UMN Gelar Program Keberlanjutan bagi 140 Mahasiswa Global

Tangerang, 11 Juni 2026 – Universitas Multimedia Nusantara (UMN) secara resmi memulai Sustainability Immersion Program (SIP) 2026 pada hari Kamis, 11 Juni 2026. Program yang berlangsung selama 14 ha...

UMN Gelar Program Keberlanjutan bagi 140 Mahasiswa Global

Tangerang, 11 Juni 2026 – Universitas Multimedia Nusantara (UMN) secara resmi memulai Sustainability Immersion Program (SIP) 2026 pada hari Kamis, 11 Juni 2026. Program yang berlangsung selama 14 hari ini diikuti oleh 140 mahasiswa pilihan dari 13 negara berbeda, menandai partisipasi internasional terbesar dalam sejarah institusi tersebut.

Desain Program dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Program ini dirancang sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan solusi ramah lingkungan. SIP 2026 mengintegrasikan empat pilar utama: konservasi sumber daya alam, ekonomi sirkular, inovasi energi terbarukan, dan pemberdayaan masyarakat. Peserta akan dibekali dengan pengetahuan multidisiplin melalui pendekatan hybrid, menggabungkan kuliah tatap muka dan ekspedisi lapangan.

Rektor UMN, Prof. Dr. Andi Taufik, M.Sc., dalam pidatonya menyatakan bahwa program ini adalah tonggak penting bagi universitas.

"Kami tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membangun kesadaran kolektif bahwa masa depan bumi adalah tanggung jawab bersama. Melalui SIP, kami ingin mencetak agen perubahan yang mampu menerapkan prinsip keberlanjutan di komunitasnya masing-masing,"
tegas Prof. Andi.

Peserta dari 13 Negara: Sebuah Mozaik Global

Para mahasiswa berasal dari berbagai belahan dunia, meliputi Malaysia, Filipina, India, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Brasil, Afrika Selatan, Kenya, Australia, dan Selandia Baru. Mereka diseleksi secara ketat berdasarkan rekam jejak akademik dan esai tentang komitmen lingkungan.

"Keragaman latar belakang ini menjadi kekuatan kami. Setiap partisipan membawa perspektif unik yang akan memperkaya diskusi dan solusi yang dihasilkan,"
ujar Dr. Meilany, Ketua Panitia SIP 2026, saat ditemui di sela acara.

Selain sesi kelas, peserta akan terlibat dalam proyek kelompok yang menangani kasus nyata, seperti pengelolaan sampah di Jakarta dan restorasi mangrove di pesisir Banten. Output konkret berupa makalah kebijakan dan purwarupa solusi dijadwalkan dipresentasikan pada akhir program, 24 Juni 2026.

Rangkaian Kegiatan dan Kemitraan Strategis

Agenda padat telah disusun, mencakup 15 sesi lokakarya, 5 kunjungan industri ke perusahaan penerima PROPER Emas, serta 3 diskusi panel dengan pembicara dari UNDP Indonesia, WWF, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pada hari pertama, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Dr. Arief Wibowo, memberikan kuliah umum bertajuk "Peran Generasi Muda dalam Transisi Energi".

Kemitraan dengan sektor swasta juga diperkuat. PT Pertamina (Persero) dan PT Unilever Indonesia turut mendukung program ini melalui pendanaan riset dan beasiswa.

"Ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Kami bangga dapat memfasilitasi para pemimpin masa depan ini,"
ungkap Direktur Keberlanjutan PT Pertamina, dalam siaran pers yang diterima redaksi.

Testimoni Peserta dan Antusiasme Internasional

Salah satu peserta dari Jerman, Anna Müller, mengaku terkesan dengan pendekatan holistik yang ditawarkan.

"Di Eropa, kami banyak belajar teori, tetapi di sini saya melihat langsung dampak perubahan iklim di negara kepulauan. Pengalaman ini sangat berharga,"
ujarnya dalam sesi perkenalan. Sementara itu, Muhammad Farid dari Malaysia menekankan pentingnya solidaritas regional.
"Kita tidak bisa menyelesaikan polusi lintas batas sendiri-sendiri. Program seperti ini adalah jembatan emas untuk kolaborasi ASEAN,"
tuturnya.

Kantor Urusan Internasional UMN mencatat peningkatan 300% jumlah pendaftar untuk program serupa dibanding tahun lalu, menunjukkan minat global yang tinggi terhadap isu keberlanjutan.

"Lonjakan ini mengejutkan sekaligus membanggakan. Artinya, generasi muda semakin sadar bahwa pendidikan harus relevan dengan tantangan global,"
jelas Kepala Kantor Urusan Internasional, Dr. Rianto.

Dampak yang Diharapkan dan Tindak Lanjut

UMN menegaskan bahwa SIP bukan sekadar program seremonial. Lembaga ini menargetkan minimal 10 riset kolaboratif lahir dari jaringan alumni SIP, serta pembentukan komunitas pemuda peduli lingkungan di masing-masing negara partisipan.

"Kami akan memonitor perkembangan setiap peserta selama dua tahun ke depan melalui platform daring. Keberhasilan program diukur dari aksi nyata yang mereka lakukan di tanah airnya,"
tambah Prof. Andi Taufik.

Acara pembukaan dihadiri oleh perwakilan Kedutaan Besar negara peserta, pimpinan perguruan tinggi mitra, dan organisasi non-pemerintah. Suasana kolaboratif terlihat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UMN dengan tiga universitas asing, menandai ekspansi kerja sama akademik di bidang keberlanjutan.

Dengan komitmen finansial mencapai Rp 4,2 miliar yang berasal dari dana internal dan sponsor, UMN optimistis program ini akan menjadi model pendidikan lingkungan yang direplikasi oleh kampus lain.

"Ini langkah awal. Kami berencana menjadikan SIP sebagai agenda tahunan dengan skala yang lebih besar,"
pungkas Dr. Meilany.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User