perdagangan Asia Pasifik, mencatatkan penurunan hampir 1% sejak tengah malam UTC. Pukul 09.30 waktu Singapura, BTC masih bertahan di zona merah dengan pelemahan 0,8% dalam 24 jam terakhir.
Pelemahan tidak hanya menimpa Bitcoin. Ether (ETH) terkoreksi 1,8%, XRP turun 2,3%, dan Solana (SOL) melemah 1,1% pada periode yang sama. Kapitalisasi pasar kripto global menyusut sekitar US$ 28 miliar dalam 24 jam, mencerminkan aksi jual yang meluas di seluruh sektor aset digital.
Di sisi lain, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 2,1% ke level US$ 72,27 per barel. Indeks Dolar AS (DXY) juga bergerak kokoh di atas level 101,00, mempertahankan reli yang dibangun sejak awal pekan. Penguatan dolar secara historis berkorelasi negatif dengan harga aset kripto.
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Ketegangan geopolitik mencapai titik didih setelah AS mengonfirmasi peluncuran serangan udara ke wilayah Iran. Pentagon menyatakan operasi militer tersebut merupakan respons langsung atas penembakan tiga kapal dagang di Selat Hormuz, termasuk kapal tanker berbendera Qatar dan Arab Saudi yang menjadi korban serangan pada Senin (6/7).
Teheran merespons dengan eskalasi serius.
"Iran telah membalas dengan menargetkan 85 instalasi militer AS sebagai respons atas serangan udara yang menghantam Provinsi Hormozgan dan Mahshahr,"demikian pernyataan resmi militer Iran yang dirilis kantor berita IRNA.
Skala konflik yang meluas ini membuat kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani kedua negara pada Mei 2026 kini berada di ambang kehancuran total. Para analis di Goldman Sachs dan JPMorgan telah menaikkan probabilitas konflik berkepanjangan menjadi 65%, naik dari 30% sepekan sebelumnya.
Bayang-Bayang Suku Bunga Tinggi
Konflik terbuka yang pecah sejak akhir Februari 2026 sempat melambungkan harga minyak mentah jauh di atas US$ 100 per barel, memicu guncangan inflasi global yang masif. Meskipun harga komoditas sempat merosot kembali ke bawah kisaran US$ 60 pasca kesepakatan gencatan senjata, ekspektasi inflasi di tingkat konsumen terus merangkak naik.
Survei ekspektasi inflasi University of Michigan per Juli 2026 mencatat kenaikan ke 4,2% untuk proyeksi satu tahun ke depan, level tertinggi sejak kuartal pertama 2026. Situasi ini kembali memicu kekhawatiran bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan dari level saat ini yang berada di kisaran 5,25%-5,50%.
Bagi pasar kripto, tingkat suku bunga tinggi adalah sentimen negatif ganda. Kondisi moneter ketat mengerek imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke 4,85%, membuat investor institusional cenderung mengalihkan alokasi dari aset berisiko tinggi seperti Bitcoin ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil pasti dengan risiko lebih rendah.
Sejak adopsi luas oleh institusi finansial pada 2024, pergerakan harga Bitcoin kini tidak lagi terisolasi dari dinamika ekonomi makro global. Korelasi BTC dengan indeks S&P 500 mencapai 0,72 dalam 30 hari terakhir, menegaskan bahwa kripto telah bergerak selayaknya aset berisiko pada umumnya di tengah ketidakpastian geopolitik dan moneter.
Comments (0)