Warga Grogol Selatan Dilatih Olah Sampah Organik Jadi Kompos

Ratusan warga Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengikuti pelatihan pembuatan komposter pada Sabtu (15/06) pagi. Program pelatihan yang digagas oleh Suku Dinas Lingk...

Warga Grogol Selatan Dilatih Olah Sampah Organik Jadi Kompos

Ratusan warga Kelurahan Grogol Selatan, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, mengikuti pelatihan pembuatan komposter pada Sabtu (15/06) pagi. Program pelatihan yang digagas oleh Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan bersama pengurus Rukun Warga setempat ini bertujuan mengubah sampah rumah tangga organik menjadi pupuk kompos bernilai ekonomi. Kegiatan yang berlangsung di aula serbaguna RW 008 tersebut dihadiri oleh 127 peserta dari 12 rukun tetangga, menandai partisipasi massif warga dalam pengelolaan limbah domestik.

Kepala Seksi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Sudin LH Jakarta Selatan, Andina Kusumawati, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari strategi besar pengurangan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang. “Menindaklanjuti Peraturan Gubernur Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup RW, kami menargetkan setiap rumah tangga mampu mengolah 60 persen sampah organiknya sendiri,” ujarnya saat membuka acara.

Metode Komposter Mudah dan Murah

Pelatihan yang berlangsung selama empat jam itu menitikberatkan pada teknik pembuatan komposter menggunakan ember bekas kapasitas 25 liter yang dimodifikasi dengan sistem aerasi sederhana. Instruktur dari Komunitas Hijau Jakarta, Dedi Hermawan, menjelaskan tahapan pembuatan mulai dari pengeboran lubang aerasi, pemasangan kran penampung lindi, hingga pencampuran sampah hijau dan cokelat. “Setiap ember komposter hanya membutuhkan biaya produksi sekitar Rp45.000 namun bisa menghasilkan 5 kilogram kompos matang setiap 30 hari,” jelasnya sambil mendemonstrasikan proses pengisian sampah sayuran dan daun kering.

Warga tampak antusias mempraktikkan langsung teknik yang diajarkan. Setiap peserta menerima satu set peralatan komposter yang sudah disediakan panitia, terdiri dari dua ember bertingkat, bor tangan mini, dan starter mikroorganisme pengurai. Dalam sesi praktik, para peserta memasukkan 3 kilogram sampah organik yang sudah dicacah dan dicampur serbuk gergaji sesuai rasio 2:1 yang ditetapkan instruktur.

“Pelatihan ini sangat membantu kami memahami bahwa sampah dapur yang selama ini dibuang sia-sia ternyata bisa menjadi berkah,” kata Siti Rahayu, warga RT 005/RW 008 yang turut hadir.

Dukungan Anggaran dan Keberlanjutan

Camat Kebayoran Lama, Herlina Pratiwi, dalam sambutannya menyatakan bahwa program ini akan direplikasi di enam kelurahan lainnya di wilayah kecamatannya. “Berdasarkan hasil Rapat Koordinasi Kecamatan pada 5 Juni lalu, kami telah mengalokasikan dana sebesar Rp112 juta dari APBD 2024 untuk pengadaan 2.500 unit komposter rumah tangga,” ungkap Herlina. Dana tersebut, lanjutnya, akan disalurkan melalui mekanisme bantuan sosial kepada kelompok swadaya masyarakat yang sudah terbentuk di masing-masing RW.

Pelatihan ini juga disinergikan dengan program Kampung Iklim yang sedang digencarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Perwakilan KLHK yang hadir, Analis Ketahanan Iklim Muda, Bimo Nugroho, menekankan bahwa pengurangan emisi gas metana dari tumpukan sampah organik di TPA dapat dicapai melalui pengomposan skala rumah tangga. “Setiap ton sampah organik yang dikomposkan dapat mengurangi emisi setara 0,8 ton karbon dioksida,” tegasnya.

Respon dan Harapan Masyarakat

Ketua RW 008, Sutarno, mengungkapkan bahwa selama ini warga kesulitan mengangkut sampah ke TPS karena medan jalan yang sempit. “Dengan komposter ini, volume sampah yang harus diangkut berkurang hingga 40 persen per bulan. Kami sangat berterima kasih atas inisiatif ini,” katanya. Sutarno juga menambahkan bahwa telah dibentuk tim monitoring yang akan memantau keberlangsungan praktik pengomposan di 12 RT secara berkala setiap minggu.

Kegiatan pelatihan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama antara pihak kelurahan, kecamatan, dan perwakilan warga untuk mencapai target pengurangan sampah organik sebesar 50 persen dalam enam bulan ke depan. Sebanyak 78 peserta mendaftarkan diri secara sukarela untuk menjadi kader lingkungan yang akan melatih tetangga di lingkungan masing-masing. Acara berakhir pada pukul 13.30 WIB dengan pembagian sertifikat dan paket starter komposter.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User