Petani Bawah Tanah Tanam Selada di Tambang Bekas Inggris
Suasananya seperti markas rahasia penjahat dalam film James Bond: lorong gelap, kedalaman ekstrem, dan para pekerja yang mengenakan helm serta rompi visibi
Suasananya seperti markas rahasia penjahat dalam film James Bond: lorong gelap, kedalaman ekstrem, dan para pekerja yang mengenakan helm serta rompi visibilitas tinggi. Namun yang mereka timbang dan kemas bukanlah narkoba atau komponen mesin pemusnah massal — melainkan pak choi dan selada. Di kedalaman lebih dari 1.000 meter di bawah permukaan tanah North Yorkshire, Inggris, para peneliti telah menciptakan lahan pertanian bawah tanah terdalam di dunia.
Proyek ambisius ini bukan sekadar eksperimen ilmiah yang aneh. Para peneliti di lokasi mengaku merasa waktu terus berdetak. Mereka berlomba mengubah cara Inggris memproduksi pangan di tengah krisis yang semakin nyata: perubahan iklim yang mengacaukan musim tanam, gangguan rantai pasok global, hingga menyusutnya lahan pertanian produktif.
Mengapa Menanam di Bawah Tanah?
Logika di balik proyek ini sebenarnya sederhana. Di bawah tanah, suhu cenderung stabil sepanjang tahun, tidak bergantung pada cuaca, dan terbebas dari hama serta penyakit tanaman yang biasanya menyerang lahan terbuka. Tambang bekas yang sudah tidak produktif pun berubah menjadi aset bernilai tinggi — ruang yang selama ini dianggap limbah industri justru menjadi ladang pangan masa depan.
Dengan memanfaatkan lampu LED dan sistem hidroponik, tanaman tumbuh dalam tumpukan rak bertingkat tanpa memerlukan tanah sama sekali. Teknik yang dikenal sebagai pertanian vertikal ini memungkinkan produksi sayuran sepanjang tahun tanpa terpengaruh musim. Konsumsi air pun jauh lebih hemat dibandingkan pertanian konvensional.
"Kami tidak sedang mencoba membuat sensasi. Tujuan kami sederhana: membuktikan bahwa pangan bisa ditanam di tempat yang paling tidak terduga sekalipun, dan bahwa jawaban atas krisis pangan mungkin justru berada jauh di bawah kaki kita," ujar salah satu peneliti yang terlibat dalam uji coba tersebut.
Uji Coba yang Berjalan Melawan Waktu
Saat ini proyek tersebut masih dalam tahap uji coba. Para peneliti mengamati bagaimana pak choi dan selada merespons lingkungan ekstrem di kedalaman tersebut, mulai dari intensitas cahaya buatan hingga komposisi nutrisi larutan hidroponik. Hasil sementara disebut cukup menjanjikan, meski sejumlah tantangan teknis masih menanti — biaya energi penerangan, misalnya, menjadi salah satu variabel paling menentukan kelayakan ekonomi.
Bandingkan dengan pertanian konvensional:
| Aspek | Pertanian Konvensional | Pertanian Bawah Tanah |
|---|---|---|
| Ketergantungan cuaca | Tinggi | Nyaris nol |
| Konsumsi air | Tinggi | Hemat hingga 90 persen |
| Produksi | Musiman | Sepanjang tahun |
| Kebutuhan lahan | Luas | Vertikal dan kompak |
| Biaya energi | Relatif rendah | Tinggi (penerangan buatan) |
Menjawab Krisis Pangan Inggris
Inggris termasuk negara yang sangat bergantung pada impor pangan. Sebagian besar sayuran segar di supermarket Inggris berasal dari luar negeri, membuat pasokan dalam negeri rapuh terhadap guncangan global. Jika uji coba ini berhasil dikembangkan dalam skala komersial, tambang-tambang bekas di seluruh Inggris berpotensi menjadi pusat produksi sayuran yang dekat dengan konsumen, mengurangi ketergantungan impor sekaligus emisi karbon dari transportasi.
Keunggulan pendekatan ini, menurut para peneliti, antara lain:
- Ketahanan pasokan — produksi tidak terganggu cuaca ekstrem atau bencana alam;
- Efisiensi air — sistem hidroponik memakai air jauh lebih sedikit;
- Dekat dengan konsumen — tambang bekas tersebar di berbagai wilayah Inggris, memangkas biaya logistik.
Namun para peneliti mengingatkan bahwa teknologi ini bukan pengganti pertanian tradisional, melainkan pelengkap. "Kita tetap butuh petani di permukaan, tetapi kita juga butuh solusi cadangan yang tahan terhadap segala macam gangguan", demikian kira-kira pesan yang ingin disampaikan proyek ini.
Masa Depan yang Masih Panjang
Dari sekadar gagasan yang terdengar mustahil, pertanian bawah tanah kini menjadi kenyataan yang diuji di North Yorkshire. Masih banyak pekerjaan rumah: menekan biaya energi, meningkatkan efisiensi, dan membuktikan bahwa hasil panen bawah tanah mampu bersaing dari segi rasa dan harga. Namun satu hal telah berhasil dibuktikan: ketika dunia kehilangan lahan subur, manusia bisa menciptakan lumbung baru di tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Pak choi dan selada yang tumbuh ribuan meter di bawah tanah itu bukan sekadar sayuran. Mereka adalah simbol bahwa krisis pangan tidak selalu harus dijawab dengan cara lama — kadang, jawabannya memang harus digali lebih dalam.
[SOCIAL_TWEET]: Di kedalaman 1.000 meter, pak choi dan selada tumbuh subur! Inggris uji coba pertanian bawah tanah terdalam di dunia untuk menjawab krisis pangan. #PertanianBawahTanah #KrisisPangan #Inggris[SOCIAL_TG]: 🥬🥦 Pertanian bawah tanah terdalam di dunia kini ada di Inggris! Pak choi dan selada ditanam 1.000 meter di bawah permukaan untuk menjawab krisis pangan. Simak kisah lengkapnya di sini 👇
Comments (0)