Wisatawan Asing Jadi Sasaran Jambret di Kawasan Kota Tua Jakarta

Keindahan arsitektur kolonial di kawasan Kota Tua, Jakarta, mendadak terusik oleh aksi kriminalitas yang menyasar wisatawan asing. Seorang turis mancanegar

Wisatawan Asing Jadi Sasaran Jambret di Kawasan Kota Tua Jakarta

Keindahan arsitektur kolonial di kawasan Kota Tua, Jakarta, mendadak terusik oleh aksi kriminalitas yang menyasar wisatawan asing. Seorang turis mancanegara menjadi korban penjambretan saat sedang asyik mengabadikan momen di depan Museum Fatahillah. Pelaku yang mengendarai sepeda motor langsung merampas ponsel milik korban dan melarikan diri ke arah Stasiun Jakarta Kota. Insiden ini menyulut kembali perbincangan soal keamanan di destinasi wisata unggulan Ibu Kota.

Kronologi Kejadian

Peristiwa terjadi pada Minggu siang (4/5) saat kawasan dipadati pengunjung. Korban, seorang warga negara Australia berusia 28 tahun yang enggan disebut namanya, tengah merekam video panorama dengan ponsel iPhone 15 Pro Max. "Saya tidak menyadari ada motor mendekat dari belakang, tiba-tiba tangan saya terkena sentakan dan ponsel hilang. Semua terjadi dalam hitungan detik," tuturnya kepada petugas keamanan setempat.

Rekaman CCTV yang beredar menunjukkan dua orang berboncengan dengan pelat nomor yang sengaja ditutupi. Polisi telah mengidentifikasi jenis motor yang digunakan, yakni Honda Beat Street warna hitam, dan saat ini sedang melakukan pengejaran berbasis data kepemilikan kendaraan di wilayah Jakarta Utara.

Kerentanan Destinasi Ikonik

Kota Tua bukanlah destinasi sembarangan. Kawasan ini menyumbang 22% dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Jakarta sepanjang triwulan pertama 2025, berdasarkan data Dinas Pariwisata DKI. Namun, pesatnya kunjungan tidak diimbangi dengan pengamanan yang memadai. Titik-titik rawan seperti area parkir barat, jalur pedestrian sisi Kali Besar, dan pintu keluar Museum Bank Indonesia kerap dijadikan lokasi operasi para pelaku.

"Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Korban sudah kami dampingi untuk membuat laporan polisi dan menghubungi kedutaan besarnya. Ke depan, kami akan menambah personel keamanan berpakaian preman di sekitar titik rawan," ujar Kepala Satpol PP Jakarta Barat, Andi Mulya, dalam keterangan resminya.

Modus Operandi yang Semakin Berani

Aksi kriminal di kawasan wisata bukan hal baru, namun modusnya kian nekat. Para pelaku kini tidak hanya menyasar pejalan kaki yang lengah, tetapi juga pengunjung yang sedang duduk di kafe outdoor dan mereka yang sedang melakukan panggilan video. Polisi mencatat peningkatan 15% kasus penjambretan di zona wisata sepanjang Januari–April 2025 dibanding periode sama tahun lalu. Dari 67 kasus, 11 di antaranya melibatkan korban warga negara asing.

Psikolog kriminal, Reza Indragiri, menilai fenomena ini dipicu oleh persepsi pelaku bahwa wisatawan asing adalah target impunitas—dianggap enggan melapor karena keterbatasan bahasa dan waktu singkat di Indonesia. "Ini adalah kejahatan terstruktur yang memanfaatkan celah kelembagaan. Perlu ada unit reaksi cepat khusus wisatawan," sarannya.

Respons Pemerintah dan Pelaku Usaha

Menanggapi insiden ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggelar rapat darurat antara Dinas Pariwisata, Kepolisian Resor Metro Jakarta Barat, dan pengelola kawasan Kota Tua. Beberapa langkah segera disepakati:

  • Penambahan 40 kamera pengawas berfitur facial recognition di seluruh zona wisata inti;
  • Pembentukan unit patroli sepeda yang secara khusus berjaga pada jam padat kunjungan (09.00–17.00);
  • Pemasangan papan peringatan multibahasa tentang kewaspadaan terhadap barang berharga;
  • Percepatan rencana penerapan tiket elektronik terintegrasi dengan data pengunjung untuk memudahkan identifikasi.

Di sisi lain, Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) berharap penanganan tidak hanya bersifat reaktif. "Citra keamanan adalah segalanya. Sekali viral, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kepercayaan wisatawan. Kami mendorong agar ada kebijakan one-stop service bagi korban kejahatan wisatawan," tegas Ketua GIPI DKI, Didi Hardian.

Dampak pada Daya Saing Pariwisata Jakarta

Insiden ini berpotensi memperlebar jarak antara Jakarta dan kota-kota tetangga seperti Bangkok dan Kuala Lumpur dalam hal safety index versi World Travel & Tourism Council. Saat ini, Jakarta masih berada di peringkat 47 dari 60 kota global dalam indeks keamanan wisatawan. Kejadian berulang bisa menurunkan minat kunjungan, terutama dari segmen wisatawan premium yang sangat sensitif terhadap keamanan.

Namun, ada secercah harapan. Komunitas pemandu wisata setempat berinisiatif membentuk “Sahabat Wisatawan”, jaringan relawan yang memonitor kawasan dan memberikan pendampingan kepada turis asing. Program ini sudah berhasil menggagalkan dua upaya penjambretan dalam dua pekan terakhir.

Kisah jambret di Kota Tua harus menjadi titik balik bagi seluruh pemangku kepentingan. Bukan hanya soal menangkap pelaku, tetapi membangun ekosistem wisata yang aman, ramah, dan berkelanjutan. Karena setiap ponsel yang dirampas, sesungguhnya secuil citra bangsa yang ikut tercabik.

[SOCIAL_TWEET]: Turis asing dijambret saat video di Kota Tua Jakarta. Modus makin nekat di tengah ramai pengunjung. Mampukah pemerintah pulihkan citra keamanan destinasi ikonik ini? #KotaTua #WisatawanAman #JakartaTourism[SOCIAL_TG]: 🚨 Wisatawan Asing Jadi Korban Jambret di Kota Tua! Insiden siang bolong di depan Museum Fatahillah terekam CCTV. Polisi buru pelaku, Pemprov siapkan langkah darurat. Jangan lengah saat liburan! ⚠️

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User