Sosok Wanita Bergaun Merah di Tengah Pernikahan Pelosok Desa

Seorang tamu undangan mengaku dihantui sosok perempuan bergaun merah seusai menghadiri rangkaian acara pernikahan kerabat jauhnya di sebuah desa terpencil. Peristiwa janggal itu, tuturnya, bermula seh...

Sosok Wanita Bergaun Merah di Tengah Pernikahan Pelosok Desa

Seorang tamu undangan mengaku dihantui sosok perempuan bergaun merah seusai menghadiri rangkaian acara pernikahan kerabat jauhnya di sebuah desa terpencil. Peristiwa janggal itu, tuturnya, bermula sehari sebelum akad nikah digelar, menjelang waktu maghrib, ketika ia beranjak ke toilet di bagian belakang rumah untuk mengambil sabun pencuci muka yang tertinggal.

Ia menuturkan, sosok tersebut menatapnya dengan sorot mata tajam dan sarat ancaman dari balik sudut jendela yang berembun. Tatapan itu ia tafsirkan sebagai peringatan agar dirinya tidak melupakan sebuah perjanjian, meski ia mengaku sama sekali tidak memahami janji apa yang dimaksud.

"Sorot matanya seolah menyampaikan pesan bahwa akan ada akibat yang jauh lebih buruk apabila janji itu tidak saya tunaikan," ujarnya menuturkan pengalamannya.

Ia menegaskan tidak mengetahui bagaimana peristiwa tersebut dapat menimpanya. Kedatangannya ke desa itu semata-mata untuk mendampingi kedua orangtuanya menghadiri pernikahan seorang saudara jauh, di sebuah kawasan yang baru pertama kali ia kunjungi seumur hidupnya.

Keterbatasan Fasilitas di Desa Tujuan

Desa yang menjadi lokasi hajatan digambarkan masih minim fasilitas, terutama untuk kebutuhan toilet. Kendati demikian, rumah sang kerabat yang menggelar pernikahan tergolong paling maju di antara rumah warga lainnya karena telah dilengkapi toilet yang memadai untuk mandi dan buang hajat.

Masalah muncul ketika rombongan keluarga tiba di lokasi. Pasokan air di toilet utama rumah tersebut tengah kering sehingga memerlukan perbaikan. Sebagai gantinya, para tamu diarahkan menggunakan toilet setengah jadi yang berada di bangunan belakang, sebuah rumah yang pembangunannya baru memasuki tahap awal.

Untuk mencapai toilet tersebut, tamu harus menyusuri sebuah taman yang tidak terawat serta sebuah kebun kecil. Lokasi toilet itu dipilih lantaran berdekatan dengan sumber mata air, sehingga seluruh keperluan air para tamu terpusat di titik tersebut selama toilet utama diperbaiki.

Perjalanan Mengambil Sabun Menjelang Gelap

Sehari sebelum akad nikah, sekitar pukul 17.00, perbaikan toilet di rumah utama dinyatakan rampung dan fasilitas itu kembali dapat digunakan. Namun, saat tiba gilirannya untuk mandi, sang penutur baru menyadari sabun pencuci mukanya masih tertinggal di toilet belakang.

Ia sempat dilanda dilema. Seluruh anggota keluarga tengah disibukkan oleh persiapan hajatan, sementara ia tidak berani berjalan seorang diri melintasi taman terbengkalai dan kebun yang sepi, terlebih langit kian menggelap. Di sisi lain, ia khawatir wajahnya akan ditumbuhi jerawat keesokan harinya apabila tidak membersihkan muka dengan sabun tersebut.

Keberuntungan berpihak kepadanya. Sang sepupu, Nadiya, tengah luang dan bersedia mendampingi. Keduanya bergegas menuju toilet belakang begitu Nadiya memberikan persetujuan melalui anggukan kepala.

Taman Indah yang Kini Terbengkalai

Dari penuturannya, taman yang dilalui keduanya menyimpan jejak keindahan masa lampau. Ia masih dapat membayangkan taman itu semula dipenuhi bunga yang bermekaran, air mancur di tengah kolam, jalan setapak berbatu, lampu taman berdesain apik, serta wahana permainan anak seperti ayunan dan jungkat-jungkit.

Menurutnya, taman tersebut sepatutnya menjadi daya tarik desa, baik sebagai destinasi wisata yang mendatangkan pemasukan bagi warga sekitar maupun sekadar ruang bermain dan hiburan. Kenyataannya, tempat itu kini lengang dan menyisakan kesan mencekam bagi siapa pun yang melintasinya.

Kesan janggal kian terasa saat keduanya memasuki area kebun. Ia menggambarkan suasana yang paradoksal: kebun itu terasa ramai, aman, dan damai, padahal kenyataannya sunyi tanpa seorang pun terlihat. Kejanggalan itulah yang kemudian diikuti oleh kemunculan sosok perempuan bergaun merah di balik jendela berembun.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Hingga kisah ini dituturkan, sang penutur mengaku belum memperoleh penjelasan atas apa yang dialaminya. Ia mempertanyakan bagaimana sebuah kunjungan perdana ke desa kerabat justru berujung pada peristiwa yang mengaitkan dirinya dengan sebuah janji yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya. Sosok bergaun merah itu, tuturnya, seakan menagih sesuatu yang harus dipenuhi. Ancaman yang tersirat dari tatapan mata sosok itu membuatnya terus dihantui pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di desa tersebut.

Ia berharap suatu waktu dapat menemukan jawaban atas rangkaian kejanggalan itu, sekaligus memahami makna di balik peringatan yang disampaikan sang wanita bergaun merah melalui sorot matanya yang tajam.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User