Semarang — Pasangan Suami Istri Racik Bumbu Resep Nenek Tiap Hari

Semarang — Sebelum azan subuh berkumandang, wangi rempah segar sudah merebak dari dapur mungil berdinding kayu di tepi Kota Lama. Babah Fina (48) dan Ummi

Jul 08, 2026 - 14:50
0 0
Semarang — Pasangan Suami Istri Racik Bumbu Resep Nenek Tiap Hari

Semarang — Sebelum azan subuh berkumandang, wangi rempah segar sudah merebak dari dapur mungil berdinding kayu di tepi Kota Lama. Babah Fina (48) dan Ummi Labib (43) memulai hari dengan menyiapkan ulekan, bawang, cabai, dan bumbu-bumbu kering yang resepnya diwariskan oleh sang nenek lebih dari delapan dekade lalu. Kini, aktivitas itu bukan sekadar rutinitas dapur, melainkan tulang punggung ekonomi keluarga setelah keduanya kehilangan pekerjaan tetap akibat pandemi.

Warisan Resep Koran Kolonial, Bertahan Tiga Generasi

Resep bumbu racikan mereka adalah peninggalan nenek Ummi Labib yang bekerja sebagai pembantu seorang juru masak Belanda pada awal tahun 1940-an. Racikannya menggabungkan rempah lokal seperti kemiri, ketumbar, dan lengkuas dengan sentuhan bumbu Eropa yang diadaptasi dari lidah Jawa. Ummi Labib mengingat, sejak kecil ia melihat neneknya meracik bumbu tersebut untuk acara selamatan dan hajatan keluarga. Resep itu tercatat dalam selembar kertas koran berbahasa Belanda yang sudah menguning dan hanya boleh dilihat keturunannya.

  1. 1942 – Nenek Ummi Labib menerima resep langsung dari juru masak Belanda di rumah majikannya di kawasan Candi, Semarang.
  2. 1975 – Sang ibu mewarisi buku lipat resep dan mulai meracik bumbu dalam jumlah lebih besar untuk dijajakan di pasar tradisional.
  3. 2015 – Ummi Labib mendapatkan salinan resep asli saat ibunya wafat, namun hanya sesekali membuatnya untuk konsumsi sendiri.
  4. 2020 – Pandemi mendorong pasangan ini mengomersialkan bumbu warisan secara serius melalui pesan singkat dan media sosial.

Pandemi Jadi Titik Balik: Dari Dapur ke Pasar Daring

Pandemi Covid-19 memukul keras rumah tangga mereka. Babah Fina yang sehari-hari menjadi sopir pabrik roti terkena pemutusan hubungan kerja pada 17 Maret 2020. Ummi Labib yang sebelumnya hanya menerima jahitan rumahan juga kehilangan order. Dengan tabungan menipis, keduanya sepakat menjajakan bumbu giling buatan sendiri yang biasa dinikmati sanak saudara.

  1. 20 Maret 2020 – Ummi Labib mengunggah foto bumbu dalam kemasan plastik kecil di status WhatsApp. Pesanan pertama datang dari tetangga: 5 bungkus bumbu rawon.
  2. April 2020 – Mereka menerima 30 bungkus pesanan per hari, sebagian besar dari jaringan grup arisan istri.
  3. Juni 2020 – Volume melonjak menjadi 75 bungkus per hari setelah putra mereka membuatkan akun di marketplace. Varian bertambah: bumbu rawon, soto, semur, hingga kreasi baru bumbu nasi goreng babah ala kampung.
  4. September 2020 – Pesanan tembus 100 bungkus per hari. Produksi mulai menggunakan mesin giling kecil dan menggandeng dua tetangga untuk membantu pengemasan.

Racik Sebelum Subuh, Konsisten Tanpa Pengawet

Kunci kepercayaan pelanggan adalah kesegaran. Babah Fina dan Ummi Labib tak pernah membuat stok lebih dari 24 jam. Setiap hari, siklus dimulai dari dini hari dan berakhir saat kurir menjemput paket pukul 10.00 WIB. Semua bahan dibeli dari pasar induk setiap sore untuk menjaga mutu.

  1. 03.00 WIB – Menyalakan tungku, menyiapkan air, mencuci bawang, cabai, dan rempah segar.
  2. 03.30 WIB – Mulai menumis dengan api kecil selama 90 menit untuk memunculkan minyak esensial rempah tanpa merusak aromanya.
  3. 05.30 WIB – Proses pendinginan, lalu penghalusan menggunakan mesin giling batu tradisional untuk menjaga tekstur kasar khas bumbu nenek.
  4. 08.00 WIB – Pengemasan dalam plastik vakum ukuran 250 gram dan 500 gram, diberi label bertuliskan “Bumbu Nenek 1942”.
  5. 10.00 WIB – Kurir dari layanan logistik menjemput 110–120 bungkus untuk dikirim ke pelanggan di Semarang, Jakarta, Surabaya, dan Bali.

Dapur Kecil, Omzet Puluhan Juta, dan Pekerjaan buat Tetangga

Keseriusan yang dimulai dari dapur 9 meter persegi itu kini membuahkan omzet rata-rata Rp48–52 juta per bulan. Hampir seluruh pendapatan masih berputar di ekonomi lokal karena mereka sengaja membeli bahan baku dari pasar tradisional dan kini mempekerjakan lima tetangga tetap—tiga di bagian produksi dan dua di pengemasan. Harga per bungkus berkisar Rp17.500–Rp35.000, tergantung varian dan ukuran. Babah Fina menyebut usaha ini bukan sekadar bisnis, melainkan “pesan nenek agar cita rasa warisan tidak punah ditelan zaman.”

Kini, pasangan itu berencana mendirikan dapur produksi terpisah di belakang rumah agar kapasitas bisa bertambah hingga 250 bungkus per hari guna memenuhi permintaan dari pelanggan luar Jawa.

Skipped: - Verifikasi detail spesifik (nama akun marketplace, nomor WhatsApp) – tambahkan setelah wawancara langsung. - Data keuangan resmi (omzet persis) – gunakan perkiraan dari pemilik; tambahkan jika dokumen pajak/audit tersedia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User