Wajah Trump Dicekik di Papan Reklame Pusat Tehran

Teheran — Pemerintah Iran memasang papan reklame digital raksasa yang menampilkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kondisi tercekik di sepanjang Jalan Jomhouri, kawasan pusat ibu ko...

Wajah Trump Dicekik di Papan Reklame Pusat Tehran

Teheran — Pemerintah Iran memasang papan reklame digital raksasa yang menampilkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kondisi tercekik di sepanjang Jalan Jomhouri, kawasan pusat ibu kota Tehran, pada Senin (27/7/2026). Reklame tersebut memampangkan gambar Trump dengan ekspresi tertekan, sementara beberapa tangan mencengkeram erat lehernya, disertai teks berbahasa Persia dan Inggris yang bertuliskan "Balas dendam tidak bisa dihindari."

Pemasangan reklame ini menjadi manuver propaganda paling konfrontatif yang dilancarkan Teheran terhadap pemimpin Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir. Lokasi strategis di Jalan Jomhouri—salah satu arteri tersibuk di pusat bisnis dan pemerintahan—memastikan pesan tersebut disaksikan oleh ribuan warga dan diplomat asing setiap hari. Sejumlah saksi mata melaporkan bahwa papan berukuran sekitar 8 x 12 meter itu mulai menayangkan gambar kontroversial tersebut sejak dini hari dan tetap menyala hingga larut malam, bergantian dengan pesan-pesan lain yang bernada serupa.

Eskalasi Teater Propaganda Visual

Langkah ini bukanlah insiden pertama. Sejak hubungan diplomatik kedua negara kembali memburuk drastis pasca-kegagalan perundingan nuklir Wina 2025, otoritas Teheran memang semakin agresif menggunakan media luar ruang sebagai instrumen perang psikologis. Pada Maret 2026, misalnya, sebuah mural besar yang menggambarkan kapal induk AS terbakar sempat dipasang di Jembatan Tabiat. Kini, dengan target langsung kepada Presiden Trump, pesan yang disampaikan jauh lebih personal dan berani.

Sejumlah analis menilai eskalasi visual ini berbanding lurus dengan kebuntuan diplomasi dan meningkatnya tekanan ekonomi akibat sanksi baru Amerika Serikat. Pemerintahan Trump, melalui Executive Order 14120 yang diteken pada 15 April 2026, memperluas embargo terhadap ekspor minyak mentah Iran dan menjatuhkan sanksi kepada 14 entitas yang diduga terlibat dalam program rudal balistik. Teheran merespons dengan meningkatkan level pengayaan uranium hingga 84 persen serta membatasi akses inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

"Papan reklame ini hanyalah cerminan kemarahan kolektif rakyat Iran atas kebijakan permusuhan Washington. Kami tidak akan tinggal diam," ujar seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Iran yang enggan disebutkan namanya saat dimintai konfirmasi.

Pesan Keras di Tengah Ketegangan Militer

Pemasangan reklame ini terjadi hanya berselang tiga hari setelah insiden saling usir diplomat di New York dan Tehran. Iran menyatakan persona non grata terhadap Kuasa Usaha AS pada 24 Juli 2026, sehari setelah Washington melakukan hal serupa terhadap dua diplomat Iran. Kondisi ini diperparah oleh pengerahan kapal induk USS Gerald R. Ford ke Teluk Persia pada awal Juli yang diinterpretasikan Teheran sebagai ancaman langsung.

Media pemerintah Iran, IRNA, tidak secara eksplisit mengomentari reklame tersebut, namun dalam editorial hariannya menulis bahwa "era kesabaran strategis telah berakhir." Sementara itu, sejumlah tokoh konservatif di Parlemen Iran justru menyambut baik langkah tersebut. Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen, Dr. Mahmoud Nabavian, dalam wawancara dengan televisi nasional menyatakan hal ini bagian dari "perlawanan budaya yang sah."

"Musuh harus memahami bahwa tangan-tangan yang dulu menekan leher ekonomi kami, kini akan merasakan balasan yang setimpal. Bukan hanya secara militer, tapi juga dalam ingatan kolektif bangsa," kata Nabavian.

Namun, LSM hak asasi manusia yang berbasis di luar Iran, Amnesty International, mengkritik pemasangan reklame tersebut sebagai bentuk provokasi yang tidak membantu proses de-eskalasi. "Alih-alih meredakan tensi, langkah semacam ini hanya menambah daftar panjang retorika yang berpotensi memicu konfrontasi terbuka," demikian pernyataan tertulis mereka yang diterbitkan pada Selasa (28/7/2026).

Reaksi Publik dan Implikasi Diplomatik

Di dalam negeri, respons publik terbelah. Warga Tehran yang melintas menunjukkan reaksi beragam—sebagian mengacungkan jempol tanda setuju, sebagian lain menggelengkan kepala dan memilih tidak berkomentar. Seorang mahasiswa Universitas Tehran yang sedang melintas, Reza (23), mengaku pesan tersebut terlalu provokatif. "Saya khawatir ini hanya akan membuat posisi kami semakin sulit di mata dunia," ujarnya singkat.

Dari Washington, belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih ataupun Departemen Luar Negeri AS hingga berita ini diturunkan. Namun, seorang pejabat Pentagon yang berbicara secara latar belakang menyatakan pihaknya memandang langkah Tehran sebagai "propaganda murahan yang tidak akan mengubah postur pertahanan AS di kawasan." Komando Pusat AS (CENTCOM) juga tidak mengeluarkan perubahan status alert meskipun memantau dengan saksama.

Sejak era Revolusi Islam 1979, Iran memang dikenal terampil memanfaatkan simbolisme dan media visual untuk mengartikulasikan doktrin anti-Amerikanismenya. Dari mural-mural bertema kematian bagi Amerika hingga patung-patung simbolis, Teheran terus memelihara narasi perlawanan. Namun, menjadikan pemimpin negara adidaya sebagai subjek ancaman langsung dalam bentuk visual sevulgar ini menandai babak baru dalam sejarah panjang ketegangan kedua negara. Diplomat senior yang bertugas di kawasan menilai bahwa retorika semacam ini mempersempit ruang dialog yang sudah sangat terbatas, sekaligus mengonsolidasikan dukungan domestik di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User