18 Bayi Kobra Ditemukan Bersarang di Kolong Rumah Warga Demak
Warga Dukuh Karangturi, Desa Bogosari, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, digemparkan oleh temuan 18 ekor anak ular kobra yang menetap di kolong rumah mereka, Jumat, 11 Juli 2026. Puluhan ular berbisa...
Warga Dukuh Karangturi, Desa Bogosari, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, digemparkan oleh temuan 18 ekor anak ular kobra yang menetap di kolong rumah mereka, Jumat, 11 Juli 2026. Puluhan ular berbisa itu langsung memicu pengerahan petugas pemadam kebakaran dan relawan satwa liar yang bekerja di bawah tekanan tinggi untuk mengevakuasi sarang tersebut tanpa jatuh korban.
Kronologi Penemuan
Pemilik rumah, Slamet Riyadi (52), mengaku pertama kali mendengar bunyi mendesis lemah dari lantai kayu tempat tinggalnya pada malam sebelumnya. Karena penasaran sekaligus was-was, ia memeriksa kolong rumah keesokan paginya pukul 08.00 WIB. Di salah satu sudut gelap, tumpukan kardus dan kayu bekas ternyata menjadi sarang puluhan bayi ular yang tengah bergerombol. “Senter saya arahkan, langsung kelihatan banyak ular kecil. Saya kaget, gemetar, dan langsung mundur sambil menelepon warga lain untuk melapor,” tutur Slamet.
Tak butuh waktu lama, laporan warga sampai ke posko Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kabupaten Demak. Regu rescue bersiaga dan tiba di lokasi sekitar pukul 09.15 WIB setelah menerima kode darurat satwa liar.
Proses Evakuasi Penuh Waspada
Komandan Regu Damkartan Demak, Sutikno, memimpin langsung tim beranggotakan lima orang. Ia menjelaskan bahwa proses pengambilan ular berlangsung selama hampir dua jam. “Kami menghitung ada 18 ekor anak kobra dengan panjang antara 20 hingga 30 sentimeter. Mereka sangat lincah dan cepat menyemburkan bisa, meski ukurannya kecil. Alat penjepit bertangkai panjang dan sarung tangan berlapis wajib kami pakai untuk menjaga jarak aman,” ujar Sutikno di sela evakuasi.
Petugas berupaya menangani dengan hati-hati agar tidak melukai ular sekaligus terhindar dari gigitan. Bayi kobra dikenal sudah memiliki racun neurotoksin yang langsung bekerja menyerang sistem saraf mangsa. Setelah ular diamankan satu per satu dalam wadah plastik khusus berventilasi, tim menyisir seluruh kolong dan celah fondasi menggunakan senter dan cermin panjang. Beruntung, induk kobra tidak ditemukan. “Induk biasanya pergi berburu. Jika induk sampai berada di dekat sarang dan merasa terancam, risikonya bisa sangat besar. Kami tetap siaga penuh,” imbuh Sutikno.
Respons Pemerintah Desa dan Aparat
Kepala Desa Bogosari, H. Muhsinin, mengapresiasi respons cepat petugas. Ia mengatakan peristiwa ini mendorong pemerintah desa untuk mengedukasi warga tentang bahaya sarang ular dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. “Kami bersyukur tidak ada insiden menggigit. Saya mengimbau seluruh warga, terutama yang rumahnya panggung atau memiliki banyak tumpukan barang di bawah, agar rutin memeriksa dan membersihkan. Tikus yang berkeliaran di tumpukan itu makanan utama ular, jadi koloni kobra mudah terbentuk,” kata Muhsinin.
Sementara itu, 18 anak kobra hasil evakuasi langsung dibawa ke tempat penampungan satwa liar di Semarang. Di sana, ular-ular itu akan diobservasi sebelum dilepasliarkan ke habitat yang jauh dari permukiman.
Fenomena Musiman dan Langkah Pencegahan
Kasus temuan kobra di Demak bukan yang pertama. Bulan lalu, di Kecamatan Karanganyar, 12 anak kobra ditemukan di tumpukan kayu bakar. Menurut catatan Damkartan, fenomena ini kerap meningkat saat musim kemarau, ketika suhu tanah naik dan ular mencari tempat lembab untuk bertelur. Kolong rumah, gudang barang bekas, dan saluran air jarang terjamah menjadi lokasi ideal bagi kobra untuk bersarang.
Sutikno menegaskan agar warga tidak menangani ular sendiri. “Anak kobra sekali gigit pun sudah mengeluarkan bisa yang bisa melumpuhkan. Mengambil dengan tangan kosong atau alat seadanya sering berujung fatal. Segera hubungi petugas Damkartan atau relawan satwa,” tegasnya.
Untuk mencegah kejadian serupa, pemerintah desa bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak berencana menggelar operasi bersih lingkungan di sejumlah dusun rawan. Warga diminta menutup celah di bawah rumah menggunakan anyaman kawat atau beton ringan, membatasi penimbunan barang, dan tidak membiarkan semak belukar rimbun di dekat dinding. Langkah sederhana ini diharapkan dapat memutus rantai migrasi ular berbisa ke tengah permukiman.
Baca juga:
Comments (0)