Reidel Toiran Pimpin Timnas Voli Putra Indonesia sebagai Caretaker

Hening sejenak menyelimuti ruang latihan di Padepokan Voli Sentul, Bogor, Senin pagi (24/3). Seorang pria berambut ikal dengan raut tegas berdiri di tepi n

Jul 08, 2026 - 21:41
0 0
Reidel Toiran Pimpin Timnas Voli Putra Indonesia sebagai Caretaker
Hening sejenak menyelimuti ruang latihan di Padepokan Voli Sentul, Bogor, Senin pagi (24/3). Seorang pria berambut ikal dengan raut tegas berdiri di tepi net, matanya tak lepas dari gerakan 14 pemain yang tengah berlatih _spike_. Pria itu adalah Reidel Toiran, asisten pelatih asal Kuba yang kini resmi memegang kendali penuh sebagai caretaker pelatih timnas voli putra Indonesia. Ia bukan nama baru di dalam lingkup voli nasional. Sejak didatangkan pada awal 2024 untuk mendampingi pelatih kepala sebelumnya, Toiran dikenal sebagai sosok pendiam namun _kehadirannya terasa_. Pemain mengakuinya sebagai motor strategi, terutama dalam transisi bertahan dan membaca rotasi lawan. Kini, dengan kepergian pelatih utama yang mundur di tengah persiapan menuju SEA Games 2025, Toiran harus melangkah sendiri di depan.

Penunjukan yang Tak Bisa Ditunda

Federasi tak punya banyak pilihan. Menjelang ajang dua tahunan paling krusial bagi voli putra, kekosongan di kursi pelatih adalah risiko yang tak bisa ditoleransi. Dalam rapat darurat Pengurus Pusat PBVSI, Sabtu malam (22/3), nama Toiran muncul sebagai solusi paling realistis: ia mengerti skuad, paham pola latihan yang sudah berjalan, dan—yang lebih penting—ia tersedia tanpa proses negosiasi alot khas perekrutan asing baru.
“Kami tidak ingin mengambil risiko besar mengubah total filosofi permainan di tengah jalan. Coach Toiran sudah ada di dalam sistem, jadi perubahan yang terjadi lebih sebagai penyempurnaan, bukan revolusi,” ujar Sekretaris Jenderal PBVSI, Heru Prasetyo, dalam konferensi pers singkat usai rapat.
Surat keputusan diteken pada hari yang sama. Reidel Toiran resmi menyandang status caretaker pelatih timnas putra Indonesia per 23 Maret 2025. Meski embel-embel “caretaker” melekat, Heru menegaskan bahwa Toiran memiliki kewenangan taktis penuh—bahkan untuk menentukan komposisi akhir 18 pemain yang akan terbang ke Bangkok nanti.

Jejak di Tanah Orang

Publik mungkin belum banyak mengenal sosok ini. Reidel Toiran, 45 tahun, lahir di Santiago de Cuba, kota yang melahirkan deretan juara olimpiade voli. Sebelum mendarat di Indonesia, ia sempat menjadi asisten pelatih di liga Brasil dan menjalani dua musim bersama klub asal Qatar. Di level internasional, namanya tercatat sebagai bagian dari staf kepelatihan tim nasional Kuba U-21 yang meraih medali perak di Kejuaraan Voli NORCECA 2021. _Kehadirannya di Indonesia bukanlah kebetulan._ Salah satu pemain senior timnas yang enggan disebutkan nama mengisahkan momen pertama kali Toiran mengambil alih sesi latihan ketika pelatih kepala sakit.
“Kami langsung sadar, orang ini bukan asisten biasa. Intonasinya rendah, tapi instruksinya tajam. Dia tidak banyak bicara, tapi kalau bicara, semua diam mendengarkan,” kenang sang pemain.
Kini, dari asisten menjadi pemimpin, Toiran harus membuktikan bahwa insting taktis itu bisa berdiri sendiri. Ia memegang tim dengan materi campuran: beberapa pemain senior berpengalaman SEA Games seperti Rivan Nurmulki dan Doni Haryono, ditambah darah segar yang menonjol di Proliga 2024 seperti Rama Fazza.

Tantangan di Depan Mata

Pekan pertama masa jabatannya sudah padat. Jadwal latihan ditingkatkan dari empat kali seminggu menjadi enam kali, dengan sesi teknik individu di pagi hari dan simulasi pertandingan di sore hari. Toiran juga menerapkan sistem evaluasi harian lewat rekaman video—sesuatu yang sebelumnya hanya dilakukan insidental. “Dia sangat detail dengan footwork blok. Satu langkah salah, kami harus mengulang seluruh pola,” ujar salah satu _middle blocker_ muda. Kondisi tim sendiri belum seratus persen ideal. Tiga pemain masih dalam pemulihan cedera ringan, sementara agenda uji coba melawan Thailand dan Vietnam yang direncanakan April mendatang masih menunggu konfirmasi diplomatik. Waktu yang sempit membuat _setiap keputusan menjadi taruhan_. Meski begitu, Toiran tak menunjukkan keraguan. Dalam briefing pagi, ia hanya menulis satu kalimat di papan tulis: _“Medali. Tidak kurang.”_ Bagi Indonesia, yang terakhir kali membawa pulang emas voli putra dari SEA Games pada edisi 2019 di Manila, target itu bukan sekadar retorika. Dan di tangan seorang caretaker yang tidak ingin sekadar menjadi transisi, jalan menuju Bangkok bisa jadi lebih mengejutkan dari yang diduga. ---

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User