IHSG Melesat di Masa Corona, Lesu pada Penutupan 2022

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat dua momen kontras dalam dua tahun berbeda yang menggambarkan dinamika psikologi investor di pasar modal Indones

Jul 11, 2026 - 22:16
0 1
IHSG Melesat di Masa Corona, Lesu pada Penutupan 2022

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat dua momen kontras dalam dua tahun berbeda yang menggambarkan dinamika psikologi investor di pasar modal Indonesia. Pada 4 Maret 2020, bursa justru ditutup melesat meski Tanah Air baru saja mengumumkan kasus perdana infeksi virus Corona. Sebaliknya, pada 30 Desember 2022, penutupan perdagangan akhir tahun justru berlangsung lesu, kendati sepanjang tahun itu jumlah perusahaan yang mencatatkan saham di lantai bursa memecahkan rekor.

Lonjakan di Tengah Pandemi

Rabu, 4 Maret 2020, menjadi salah satu hari yang tak terlupakan. Setelah Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga Indonesia positif terjangkit COVID-19 pada 2 Maret, pasar sempat dilanda kepanikan. Namun, dua hari berselang, IHSG justru mencatat penguatan fantastis. Indeks ditutup melesat ke level 5.650, menunjukkan kenaikan signifikan setelah sebelumnya terpuruk akibat sentimen wabah global.

Pergerakan ini mengejutkan banyak pelaku pasar. Di tengah ketidakpastian, investor tampaknya memanfaatkan momen harga murah setelah aksi jual besar-besaran.

"Ini adalah fenomena technical rebound klasik. Setelah tertekan dalam, pasar mencari level keseimbangan baru. Harapan terhadap stimulus fiskal dan moneter menjadi katalis positif yang mengangkat IHSG," ujar seorang analis senior yang enggan disebutkan namanya.
Lonjakan tersebut juga didorong oleh optimisme pemerintah yang bergerak cepat membentuk tim penanganan COVID-19 serta injeksi likuiditas dari bank sentral.

Meredup di Penghujung 2022

Delapan bulan berselang, tepat di ujung 2022, suasana berbeda menyelimuti lantai Bursa Efek Indonesia. Pada Jumat, 30 Desember 2022, IHSG ditutup lesu di level 6.850,62, terkoreksi tipis 9,46 poin atau 0,14% dari sesi sebelumnya. Meski secara year-to-date IHSG masih mencatatkan penguatan sekitar 4%, pergerakan hari terakhir itu mencerminkan kehati-hatian investor menghadapi tahun baru.

Kondisi ini kontras dengan euforia yang sempat terjadi di awal tahun. Sepanjang 2022, tercatat 59 perusahaan melakukan penawaran umum perdana (IPO) dan mencatatkan sahamnya di BEI—jumlah tertinggi sepanjang sejarah. Namun, rekor IPO tersebut tak cukup mendongkrak indeks di hari penutupan. Pelaku pasar lebih fokus pada ancaman resesi global, inflasi yang masih tinggi, serta kenaikan suku bunga yang agresif dari bank sentral utama dunia.

"Banyaknya IPO sebenarnya menunjukkan kepercayaan dunia usaha terhadap pasar modal kita. Tapi di saat yang sama, investor institusi asing banyak yang mengurangi eksposur karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global tahun depan," jelas pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Santoso.

Dua Cerita, Satu Pelajaran

Kedua peristiwa di atas menegaskan bahwa pasar modal tidak selalu bergerak sesuai logika sederhana. Pada 2020, bencana kesehatan justru melahirkan rally, sementara di 2022, optimisme pencapaian kinerja korporasi meredup oleh ketakutan makroekonomi. Perbandingan ini menunjukkan betapa sentimen investor dapat berubah drastis dalam hitungan bulan.

Secara teknikal, level 5.650 di Maret 2020 menjadi titik balik penting sebelum IHSG memulai tren bullish yang berlanjut hingga akhir 2021. Sementara level 6.850 di akhir 2022 menandakan fase konsolidasi di mana pasar menunggu katalis baru. Berdasarkan data BEI, kapitalisasi pasar pada penutupan 2022 mencapai sekitar Rp9.600 triliun, naik dari capaian 2020 yang sempat terpangkas hingga di bawah Rp6.000 triliun.

Beberapa faktor yang membedakan kedua periode antara lain:

  • Likuiditas Moneter: Pada 2020, bank sentral global serentak memompa likuiditas, menciptakan gelombang uang murah yang mendorong aset berisiko. Sebaliknya, 2022 diwarnai pengetatan moneter untuk melawan inflasi.
  • Harga Komoditas: Eksportir komoditas Indonesia diuntungkan oleh lonjakan harga batu bara dan CPO pada 2022, menopang pendapatan, tetapi kekhawatiran normalisasi harga komoditas membebani prospek.
  • Arus Modal Asing: Di awal pandemi, investor asing sempat menarik dana besar-besaran, namun kemudian kembali karena valuasi murah. Di 2022, aliran dana keluar kembali terjadi akibat penguatan dolar AS.

Implikasi bagi Investor Ritel

Bagi investor ritel yang kini mendominasi transaksi harian BEI, kedua momen ini menawarkan pelajaran berharga tentang pentingnya diversifikasi dan jangka waktu investasi. Lonjakan Maret 2020 adalah hadiah bagi mereka yang berani membeli saat pasar ketakutan, sementara lesunya Desember 2022 mengingatkan agar tidak terbuai euforia jangka pendek.

Data KSEI menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus 10 juta pada akhir 2022, lompatan besar dari sekitar 3,8 juta di awal 2020. Generasi baru investor ini menghadapi tantangan berbeda: bukan lagi kepanikan pandemi, melainkan ketidakpastian geopolitik dan suku bunga tinggi.

[SOCIAL_TWEET]: Dua wajah IHSG: Melesat ke 5.650 saat awal pandemi, lalu lesu di 6.850 pada penutupan 2022. Perjalanan kontras pasar saham Indonesia. #IHSG #Saham #BursaEfekIndonesia[SOCIAL_TG]: 📉➡️📈 IHSG: Dari melesat di masa Corona hingga lesu di akhir 2022. Dua cerita, satu pasar. Baca selengkapnya!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User