YOGYAKARTA — Kota Yogyakarta kembali mencatatkan lonjakan jumlah kunjungan wisatawan yang signifikan pada musim liburan kali ini. Namun, terdapat fenomena menarik terkait kebiasaan belanja para pelancong yang berlibur ke Kota Pelajar tersebut. Jika selama ini buah tangan identik dengan penganan populer seperti bakpia dan gudeg, kini para pelancong mulai masif memburu oleh-oleh khas Jogja yang antimainstream demi mendapatkan pengalaman kuliner serta cenderamata yang lebih autentik, unik, dan berkesan.
Pergeseran Tren Belanja Wisatawan di Yogyakarta
Berdasarkan data pantauan di sejumlah pusat kerajinan dan sentra Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), transaksi penjualan produk-produk lokal non-mainstream mengalami kenaikan hingga 35 persen dibanding periode tahun sebelumnya. Pergeseran tren ini didorong oleh keinginan wisatawan generasi muda yang mencari nilai keunikan cerita (storytelling) serta cita rasa khas daerah yang jarang ditemukan di kota-kota lain.
"Wisatawan masa kini tidak lagi sekadar mencari produk yang sudah pasaran. Mereka secara aktif mencari identitas lokal yang unik, memiliki nilai estetika tinggi, dan sangat menarik untuk dibagikan ke media sosial maupun dibawa pulang sebagai buah tangan eksklusif," ujar perwakilan Dinas Pariwisata DIY saat memberikan keterangan di Yogyakarta.
Daftar 10 Oleh-Oleh Khas Antimainstream Pilihan Pelancong
Bagi Anda yang sedang merencanakan agenda liburan ke Daerah Istimewa Yogyakarta, berikut adalah deretan sepuluh rekomendasi produk lokal unik yang saat ini menjadi favorit baru para pelancong:
- Cokelat Monggo: Pelopor olahan cokelat berkualitas premium khas Nusantara yang diproduksi langsung di kawasan Kotagede dengan memadukan biji cokelat lokal dan racikan rempah khas Indonesia.
- Kipo Kotagede: Kue tradisional legendaris berukuran kecil berbahan dasar tepung ketan dengan isian unti kelapa manis yang dimasak secara tradisional dengan cara dipanggang di atas cobek tanah liat.
- Yangko Kuno: Penganan manis bertekstur kenyal khas Yogyakarta yang terbuat dari ketan dan kini hadir dengan berbagai inovasi rasa modern seperti matcha, keju, dan cokelat.
- Walang Goreng Gunungkidul: Kuliner ekstrem khas kawasan pesisir selatan berupa belalang goreng renyah bergizi tinggi yang disajikan dengan varian rasa gurih, pedas manis, dan original.
- Salak Pondoh Turi: Buah segar dengan rasa manis renyah khas lereng Gunung Merapi yang dapat dipetik langsung oleh wisatawan di kawasan agrowisata Sleman.
- Pia Kukus Modern: Inovasi penganan modern berbahan dasar kue kukus bermakstur sangat lembut dengan isian lelehan cokelat, keju, maupun kacang hijau yang melimpah.
- Geplak Warna-Warni Bantul: Makanan manis tradisional dari olahan parutan kelapa dan gula pasir yang dibentuk bulat menarik dengan beragam warna cerah khas Kabupaten Bantul.
- Tiwul dan Gatot Instan: Makanan olahan berbasis singkong tradisional khas Gunungkidul yang kini dikemas secara higienis dan praktis sehingga siap diseduh kapan saja.
- Kopi Merapi Bubuk: Biji kopi pilihan yang ditanam langsung di tanah vulkanik lereng Gunung Merapi, menghasilkan cita rasa serta aroma sangrai khas yang sangat kuat.
- Batik Kayu Kebonagung: Cenderamata non-kuliner berupa topeng, patung, dan perlengkapan rumah tangga berbahan kayu yang dilukis indah menggunakan motif batik halus khas Imogiri.
Penguatan Ekonomi UMKM dan Imbauan Kualitas Produk
Maraknya minat wisatawan terhadap oleh-oleh alternatif ini disambut hangat oleh para pelaku usaha lokal. Pemerintah Daerah DIY terus memberikan pendampingan terkait standardisasi kemasan, sertifikasi halal, dan higienitas produk agar UMKM daerah mampu bersaing di pasar nasional. Penjualan produk kreatif ini terbukti mendongkrak omzet pengrajin lokal hingga mencapai angka Rp 500 juta per bulan di sentra-sentra UMKM terpadu.
Para wisatawan tetap diimbau untuk teliti dalam memeriksa tanggal kedaluwarsa serta keaslian produk saat membeli cenderamata, terutama penganan basah yang memiliki masa simpan terbatas, guna menjaga kenyamanan dan keamanan selama perjalanan kembali ke kota asal.
Comments (0)