JAKARTA — Apriyani Rahayu Resmi Beralih ke Ganda Campuran
Udara pagi di Pelatnas PBSI Cipayung, Rabu (8/7/2026), terasa sedikit berbeda. Di antara deru shuttlecock dan hentakan langkah para pebulu tangkis, Apriyan
Udara pagi di Pelatnas PBSI Cipayung, Rabu (8/7/2026), terasa sedikit berbeda. Di antara deru shuttlecock dan hentakan langkah para pebulu tangkis, Apriyani Rahayu hadir bukan sebagai penguasa sektor ganda putri yang dulu mendominasi, melainkan sebagai sosok yang tengah menata ulang keping-keping perjalanan kariernya. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 itu mengumumkan keputusan besar: meninggalkan ganda putri dan memulai episode baru di ganda campuran bersama Dejan Ferdinansyah.
Langkah itu bukan manuver tiba-tiba. Apriyani mengaku telah melalui proses evaluasi panjang, yang mencakup refleksi pasca-Olimpiade Paris 2024 dan hasil beberapa turnamen terakhir—termasuk Macau Open. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa ia memerlukan lingkungan baru untuk dapat kembali memantik performa puncak.
Mencari Oksigen Baru di Ganda Campuran
Di sektor ganda putri, Apriyani telah menorehkan sejarah. Namun, regenerasi berjalan cepat, dan ia merasa sudah saatnya memberi ruang bagi para pemain muda sembari mencari tantangan yang berbeda. “Memang saya rasa sudah banyak adik-adik lain di ganda putri dan saya mencoba untuk memilih jalan lain,” tuturnya dengan intonasi yang tenang tetapi penuh kesadaran.
Dejan Ferdinansyah, yang semula berpasangan dengan Gloria Emanuelle Widjaja, dipilih sebagai tandem baru. Dejan sendiri dikenal sebagai pemain ganda campuran dengan mobilitas tinggi dan pukulan-pukulan kreatif. Kombinasi pengalaman Apriyani yang kaya akan pertarungan level dunia dan kekuatan Dejan yang sedang menanjak diyakini dapat menciptakan dinamika baru di lapangan.
"Saya Bisa Kembali ke Top Performance"
Optimisme itu terangkum dalam pernyataan langsung Apriyani:
“Sekiranya di ganda campuran ini saya bisa kembali lagi ke top performance saya dengan Dejan.”
Kalimat singkat itu menyiratkan harapan besar sekaligus pengakuan bahwa jalur yang dipilih bukan sekadar penyegaran suasana, melainkan juga strategi untuk mengembalikan tajinya sebagai pemain kelas dunia. Urusan teknis seperti rotasi posisi, komunikasi di lapangan, dan penyesuaian tempo permainan akan menjadi fokus utama dalam masa transisi yang direncanakan berlangsung secara bertahap.
Dukungan Pelatnas dan Peta Persaingan Baru
Tim kepelatihan Pelatnas PBSI memberikan lampu hijau penuh. Langkah Apriyani dianggap sejalan dengan visi penyegaran komposisi pemain di semua sektor. Di sisi lain, peta persaingan ganda campuran Indonesia tengah dinamis. Pasangan Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari serta Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati masih menjadi kekuatan. Kehadiran Apriyani/Dejan diprediksi bakal memanaskan persaingan internal sekaligus menambah opsi bagi tim pelatih untuk turnamen beregu seperti Piala Sudirman 2027.
Apriyani menegaskan, target jangka pendek adalah mengejar ranking BWF dari posisi awal yang dimulai dari nol karena perubahan sektor. Ia dan Dejan akan mengikuti serangkaian turnamen BWF World Tour sebagai batu loncatan untuk mengumpulkan poin. Jadwal padat menanti, tetapi Apriyani menilai tekanan itu sebagai motivasi, bukan beban.
Bagi publik bulu tangkis Tanah Air, peralihan ini tentu akan diawasi dengan cermat. Bagaimanapun, Apriyani adalah salah satu sosok yang berhasil membawa pulang emas dari panggung paling bergengsi. Kini, ia memilih untuk memulai lagi, bukan dari puncak, melainkan dari fondasi baru yang ia bangun bersama Dejan. Apakah langkah ini akan membawa Apriyani kembali ke level elite? Jawabannya akan terungkap di lapangan, tetapi keberanian untuk berubah sudah menjadi sebuah kemenangan tersendiri.
Comments (0)