Sultan Tidore Zainal Abidin Syah Raih Gelar Pahlawan Nasional

Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan, Sabtu (10/11). Upacara kenegaraan yang digelar di Ista...

Jul 12, 2026 - 03:12
0 0
Sultan Tidore Zainal Abidin Syah Raih Gelar Pahlawan Nasional

Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sepuluh tokoh pada peringatan Hari Pahlawan, Sabtu (10/11). Upacara kenegaraan yang digelar di Istana Negara, Jakarta, itu menjadi momen bersejarah, khususnya bagi keluarga besar Sultan Tidore, Zainal Abidin Syah, yang namanya turut diabadikan dalam daftar penerima gelar kehormatan tertinggi bangsa ini.

Keputusan Presiden Nomor 96/TK/Tahun 2024 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional itu menetapkan Zainal Abidin Syah bersama sembilan tokoh lainnya sebagai penerima gelar. Selain Sultan Tidore, gelar serupa juga diberikan kepada tokoh-tokoh dari berbagai daerah dan latar belakang perjuangan, yang menurut Presiden Prabowo, telah memberikan kontribusi luar biasa bagi keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Profil Sultan Zainal Abidin Syah

Zainal Abidin Syah lahir pada 30 September 1912 di Tidore, Maluku Utara. Ia merupakan putra Sultan Haji Muhammad Said Syah, penguasa Kesultanan Tidore ke-35. Setelah menamatkan pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), ia melanjutkan studi ke Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Makassar. Pada 1947, Zainal Abidin Syah dinobatkan sebagai Sultan Tidore ke-36 menggantikan ayahandanya.

Sebagai seorang sultan, Zainal Abidin Syah tidak hanya berperan sebagai pemegang otoritas tradisional, tetapi juga tampil sebagai pemimpin politik yang berani. Di tengah tekanan kolonial Belanda pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia dengan tegas menyatakan dukungannya kepada Republik Indonesia dan menolak segala bentuk dominasi asing.

Perjuangan Membawa Irian Barat Kembali ke Pangkuan NKRI

Komitmen Zainal Abidin Syah terhadap keutuhan wilayah Indonesia terlihat paling jelas dalam upaya diplomasi dan politik terkait status Irian Barat. Wilayah yang oleh Belanda masih dianggap sebagai bagian dari Kerajaan Belanda itu menjadi sengketa berkepanjangan pasca Konferensi Meja Bundar. Dalam konteks inilah Sultan Tidore memainkan peran kunci.

Pada 1950, Zainal Abidin Syah ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan dibuang ke Ambon karena dianggap sebagai ancaman serius. Penangkapan ini justru mempertegas posisinya di mata para pejuang pro-Republik. Setelah dibebaskan, ia semakin vokal menyuarakan integrasi Irian Barat. Sebagai Sultan Tidore, ia memiliki pengaruh kuat di kalangan masyarakat Papua dan Maluku, yang ia manfaatkan untuk menggalang dukungan bagi pemerintah Indonesia dalam forum-forum internasional.

Zainal Abidin Syah tercatat aktif dalam berbagai misi diplomatik. Ia menjadi anggota delegasi Indonesia dalam perundingan-perundingan dengan Belanda, termasuk dalam pembicaraan yang akhirnya menghasilkan Perjanjian New York pada 1962. Kedekatannya dengan tokoh-tokoh nasional seperti Mohammad Hatta dan Soekarno menempatkannya sebagai jembatan penting antara pemerintah pusat dan masyarakat di kawasan timur Indonesia.

"Sultan Tidore memiliki kepekaan geopolitik yang tajam. Ia paham betul bahwa tanpa Irian Barat, NKRI belum genap," ujar seorang sejarawan dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Rahman, saat dihubungi terpisah. Menurutnya, peran Zainal Abidin Syah kerap terlewatkan dalam narasi sejarah nasional, padahal kontribusinya sangat menentukan dalam mengamankan dukungan rakyat di wilayah yang menjadi rebutan.

Warisan dan Pengakuan Negara

Pasca integrasi Irian Barat pada 1963, Zainal Abidin Syah terus mengabdi kepada negara. Ia dipercaya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan tetap memimpin Kesultanan Tidore hingga wafat pada 23 April 1967. Meskipun tidak sempat melihat seluruh provinsi di Papua menjadi bagian damai dari Indonesia, warisan perjuangannya dinilai telah meletakkan fondasi yang kokoh bagi keutuhan NKRI.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional ini disambut haru oleh keluarga besar Kesultanan Tidore. Sultan Tidore saat ini, Husain Syah, menyatakan bahwa penghargaan ini menjadi penegasan bahwa pengorbanan para pendahulu tidak dilupakan. "Kami bersyukur negara mengakui bahwa almarhum bukan sekadar raja tradisional, melainkan seorang negarawan yang berdiri di garda terdepan mempertahankan kedaulatan," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Dengan penetapan ini, Zainal Abidin Syah resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional bersama 214 tokoh lainnya yang telah lebih dulu diakui. Upacara di Istana Negara dihadiri oleh Wakil Presiden, para menteri, pimpinan lembaga negara, serta ahli waris para penerima gelar. Presiden Prabowo dalam sambutannya menekankan bahwa semangat para pahlawan harus menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.

Pengakuan terhadap Sultan Tidore ini sekaligus memperkaya khazanah sejarah perjuangan nasional, terutama dari perspektif Indonesia timur. Zainal Abidin Syah kini tak hanya dikenang sebagai pemimpin kesultanan, tetapi sebagai pahlawan yang memastikan Sang Saka Merah Putih berkibar di seluruh wilayah yang diamanatkan Proklamasi 1945.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User