Veddriq Leonardo Juara World Climbing Series Chamonix 2026
Atlet panjat tebing andalan Indonesia, Veddriq Leonardo, memastikan diri meraih medali emas pada ajang World Climbing Series 2026 di Chamonix, Prancis, Selasa (15/7/2026). Pada laga puncak nomor speed...
Atlet panjat tebing andalan Indonesia, Veddriq Leonardo, memastikan diri meraih medali emas pada ajang World Climbing Series 2026 di Chamonix, Prancis, Selasa (15/7/2026). Pada laga puncak nomor speed putra, Veddriq mengungguli rekan satu tim nasional, Antasyafi Robby Al Hilmi, dengan catatan waktu 5,08 detik—selisih 0,15 detik dari Antasyafi yang membukukan 5,23 detik. Kemenangan ini menjadi emas kedua Veddriq di rangkaian seri dunia musim ini setelah sebelumnya ia juga merebut tempat tertinggi di Salt Lake City, Amerika Serikat, pada Mei lalu.
Hasil tersebut kian menegaskan dominasi Indonesia di nomor speed putra. Dalam klasemen sementara World Climbing Series 2026, Veddriq kini memuncaki dengan keunggulan poin yang signifikan, diikuti Antasyafi di posisi ketiga. “Ini adalah bukti nyata bahwa pembinaan atlet panjat tebing nasional berjalan sangat efektif,” ujar Yenny Wahid, Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (16/7/2026).
Jalan Menuju Final: Dominasi Indonesia sejak Kualifikasi
Perjalanan Veddriq menuju podium tertinggi tidaklah mudah. Pada babak kualifikasi yang digelar sehari sebelumnya, ia mencatat waktu 5,12 detik dan menempati posisi kedua, sementara Antasyafi menjadi yang tercepat dengan 5,09 detik. Namun, di fase gugur, Veddriq tampil lebih konsisten. Di perempat final, ia menyingkirkan atlet tuan rumah, Paul Girard, dengan selisih waktu sangat tipis, lalu di semifinal menumbangkan wakil Tiongkok, Li Junhao, yang mencatat waktu 5,17 detik.
Di jalur berbeda, Antasyafi juga melaju mulus setelah mengalahkan atlet Jepang, Ryota Takano, di perempat final dan unggul atas atlet Italia, Marco Battaglia, di semifinal. Konfigurasi final sesama Indonesia ini merupakan yang pertama kali terjadi di seri World Climbing Series sejak nomor speed diperlombakan secara terpisah pada tahun 2018. “Saya bangga bisa bertanding melawan Antasyafi di final. Ini menunjukkan latihan kami di pelatnas berjalan seimbang,” kata Veddriq usai pertandingan.
Respons FPTI dan Faktor Penentu Kemenangan
FPTI merespons capaian ini sebagai buah dari kebijakan regenerasi dan program latihan terpadu yang digulirkan sejak awal tahun 2023. Rapat Koordinasi Tim Nasional Panjat Tebing yang dipimpin pelatih kepala Hendra Basir pada Maret 2026 lalu, menurut Yenny Wahid, menghasilkan sejumlah penyesuaian teknis yang berdampak langsung pada performa atlet. “Kami memutuskan untuk menambah porsi latihan reaction time dan memperkuat aspek psikologis atlet. Hasilnya, Veddriq dan Antasyafi mampu merespons beep start dengan sangat cepat dan menjaga ketenangan di momen krusial,” jelasnya.
Hendra Basir sendiri menyoroti konsistensi Veddriq. “Veddriq mampu menjaga tempo sejak start hingga finish. Kesalahannya sangat minim. Di final, ia hanya kehilangan 0,02 detik pada transisi pegangan ketiga, tetapi langsung memperbaikinya di langkah berikutnya,” tuturnya. Sementara itu, Antasyafi dinilai terlalu agresif di awal lintasan sehingga kehilangan momentum di dua meter terakhir.
Implikasi bagi Kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028
World Climbing Series 2026 merupakan salah satu jalur pengumpulan poin kualifikasi menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Dengan tambahan 100 poin dari kemenangan di Chamonix, Veddriq kini mengoleksi total 480 poin sekaligus menempatkannya di posisi terdepan peringkat kualifikasi zona Asia. Antasyafi yang mengantongi 80 poin sebagai runner-up, kini menempati peringkat keempat dengan total 340 poin. Berdasarkan aturan International Federation of Sport Climbing (IFSC) yang disahkan pada Kongres IFSC 2025 di Bangkok, kuota Olimpiade diberikan kepada atlet dengan akumulasi poin tertinggi di setiap zona kontinental.
Keputusan IFSC tersebut mendorong FPTI untuk segera menindaklanjuti capaian ini dengan menggelar Rapat Pleno Pengurus Pusat pada pekan depan. Yenny Wahid menyatakan, pihaknya akan membahas pengiriman tim ke tiga seri tersisa musim ini: Munich, Seoul, dan Innsbruck. “Kita ingin memastikan tidak hanya Veddriq yang lolos, tetapi juga Antasyafi dan mungkin satu atlet putri kita. Oleh karena itu, dukungan dari Kemenpora dan Komite Olimpiade Indonesia sangat kami harapkan,” ujarnya.
Respons Kemenpora dan Target Jangka Panjang
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyambut baik hasil di Chamonix. Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga Bidang Peningkatan Prestasi, Deni Prasetyo, mengatakan bahwa panjat tebing merupakan salah satu dari 14 cabang olahraga prioritas yang tercantum dalam Keputusan Menteri Pemuda dan Olahraga Nomor 12 Tahun 2025 tentang Cabang Olahraga Unggulan Olimpiade 2028. “Kami telah mengalokasikan anggaran tambahan sebesar Rp 18,5 miliar untuk tahun anggaran 2026 ini, khusus mendukung program latihan jangka panjang dan partisipasi di kejuaraan dunia,” katanya di Jakarta.
Veddriq dan Antasyafi dijadwalkan kembali ke Tanah Air pada Jumat (18/7/2026) sebelum melanjutkan pemusatan latihan di Yogyakarta. FPTI menargetkan minimal dua tiket Olimpiade Los Angeles dari nomor speed. Dominasi yang diperlihatkan di Chamonix memberikan kepercayaan diri tinggi bahwa target tersebut realistis. “Kami tidak hanya bicara soal emas hari ini, tetapi bagaimana menjaga tradisi juara ini tetap berlanjut,” tegas Hendra Basir.
Malam penganugerahan medali di Alun-Alun Chamonix disaksikan ratusan pendukung yang memberikan aplaus meriah untuk dua atlet Indonesia yang berdiri berdampingan di podium—sebuah pemandangan yang mempertegas kebangkitan panjat tebing Indonesia di pentas dunia.
Baca juga:
Comments (0)