Ruangan itu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Di balik
Sore itu, di kantor pusat Adaro di Jakarta, Boy Thohir menerima tim Apaberita.com untuk sebuah wawancara eksklusif. Dengan nada tenang namun penuh keyakina
Sore itu, di kantor pusat Adaro di Jakarta, Boy Thohir menerima tim Apaberita.com untuk sebuah wawancara eksklusif. Dengan nada tenang namun penuh keyakinan, ia membagikan visi besarnya: membawa Adaro melampaui bisnis batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan.
Warisan Keluarga dan Jejak Karier
Lahir di Jakarta pada 1965, Garibaldi Thohir adalah putra dari Teddy Thohir, seorang pengusaha migas terkemuka. Bersama saudaranya, Erick Thohir, Boy tumbuh dalam tradisi bisnis yang kuat. Namun, kariernya tidak sekadar mengandalkan nama keluarga. Ia merintis karier di sektor keuangan sebelum akhirnya memimpin Adaro Energy pada 2005, setelah perseroan diakuisisi dari Rio Tinto.
Di bawah kepemimpinannya, Adaro bertransformasi dari perusahaan tambang batu bara konvensional menjadi entitas energi terintegrasi. Tak banyak yang tahu, Boy sempat menghadapi tekanan besar saat harga batu bara anjlok pada 2014—2016. Namun, ia justru melihat krisis sebagai momentum untuk melakukan diversifikasi.
Strategi Hijau di Tengah Himpitan
Boy Thohir mengakui bahwa masa depan energi fosil semakin menantang. "Kami tidak bisa terus bergantung pada batu bara. Dunia berubah, regulasi berubah, dan kami harus lebih dulu beradaptasi," ujarnya.
"Adaro tidak akan meninggalkan batu bara sepenuhnya dalam waktu dekat, tetapi kami telah menyiapkan peta jalan menuju energi bersih. Transformasi ini adalah keniscayaan," tegas Boy.
Adaro Energy, melalui anak usahanya Adaro Power, kini gencar mengembangkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pada 2023, perusahaan mengalokasikan belanja modal hingga USD 800 juta untuk proyek energi hijau, termasuk PLTA Kayan Cascade yang berkapasitas 9.000 MW.
Langkah ini menuai beragam reaksi. Analis energi menilai diversifikasi Adaro sebagai keputusan tepat, meskipun risikonya tinggi. "Boy Thohir punya visi jauh ke depan. Diversifikasi ini akan menentukan apakah Adaro tetap relevan di 2040," kata seorang analis kepada Apaberita.com.
Sosok di Balik Dinding Kaca
Tidak seperti citra pengusaha tambang yang sering digambarkan glamor, Boy Thohir dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Ia jarang tampil di media sosial dan lebih banyak menghabiskan waktu memantau operasional tambang di Kalimantan Selatan. Kerendahan hati inilah yang membuatnya dihormati oleh para karyawan.
Namun, di balik ketenangannya, Boy Thohir adalah negosiator ulung. Jejaknya dalam membawa Adaro keluar dari krisis 2008 dan berhasil menggelar IPO senilai Rp 12 triliun pada 2009 menjadi bukti kapasitasnya. Hingga 2024, kapitalisasi pasar Adaro Energy menembus Rp 60 triliun.
Boy juga tidak segan turun langsung ke lapangan. "Saya ingin melihat sendiri bagaimana tambang beroperasi, bagaimana keselamatan pekerja terjamin. Tidak cukup hanya membaca laporan," ucapnya sambil tersenyum.
Menatap Cakrawala Baru
Dalam percakapan sore itu, Boy Thohir menyinggung soal rencana pencatatan saham Adaro Minerals di bursa internasional. "Kami ingin ekspansi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga menjangkau investor global yang punya minat pada energi bersih," katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya sumber daya manusia. Adaro kini menggelontorkan dana beasiswa dan pelatihan untuk ribuan pemuda di sekitar area operasional. "Energi bersih perlu SDM yang mumpuni. Kami sedang menyiapkan generasi itu," imbuhnya.
"Bisnis bukan hanya tentang keuntungan hari ini, tetapi juga tentang warisan yang kita tinggalkan untuk anak cucu. Itu filosofi saya pribadi," kata Boy Thohir.
Pemerintah sendiri, melalui Kementerian ESDM, menyambut baik langkah Adaro. Menteri ESDM dalam sebuah kesempatan menyebut Adaro sebagai contoh perusahaan tambang yang serius menggarap transisi energi. Dukungan regulasi pun diharapkan bisa mempercepat realisasi proyek hijau tersebut.
Namun, jalan menuju transformasi tidaklah mulus. Tantangan pendanaan, teknologi, dan resistensi internal menjadi ujian yang harus dihadapi. Boy Thohir tampak optimis. "Setiap perubahan memang sulit di awal, rumit di tengah, tapi manis di akhir," tutupnya.
Sebagai penutup, berikut tiga pertanyaan esensial seputar sosok Garibaldi Thohir dan kiprahnya di Adaro Energy:
[SOCIAL_FB]: Dari krisis batu bara hingga diversifikasi energi terbarukan, Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir atau yang akrab disapa Boy Thohir membuktikan bahwa visi besar mampu membawa perusahaan tambang melompat ke era baru. Bagaimana ia merancang peta jalan menuju energi bersih? Simak liputan eksklusif Apaberita.com.[SOCIAL_THREADS]: Garibaldi ‘Boy’ Thohir tak banyak bicara, tapi langkahnya lantang. Di balik kemudi Adaro Energy, ia ubah raksasa batu bara jadi pionir energi terbarukan. Simak kisah dan strateginya. 🧵👇 #BoyThohir #AdaroEnergy
Comments (0)