Tangerang Selatan Tata Kampung Kota dan Perkuat Deteksi Dini TBC

Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengambil langkah terpadu dalam pembangunan wilayah sekaligus peningkatan kesehatan masyarakat. Dua program str

Jul 11, 2026 - 10:33
0 1
Tangerang Selatan Tata Kampung Kota dan Perkuat Deteksi Dini TBC

Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengambil langkah terpadu dalam pembangunan wilayah sekaligus peningkatan kesehatan masyarakat. Dua program strategis kini berjalan beriringan: penataan kawasan Kampung Kota di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, melalui pembangunan infrastruktur dasar, serta pendekatan kewilayahan untuk mendorong deteksi dini tuberkulosis (TBC). Langkah ini menandai pergeseran paradigma pembangunan daerah yang tidak hanya bertumpu pada fisik, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan preventif di tingkat akar rumput.

Di Keranggan, kawasan yang selama ini identik dengan permukiman padat dan infrastruktur minim, wajah kampung perlahan mulai berubah. Program penataan Kampung Kota hadir untuk mengurai masalah klasik perkotaan: jalan lingkungan tidak layak, drainase buruk yang memicu genangan air dan risiko penyakit, serta keterbatasan akses air bersih. Dengan mengedepankan konsep peremajaan tanpa penggusuran, Pemkot Tangsel membangun jalan beton di lorong-lorong sempit, memperbaiki saluran air, dan meningkatkan sistem sanitasi komunal. “Kami ingin warga di sini merasakan langsung manfaat pembangunan, bukan hanya sekadar fisik, tapi juga kenyamanan dan kesehatan lingkungan yang lebih baik,” ujar Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Tangsel, yang ditemui di sela peninjauan lapangan. Proyek ini menelan anggaran sekitar Rp8,3 miliar yang difokuskan pada pembangunan jalan lingkungan sepanjang 1,2 kilometer, saluran drainase 800 meter, serta dua titik instalasi air bersih. Targetnya, pada akhir tahun 2026 sebanyak 2.800 kepala keluarga di kawasan tersebut akan memiliki akses langsung ke infrastruktur dasar yang memadai.

Dari Infrastruktur ke Udara Sehat

Tak jauh dari lokasi proyek, Dinas Kesehatan Tangsel justru sibuk menggelar strategi berbeda namun saling terkait. Melalui pendekatan kewilayahan, masyarakat di tingkat RW dan RT didorong untuk lebih peka mengenali gejala awal TBC. Pendekatan ini memanfaatkan kader kesehatan lokal yang telah dilatih intensif, sehingga mereka mampu menjangkau setiap rumah, memantau warga bergejala, dan mengarahkan mereka ke puskesmas untuk pemeriksaan dahak dan rontgen. “Kami tidak bisa hanya menunggu pasien datang ke faskes. TBC itu ibarat fenomena gunung es, banyak yang belum terdeteksi. Dengan kader yang datang langsung ke rumah, kita bisa potong rantai penularan lebih awal,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel. Data Dinkes menunjukkan, pada tahun 2025 ditemukan 1.240 kasus TBC baru di Tangsel, dengan tingkat keberhasilan pengobatan mencapai 86 persen. Namun, tantangan sesungguhnya adalah menemukan kasus yang belum dilaporkan; estimasi missing cases mencapai hampir 40 persen dari total kasus yang ada. Oleh karena itu, kader di 54 kelurahan kini dibekali modul sederhana berisi gejala batuk berdahak lebih dari dua minggu, berkeringat malam, penurunan berat badan, dan sesak napas.

“Ketika kader kami menemukan warga dengan dua gejala utama, langsung ada rujukan cepat ke puskesmas tanpa biaya. Semuanya gratis, dari pemeriksaan sampai obat.”

Model kewilayahan ini juga mengikat para ketua RT dan RW dalam sistem laporan harian melalui grup WhatsApp yang terhubung langsung dengan puskesmas setempat. Bila ada laporan warga menolak diperiksa, tim pendamping dari dinas sosial akan turun untuk memberikan pemahaman dan menepis stigma negatif terhadap penyakit tersebut.

Sinergi Dua Program: Sehat Dimulai dari Lingkungan

Keberhasilan penanganan TBC tidak bisa dilepaskan dari kualitas lingkungan tempat tinggal. Rumah dengan ventilasi minim, lantai tanah, dan pencahayaan yang buruk menjadi tempat ideal bagi Mycobacterium tuberculosis untuk bertahan hidup. Inilah yang mendasari Pemkot Tangsel tidak memisahkan antara pembenahan fisik kampung dan pengendalian penyakit. Saat jalan diperkeras dan drainase diperbaiki, genangan air yang selama ini meningkatkan kelembaban pun surut. Ketika air bersih mengalir ke rumah-rumah, kebiasaan hidup bersih dan sehat semakin mudah diterapkan. Walikota Tangsel, dalam pernyataan resminya, menekankan bahwa kedua program ini sengaja diselaraskan di wilayah-wilayah dengan insiden TBC tinggi. “Di Keranggan, berdasarkan data kami, terdapat 58 kasus TBC dalam setahun terakhir. Itu sudah termasuk kategori sedang-tinggi untuk skala kelurahan. Maka, kami kombinasikan bedah kampung dengan skrining massal,” jelasnya. Sebanyak 30 kader kesehatan telah diterjunkan khusus di Kecamatan Setu untuk melakukan investigasi kontak pada lebih dari 400 rumah dalam tiga bulan pertama program. Hasil sementara, dari 250 warga yang diperiksa, ditemukan 17 orang suspek TBC dan 5 di antaranya telah memulai pengobatan.

Tidak berhenti di skrining, Dinkes juga menggandeng Dinas Pendidikan agar anak-anak di sekolah dasar sekitar Keranggan mendapatkan edukasi tentang batuk efektif dan pentingnya menutup mulut saat bersin. Sementara itu, untuk pasien yang menjalani pengobatan jangka panjang, dinas sosial memberikan bantuan makanan tambahan berupa susu dan telur setiap dua minggu untuk menjaga kepatuhan minum obat.

Warga merespons positif langkah ini. Salma, 43 tahun, warga RT 04, mengaku baru pertama kali mendapat kunjungan kader yang menjelaskan dengan sabar gejala TBC. “Saya kira batuk biasa karena debu bangunan yang lagi banyak, ternyata bisa jadi TBC. Sekarang suami saya sudah periksa dan alhamdulillah negatif, tapi jadi lebih waspada,” tuturnya. Di sisi lain, kemajuan fisik kampung juga mulai terasa. Jalan beton selebar 1,8 meter yang dulu hanya berupa tanah dan batu kerikil kini memudahkan anak-anak berangkat sekolah tanpa takut becek.

Menuju Kawasan Sehat Berkelanjutan

Ke depan, Pemkot Tangsel berencana mereplikasi model ini ke lima kelurahan lain yang memiliki karakteristik serupa: permukiman padat, insiden TBC tinggi, dan infrastruktur dasar yang masih butuh sentuhan. Evaluasi berkala akan dilakukan tiap tiga bulan untuk mengukur dampak pembangunan terhadap penurunan angka penularan TBC. Indikator keberhasilan yang digunakan antara lain penurunan jumlah kasus baru, peningkatan angka penemuan kasus aktif, dan persentase rumah sehat yang memenuhi standar ventilasi dan sanitasi. “Kami tidak mau proyek ini sekadar seremoni. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus bisa dihitung dampaknya bagi kualitas hidup warga,” tegas Kepala Bappeda Tangsel. Dengan langkah sinergis ini, diharapkan Kampung Kota di Keranggan tidak hanya berubah secara visual, tetapi juga menjadi kawasan yang warganya bebas dari ancaman tuberkulosis.

[SOCIAL_TWEET]: Pemkot Tangsel padukan pembangunan infrastruktur di Kampung Kota Keranggan dengan deteksi dini TBC berbasis kader. 17 suspek sudah ditemukan! #TangselSehat #BebasTBC #InfrastrukturRakyat[SOCIAL_TG]: 🏗️🚑 Di Keranggan, Tangsel, jalan mulus dan deteksi TBC berjalan seiring. 58 kasus setahun, kini warga diajak kenali gejala sejak dini. Semoga makin banyak kampung yang mengikuti! 💪

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User