Tak Cuma Pelototi CCTV, Dishub DKI Akan 'Omelin' Pelanggar di 6 Lamer Ini
Inovasi baru dalam pengawasan lalu lintas hadir di ibu kota. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta tidak lagi hanya mengandalkan kamera pemantau untuk mengawasi pelanggaran. Kini, mereka akan "meneg
Inovasi baru dalam pengawasan lalu lintas hadir di ibu kota. Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta tidak lagi hanya mengandalkan kamera pemantau untuk mengawasi pelanggaran. Kini, mereka akan "menegur" langsung para pengendara yang bandel melalui pengeras suara yang terpasang di enam lampu merah (lamer) strategis.
CCTV Jakarta Takeover, Edukasi Lewat Suara
Langkah ini merupakan bagian dari peluncuran program edukasi keselamatan berlalu lintas bertajuk CCTV Jakarta Takeover. Program tersebut memanfaatkan perangkat speaker yang telah terintegrasi di sejumlah simpang untuk menyampaikan imbauan secara langsung kepada pengguna jalan. Tidak hanya sekadar merekam pelanggaran, kini petugas dapat menyapa dan mengingatkan pengendara yang kedapatan tidak disiplin.
Kepala Dishub DKI Jakarta, Budi Awaluddin, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai terobosan dalam menyampaikan pesan-pesan keselamatan. Pihaknya sengaja menggandeng kolaborator dari berbagai kalangan—seperti tokoh publik, komunitas, atau figur yang dekat dengan keseharian warga—agar imbauan yang disampaikan terasa lebih akrab dan mudah diterima.
Kami memanfaatkan speaker di simpang lalu lintas sebagai media edukasi keselamatan dengan menggandeng kolaborator agar pesan yang disampaikan lebih dekat dengan masyarakat. Harapannya, cara ini dapat meningkatkan kesadaran pengguna jalan untuk lebih disiplin dan menjadikan keselamatan berlalu lintas sebagai kebiasaan bersama.
Dengan pendekatan yang lebih personal ini, Dishub DKI berharap pengguna jalan tidak hanya merasa diawasi, tetapi juga mendapatkan pengingat yang bersifat membangun. Pesan yang disampaikan melalui pengeras suara akan menyesuaikan situasi di tiap simpang, sehingga edukasi bisa berlangsung secara kontekstual dan tidak monoton.
Enam lamer yang menjadi titik awal pelaksanaan program ini dipilih berdasarkan volume kendaraan yang tinggi serta tingkat pelanggaran yang kerap terekam CCTV. Dishub DKI meyakini bahwa teguran langsung secara audio akan memberikan efek kejut yang lebih kuat dibandingkan sekadar peringatan visual di papan informasi atau tilang elektronik yang baru diterima beberapa hari kemudian. Langkah ini sekaligus memperkuat peran teknologi dalam menciptakan budaya tertib lalu lintas di Jakarta.
Masyarakat menyambut beragam inisiatif ini. Sebagian pengendara menilai cara tersebut lebih mendidik karena memberi koreksi saat pelanggaran terjadi. Ke depan, Dishub DKI berencana mengevaluasi efektivitas program dan membuka kemungkinan perluasan ke simpang-simpang lain jika tingkat kepatuhan pengguna jalan menunjukkan peningkatan. Demikian laporan Apaberita.com.
Comments (0)