Taj Yasin Maimoen Puncaki Survei Elektabilitas Pilgub Jateng

Jakarta – Lembaga survei Parameter Politik Indonesia merilis hasil jajak pendapat terbaru yang memetakan preferensi pemilih terhadap sejumlah nama dalam bursa Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2024. Ma...

Taj Yasin Maimoen Puncaki Survei Elektabilitas Pilgub Jateng

Jakarta – Lembaga survei Parameter Politik Indonesia merilis hasil jajak pendapat terbaru yang memetakan preferensi pemilih terhadap sejumlah nama dalam bursa Pemilihan Gubernur Jawa Tengah 2024. Mantan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2018–2023, Taj Yasin Maimoen, muncul sebagai figur dengan tingkat elektabilitas paling tinggi, menyalip sejumlah tokoh lain yang juga digadang-gadang maju dalam kontestasi tersebut.

Temuan ini diumumkan melalui paparan virtual pada Selasa (18/6). Survei dilaksanakan pada 5–15 Juni 2024 dengan melibatkan 1.200 responden yang tersebar di 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Metode penarikan sampel menggunakan multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur.

Peta Elektabilitas Terkini

Dalam paparan tersebut, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Karyono Wibowo, menyebutkan bahwa Taj Yasin Maimoen memperoleh angka keterpilihan sebesar 32,5 persen. Angka ini menempatkan putra ulama kharismatik KH Maimoen Zubair itu unggul cukup jauh atas para pesaingnya. Di posisi kedua, mantan Bupati Semarang dua periode yang juga mantan Kepala LKPP, Hendrar Prihadi, mengantongi 18,7 persen. Menyusul di bawahnya, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Andika Perkasa yang dikabarkan tengah menjajaki panggung politik Jawa Tengah memperoleh 14,2 persen. Sementara itu, Bupati Banyumas Achmad Husein dan mantan Bupati Karanganyar Juliyatmono masing-masing mendapat dukungan 9,8 persen dan 7,1 persen. Sisanya, sekitar 17,7 persen responden, belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.

Karyono menjelaskan, popularitas Taj Yasin tidak terlepas dari rekam jejaknya sebagai wakil kepala daerah serta basis massa nahdliyin yang solid. “Taj Yasin diuntungkan oleh dua faktor sekaligus: posisinya sebagai mantan wakil gubernur yang memberinya visibilitas tinggi di seluruh wilayah, dan afiliasi kuat dengan jaringan pesantren yang selama ini menjadi kekuatan politik signifikan di Jawa Tengah,” ujarnya. Ia menambahkan, elektabilitas Taj Yasin relatif merata di wilayah Pantura, eks-Karesidenan Pati, hingga sebagian daerah Mataraman.

Dominasi Ceruk Pemilih Tradisional

Hasil survei juga memperlihatkan bahwa peta dukungan kepada Taj Yasin Maimoen sangat kokoh di segmen pemilih berlatar belakang Nahdlatul Ulama. Sebanyak 46 persen responden yang mengidentifikasi diri sebagai nahdliyin menyatakan akan memilih Taj Yasin. Sementara itu, di kalangan pemilih non-nahdliyin, dukungan terhadapnya tercatat sekitar 21 persen, yang tetap menjadikannya unggul atas nama-nama lain. Kondisi ini, menurut Karyono, menegaskan bahwa figur berlatar belakang santri masih memiliki daya tarik elektoral yang dominan di provinsi dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di Pulau Jawa ini.

Di sisi lain, Hendrar Prihadi yang berlatar belakang birokrat dan profesional cenderung memperoleh dukungan lebih tinggi dari pemilih perkotaan dan generasi muda. Namun, tingkat popularitasnya di daerah-daerah pelosok masih perlu ditingkatkan. Andika Perkasa, yang baru pertama kali muncul dalam bursa Pilgub Jateng, dipandang lebih banyak mendapat atensi dari pemilih kritis di Semarang Raya dan Solo Raya, tetapi belum mampu mengkonversi popularitas nasionalnya menjadi elektabilitas di akar rumput.

Dinamika dan Tantangan ke Depan

Karyono menekankan bahwa meskipun Taj Yasin saat ini memimpin, kontestasi masih sangat dinamis. Waktu menuju pendaftaran calon pada akhir Agustus 2024 masih memberikan ruang bagi perubahan konfigurasi koalisi partai dan naik-turunnya elektabilitas. “Survei ini adalah potret sesaat. Pergerakan bisa terjadi jika muncul kejutan koalisi, deklarasi pasangan calon, atau manuver tokoh tertentu. Kami mencermati potensi pasangan Hendrar Prihadi dengan Andika Perkasa, atau penggabungan dukungan partai-partai menengah yang bisa merubah peta secara signifikan,” jelasnya.

Di ranah partai politik, Parameter Politik juga merekam preferensi pemilih terhadap partai pengusung. PDIP, yang merupakan pemenang Pemilu 2024 di Jawa Tengah, masih menjadi mesin elektoral paling kuat, namun keresahan pemilih terkait isu lokal membuat dukungan terhadap partai tidak serta-merta terkonversi pada calon yang diusung. Sementara itu, Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Gerindra, yang dikenal dekat dengan basis nahdliyin dan pemilih nasionalis, dipandang sebagai kendaraan potensial yang dapat memperkuat pencalonan Taj Yasin.

Parameter Politik juga mengukur tingkat kepuasan terhadap kinerja gubernur petahana, Ganjar Pranowo, yang akan mengakhiri masa jabatan pada September 2024. Tingkat kepuasan publik terhadap Ganjar berada pada angka 72 persen. Faktor ini dinilai turut mempengaruhi preferensi terhadap Taj Yasin yang merupakan bagian dari pemerintahan sebelumnya. “Ada semacam efek warisan positif dari kepemimpinan Ganjar yang bisa menjadi pembanding atau ekspektasi bagi calon berikutnya,” pungkas Karyono.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User