Oct 05, 2026
Nasional

Siti Hasmah, Istri Mahathir Mohamad, Wafat di Usia 100 Tahun

KUALA LUMPUR — Kabar duka menyelimuti Malaysia. Siti Hasmah Mohamad Ali, istri mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, meninggal dunia pada usia 100 tahun

Siti Hasmah, Istri Mahathir Mohamad, Wafat di Usia 100 Tahun

KUALA LUMPUR — Kabar duka menyelimuti Malaysia. Siti Hasmah Mohamad Ali, istri mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, meninggal dunia pada usia 100 tahun. Perempuan yang dikenal sebagai dokter perempuan Melayu pertama di Malaya itu mengembuskan napas terakhirnya pada Sabtu, meninggalkan warisan panjang bagi dunia kesehatan dan kemanusiaan di negeri jiran.

Kabar kepergian Siti Hasmah disampaikan langsung oleh keluarganya melalui pernyataan resmi. Jenazah almarhumah disemayamkan di kediaman resmi mantan perdana menteri di Seri Kembangan sebelum dimakamkan di Makam Pahlawan, Kompleks Makam Diraja, Kuala Lumpur. Suami yang telah bersamanya lebih dari enam dekade, Mahathir Mohamad, tampak hadir mendampingi prosesi pemakaman dengan raut penuh duka.

"Malaysia kehilangan seorang tokoh yang pengabdiannya melampaui batas profesi. Beliau bukan hanya pendamping seorang negarawan, tetapi juga pelayan masyarakat yang tulus."

— Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia

Dokter Perempuan Melayu Pertama di Malaya

Siti Hasmah lahir di Alor Setar, Kedah, pada 12 Juli 1926. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Malaya di Singapura dan lulus pada 1955, menjadikannya salah satu dokter perempuan Melayu pertama di Malaya saat itu. Profesi yang langka bagi perempuan pada era tersebut menjadi penanda keberaniannya menembus batas sosial.

Kariernya sebagai dokter dimulai di pelayanan kesehatan masyarakat, di mana ia mendampingi ibu-ibu hamil di kawasan pedesaan, mendirikan klinik, dan aktif melakukan imunisasi. Salah satu warisannya adalah pendirian layanan kesehatan di daerah terpencil, khususnya di Langkawi dan Kedah, sejak era 1950-an sampai 1960-an.

Setelah Mahathir menjabat sebagai Perdana Menteri ke-4 Malaysia pada 1981, Siti Hasmah tetap aktif dalam kegiatan sosial. Ia dikenal sebagai sosok yang sederhana, dekat dengan rakyat, dan kerap turun langsung ke lapangan untuk memastikan program kesejahteraan berjalan baik.

Ucapan Duka dari Dalam dan Luar Negeri

Berita duka ini menyita perhatian banyak pihak. Selain Perdana Menteri Anwar Ibrahim, Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim Iskandar menyampaikan bela sungkawa mendalam. Narasi penghormatan juga datang dari sejumlah tokoh Singapura yang mengenang peran Siti Hasmah sebagai figur yang menjembatani hubungan kedua negara.

Menteri Senior Singapura, Lee Hsien Loong, dalam pesan terpisah menyatakan bahwa Siti Hasmah merupakan teladan bagi perempuan Asia Tenggara. Ia menekankan bahwa dedikasi Siti Hasmah pada dunia kesehatan tidak pernah surut meski suaminya menghadapi berbagai dinamika politik nasional.

Tokoh-tokoh penting yang menyampaikan penghormatan terakhir:

  • Yang di-Pertuan Agong Sultan Ibrahim Iskandar — menyampaikan bela sungkawa resmi dari Istana Negara.
  • Perdana Menteri Anwar Ibrahim — mengenang Siti Hasmah sebagai pelayan masyarakat sejati.
  • Menteri Senior Singapura Lee Hsien Loong — menyebutnya teladan perempuan Asia Tenggara.
  • Jajaran Kabinet Malaysia — memuji kontribusi almarhumah di bidang kesehatan dan sosial.

Di luar seremoni resmi, publik Malaysia turut memadati ruang publik digital untuk menyampaikan ucapan belasungkawa. Banyak warganet mengenang Siti Hasmah sebagai figur yang lembut, hangat, dan tidak pernah lepas dari citranya sebagai dokter yang mencintai rakyat kecil.

Bagi Malaysia, kepergian Siti Hasmah menutup satu babak penting dalam sejarah bangsa. Ia meninggalkan jejak yang tidak hanya tercatat dalam arsip negara, tetapi juga dalam ingatan jutaan orang yang pernah merasakan langsung sentuhan pengabdiannya.

Warisan yang Tak Akan Pudar

Sepanjang hidupnya, Siti Hasmah dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai kesederhanaan. Meski mendampingi seorang negarawan kontroversial, ia memilih untuk fokus pada bidang yang sejak awal ia geluti: kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Warisannya tidak semata pada jabatan dan gelar, melainkan pada kepercayaan yang ia bangun di mata rakyat.

Kini, sorotan berpindah pada Mahathir Mohamad yang harus melanjutkan hari-harinya tanpa sosok pendamping selama lebih dari enam dekade. Namun pesan yang ia tinggalkan tetap jelas: bahwa pengabdian tidak membutuhkan panggung besar, cukup konsistensi untuk hadir bagi mereka yang membutuhkan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS hendra-wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Comments (0)

User