Serikat Buruh AS Bertahan Lawan Serangan Trump demi Energi Bersih
Ryan McElroen menghabiskan bertahun-tahun memperbaiki kereta bawah tanah New York City, bekerja di dalam terowongan gelap yang tak pernah berubah setiap ha
Ryan McElroen menghabiskan bertahun-tahun memperbaiki kereta bawah tanah New York City, bekerja di dalam terowongan gelap yang tak pernah berubah setiap harinya. Kini, pria itu bekerja di tengah lautan lepas, membangun turbin angin raksasa yang menyuplai listrik bersih bagi jutaan rumah tangga. Perjalanan dari kegelapan bawah tanah menuju hamparan laut terbuka itu bukan sekadar ganti profesi — ia menjadi simbol bagaimana gerakan buruh Amerika Serikat memilih bertarung demi pekerjaan ramah lingkungan di tengah tekanan politik yang kian keras.
"Saya tidak punya pemandangan lain selain kegelapan saat bekerja," kata McElroen kepada The Guardian. "Lalu saya berbalik ke arah yang bertolak belakang."
Kisah McElroen diangkat dalam laporan The Guardian yang terbit pada 23 Agustus 2026, di tengah meningkatnya ketegangan antara pemerintahan federal yang dipimpin Donald Trump dan serikat pekerja sektor energi terbarukan. Trump selama ini kerap melontarkan kritik tajam terhadap proyek angin lepas pantai dan dinilai melemahkan posisi tawar buruh melalui berbagai kebijakan yang kontroversial.
Akar Gerakan: Badai Sandy 2012
Menariknya, kebangkitan gerakan buruh hijau di AS justru bermula dari bencana. Sejak Badai Sandy menerjang Pantai Timur pada 2012, sekelompok serikat pekerja mulai menyuarakan keterkaitan antara krisis iklim dan kesenjangan ekonomi. Bencana yang merenggut ratusan nyawa dan menimbulkan kerugian puluhan miliar dolar itu membuka mata banyak buruh: infrastruktur yang rentan berarti pekerjaan yang rentan pula.
Sejak saat itu, serikat pekerja di sektor konstruksi, transportasi, dan manufaktur mulai mendukung transisi energi. Mereka melihat peluang besar di balik proyek pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah masif — dari perakit turbin, teknisi pemeliharaan, hingga kru kapal khusus. Bagi banyak pekerja, ini adalah kesempatan mendapatkan upah layak dengan standar keselamatan tinggi, sesuatu yang kerap sulit ditemukan di industri lain.
Tekanan Politik di Era Trump
Namun, perlawanan terhadap arus itu tidak mudah. Pemerintahan Trump dikenal memiliki catatan permusuhan terhadap proyek energi terbarukan, khususnya angin lepas pantai. Kebijakan yang diluncurkan dalam beberapa tahun terakhir disebut-sebut memperlambat perizinan proyek, memangkas insentif, dan membuka ruang bagi pengembangan energi fosil yang justru dinilai mengancam lapangan kerja hijau yang telah terbentuk.
Serikat pekerja tidak tinggal diam. Mereka merespons dengan advokasi politik, lobi lintas partai, hingga aksi bersama komunitas pesisir yang selama ini diuntungkan proyek angin lepas pantai. Beberapa pemimpin serikat menegaskan bahwa pertarungan ini bukan soal ideologi, melainkan masa depan mata pencaharian jutaan keluarga pekerja.
Mengapa Buruh Membela Energi Bersih?
Ada alasan pragmatis di balik dukungan serikat terhadap energi bersih. Berbeda dengan energi fosil yang cenderung padat modal, proyek angin lepas pantai dan tenaga surya membutuhkan banyak tenaga kerja lokal untuk konstruksi dan pemeliharaan jangka panjang. Setiap proyek angin lepas pantai skala besar berpotensi menghidupkan ribuan keluarga pekerja di wilayah pesisir yang selama ini bergantung pada industri yang tengah menurun.
Para pendukung transisi yang adil (just transition) berargumen bahwa tanpa keterlibatan serikat, transisi energi justru berisiko melahirkan pekerjaan murah tanpa jaminan sosial. Karena itu, serikat pekerja menuntut agar proyek energi bersih mensyaratkan upah setara standar industri, perlindungan keselamatan, dan hak berorganisasi bagi seluruh pekerja yang terlibat. Mereka menolak masa depan di mana energi hijau hanya menguntungkan investor, sementara pekerjanya dibayar murah tanpa kepastian.
Jalan Panjang ke Depan
Tantangan berikutnya adalah ketidakpastian politik. Setiap pergantian pemerintahan berpotensi mengubah arah kebijakan energi secara drastis, dan hal itu membuat perencanaan tenaga kerja jangka panjang menjadi sulit. Proyek angin lepas pantai membutuhkan investasi besar dan waktu bertahun-tahun dari perizinan hingga beroperasi, sehingga iklim politik yang stabil menjadi prasyarat mutlak.
Meski demikian, para aktivis serikat menilai momentum yang sudah terbangun sejak 2012 tidak akan mudah dipadamkan. Dukungan publik terhadap energi bersih terus tumbuh, dan banyak negara bagian yang justru mempercepat target energi terbarukan mereka terlepas dari sikap pemerintah federal. Di tingkat lokal, aliansi antara serikat pekerja, pemerintah kota, dan pengembang proyek semakin matang.
Kisah Ryan McElroen hanyalah satu dari ribuan cerita serupa. Dari gelapnya terowongan menuju terangnya laut lepas, ia membuktikan bahwa pekerja mampu beradaptasi — asalkan diberi kesempatan dan dilindungi kebijakan yang berpihak pada mereka. Pertanyaannya kini: akankah perlawanan ini bertahan menghadapi angin politik yang terus berembus kencang?
[SOCIAL_TWEET]: Dari kegelapan terowongan ke laut lepas: serikat buruh AS bertahan melawan serangan Trump demi lapangan kerja energi bersih yang layak. #EnergiBersih #SerikatBuruh[SOCIAL_TG]: Dari terowongan gelap ke lautan terbuka — begini cara serikat buruh AS melawan tekanan pemerintahan Trump demi pekerjaan energi bersih yang layak.
Comments (0)