WASHINGTON — Sidang pleno Senat Amerika Serikat, Senin malam waktu setempat, mengesahkan undang-undang paling komprehensif yang pernah mengatur olahraga kampus di negara itu. Lewat pem suara bipartisan 77-22, Protect College Sports Act (S.4668) resmi lolos dan kini menuju sidang di Dewan Perwakilan Rakyat.
RUU ini menandai momen bersejarah: pertama kalinya sebuah legislasi federal soal tata kelola olahraga kampus disahkan oleh salah satu kamar Kongres. Di balik angka pem suara yang telak itu, tersimpan taruhan besar atas masa depan miliaran dolar pendapatan sepak bola perguruan tinggi, nasib puluhan ribu atlet, dan batas antara tradisi amatirisme dengan realitas olahraga yang makin profesional.
Siapa di Balik RUU Ini
RUU ini digarap oleh koalisi lintas partai yang jarang terlihat di Washington belakangan ini. Ketua Komite Perdagangan Senat, Ted Cruz (Republikan, Texas), berpasangan dengan Ketua Fraksi Demokrat di komite yang sama, Maria Cantwell (Demokrat, Washington), didampingi Senator Eric Schmitt (Republikan, Missouri) dan Chris Coons (Demokrat, Delaware).
"Jika kita tidak bertindak, kita hanya akan menyisakan 30 hingga 50 program sepak bola kompetitif di negara ini, dan program-program lainnya gulung tikar," kata Ted Cruz dalam perdebatan menjelang pengesahan.
"Kami tidak akan membiarkan konferensi terkaya dan terkuat menentukan bagi seluruh Amerika apa yang akan terjadi terhadap 500.000 atlet," balas Cantwell, menegaskan bahwa RUU ini juga berfungsi sebagai tameng bagi sekolah kecil.
White House sendiri telah menyatakan dukungan resmi sejak Agustus 2026, sementara dua raksasa olahraga kampus, Big Ten dan SEC, baru memberi restu setelah batas pengeluaran untuk atlet digandakan. Posisi itu krusial, mengingat keduanya memiliki kekuatan finansial jauh di atas konferensi lain.
Apa Isi Utama RUU
Inti dari Protect College Sports Act adalah penciptaan standar nasional yang seragam, menggantikan mozaik undang-undang NIL (name, image, likeness) yang selama ini berbeda-beda antar negara bagian. Beberapa poin paling menentukan:
- Batas pengeluaran atlet. Sekolah tetap dibatasi anggaran berbagi pendapatan sekitar $21,58 juta per tahun sesuai House Settlement, namun ditambah kantong retensi hingga $27,5 juta untuk menjaga pemain tetap di kampus — praktis melipatgandakan plafon yang selama ini ada.
- Aturan transfer. Atlet hanya boleh pindah sekolah sekali sepanjang karier tanpa harus menjalani sanksi absen satu musim.
- Masa kelayakan. Atlet dibatasi jendela lima tahun bermain, dihitung sejak usia 19 tahun atau kelulusan sekolah menengah.
- Batas agen. Agen olahraga hanya boleh memungut biaya maksimal 5 persen dari kontrak endorsemen — selama ini praktiknya tak diatur dan ada yang menagih 30 persen.
- Perlindungan olimpiade. Sekolah dilarang membubarkan cabang olahraga olimpiade selama sembilan tahun.
RUU ini juga memberi NCAA perlindungan hukum terbatas dari gugatan antitrust sepanjang aturan soal bagi hasil, NIL, dan kelayakan ditegakkan — mekanisme yang selama ini hanya bisa diperoleh liga profesional lewat perundingan kolektif.
Siapa yang Menolak
Kritik paling tajam datang dari perwakilan atlet sendiri. Meghann Burke, direktur eksekutif Asosiasi Pemain Liga Sepak Bola Wanita Nasional, menilai RUU ini justru mengisolasi institusi dari akuntabilitas.
"RUU ini makin melindungi institusi dari pertanggungjawaban, sambil menolak atlet salah satu hak paling mendasar yang dimiliki pekerja: hak untuk berorganisasi dan berunding kolektif," tegas Burke.
Secara resmi, RUU itu menyatakan netral soal status atlet sebagai pegawai kampus dan hak mereka membentuk serikat. Namun para analis menilai perlindungan hukum yang diberikan justru mengurangi daya tawar atlet di meja perundingan kelak. Senator Tommy Tuberville dari Alabama, misalnya, mendukung bagian transfer dan kelayakan, tetapi menolak intervensi federal yang lebih luas.
Angka yang Menarik Perhatian
Debat panjang muncul soal klaim kedua kubu. Cruz memperingatkan "ratusan ribu kursi atlen akan hilang" tanpa RUU ini. Namun data NCAA justru menunjukkan hal berlawanan: sejak 2021, jumlah tim di Division I justru bertambah 151 tim, dan kursi atlet naik dari 184.222 menjadi 202.353.
Sementara itu, di sisi keuangan, laporan Cantwell mencatat perlombaan belanja olahraga kampus membuat biaya rekrutmen melonjak 322 persen, peralatan olahraga naik 300 persen, dan gaji pelatih melambung 370 persen sepanjang 2005-2023. Sayangnya, RUU ini tidak membatasi pos-pos pengeluaran tersebut — hanya uang yang mengalir langsung ke atlet.
Yang tak terbantahkan: sekitar 75 persen atlet AS di Olimpiade Musim Panas 2024 berasal dari sistem olahraga kampus. Karena itu, RUU ini juga melarang pemangkasan cabang olimpiade selama sembilan tahun ke depan.
Kini segalanya bergantung pada Dewan Perwakilan Rakyat, di mana beberapa anggota Republik tetap bersikeras memasukkan larangan atlet berstatus pegawai. Apakah semangat bipartisan di Senat akan bertahan di ruang sidang berikutnya, atau justru kandas di tengah jalan?