Zendaya Tuai Kecaman Akibat Anting Berbahan Artefak Iran Kuno
JAKARTA – Zendaya Coleman, aktris peraih Emmy Award, menuai kecaman luas seusai pemutaran perdana film The Odyssey di Odeon Luxe Leicester Square, London, Minggu (5/7/2025). Penyebabnya bukan busana...
JAKARTA – Zendaya Coleman, aktris peraih Emmy Award, menuai kecaman luas seusai pemutaran perdana film The Odyssey di Odeon Luxe Leicester Square, London, Minggu (5/7/2025). Penyebabnya bukan busana putih elegan yang dikenakannya, melainkan sepasang anting emas yang diketahui terbuat dari artefak Iran berusia sekitar tiga milenium. Kejadian ini memicu perdebatan sengit di kalangan arkeolog, sejarawan, dan warganet terkait batasan etis penggunaan benda bersejarah sebagai aksesori fesyen.
Penampilan Method Dressing yang Beralih Fokus
Bersama penata gaya langganannya, Law Roach, Zendaya telah membangun reputasi sebagai ikon mode melalui pendekatan method dressing. Dalam tur promosi film Dune dan Spider-Man, ia kerap mengenakan busana yang merefleksikan karakter yang diperankannya. Pada pemutaran The Odyssey, yang diadaptasi dari wiracarita Homeros, Zendaya tampil dalam balutan gaun putih panjang karya Jacquemus dan sandal Christian Louboutin yang membangkitkan nuansa dewi Yunani. Namun, sorotan publik justru bergeser ke aksesori telinganya.
Keputusan mengenakan anting kontroversial ini terjadi di tengah ekspektasi tinggi terhadap film arahan Christopher Nolan yang mulai diputar di bioskop pada Juli 2025. The Odyssey, dengan anggaran produksi lebih dari $200 juta, menampilkan Zendaya sebagai salah satu karakter sentral. Promosi besar-besaran yang dilakukan studio Warner Bros. Pictures turut menjamin setiap penampilan sang aktris menjadi sorotan media internasional.
Detail Artefak dan Proses Kreatif di Balik Anting
Anting yang memicu polemik merupakan bagian dari koleksi Ziwiye Hoard, serangkaian artefak yang diyakini berasal dari wilayah Sakiz, Provinsi Kurdistan Iran, dan diperkirakan diciptakan antara abad ke-7 hingga awal milenium pertama Sebelum Masehi. Medali emas berbentuk cakram bergambar motif hewan yang dikenakan Zendaya memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, karena merepresentasikan seni dan kepercayaan peradaban kuno di dataran tinggi Iran.
Perhiasan itu diproses oleh perancang perhiasan kenamaan London, Glenn Spiro, melalui teknik claw setting. Metode ini memungkinkan medali kuno dipasang pada rangka logam mulia tanpa pengeboran atau modifikasi permanen yang dapat merusak struktur asli artefak. Setelah dikerjakan ulang, anting tersebut menjadi bagian dari koleksi Barron London, rumah perhiasan yang memang fokus mengkurasi benda bersejarah menjadi aksesori modern.
Sayangnya, transparansi tentang asal-usul dan kepemilikan sah artefak ini menjadi sorotan. Negara Iran memiliki undang-undang ketat tentang perlindungan warisan budaya sejak 1930, yang melarang ekspor artefak tanpa izin pemerintah. Meskipun pihak rumah lelang atau pedagang biasanya mengklaim perolehan dilakukan sebelum regulasi tersebut berlaku, ketiadaan dokumentasi yang lengkap kerap memunculkan dugaan perpindahan ilegal.
Kritik dari Komunitas Arkeologi dan Reaksi Publik
Tidak butuh waktu lama setelah foto Zendaya beredar di media sosial, tagar seperti #CulturalHeritageFirst dan #ArtifactNotAccessory mulai ramai diperbincangkan. Profesor Daryoosh Akbarzadeh, arkeolog senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang khusus meneliti jalur perdagangan artefak Asia Barat, menyatakan keprihatinannya.
"Mengenakan artefak berusia 3.000 tahun di karpet merah adalah bentuk komodifikasi benda cagar budaya. Hal ini dapat mengirimkan pesan keliru bahwa benda-benda ini adalah barang konsumsi yang bisa dimiliki siapa saja,"tegasnya dalam wawancara telepon, Selasa (8/7).
Senada dengan itu, Dr. Elizabeth Forte, kurator senior di Museum Arkeologi Nasional di Roma, dalam unggahan di laman media sosialnya menilai tindakan tersebut sebagai "fashion over heritage". Ia menegaskan bahwa artefak semacam Ziwiye Hoard seharusnya dipelajari dalam konteks arkeologis, bukan dipajang di leher atau telinga selebritas. "Ini soal menghormati warisan sebuah bangsa," tulisnya.
Sementara itu, pihak Zendaya melalui juru bicaranya, yang dihubungi terpisah, menyatakan bahwa aktris tersebut tidak memiliki niat untuk meremehkan nilai sejarah.
"Zendaya menghormati semua budaya. Anting tersebut dipinjamkan oleh rumah perhiasan yang telah mengonfirmasi keaslian dan kepemilikan sahnya. Kami menyesalkan kontroversi yang terjadi,"ujar juru bicara itu tanpa menyebut detail dokumen kepemilikan.
Perdebatan Hukum dan Masa Depan Artefak di Dunia Mode
Kasus ini bukanlah yang pertama kali menyeret nama besar di Hollywood ke ranah kontroversi artefak. Pada 2018, aktris Gal Gadot sempat menuai protes atas penggunaan perhiasan bertatahkan batu permata dari wilayah pendudukan. Namun, kasus Zendaya membuka kembali luka lama tentang maraknya perdagangan barang antik ilegal, terutama dari kawasan Timur Tengah yang rawan konflik.
Menanggapi hal ini, Yayasan Warisan Budaya Iran melalui pernyataan resminya menuntut investigasi terhadap rantai kepemilikan medali emas tersebut.
"Kami mendesak pemerintah Iran dan pihak terkait untuk menelusuri asal medali itu. Apabila terbukti diekspor secara ilegal, kami menuntut pengembalian segera sebagai bagian dari warisan nasional kami,"demikian isi pernyataan yang diterbitkan di Teheran, Rabu (9/7).
Polemik ini juga menyoroti praktik rumah mode dan rumah perhiasan yang kerap memanfaatkan artefak kuno untuk menambah nilai eksklusif produk. Beberapa pemerhati etika bisnis mode menyarankan adanya kode etik internasional yang melarang penggunaan benda bersejarah tanpa persetujuan negara asal. Hingga berita ini diturunkan, baik Glenn Spiro maupun Barron London belum memberikan tanggapan resmi atas pertanyaan yang dilayangkan media.
Comments (0)