Putra Ketut Darmaja, Korban Pengeroyokan Bali, Terima Donasi Rp190 Juta
GIANYAR, BALI — Putra Adi Darmaja (8), putra tunggal almarhum Ketut Darmaja (45), korban tewas akibat aksi pengeroyokan massa di Desa Taro, Kabupaten Gianyar, Bali, menerima bantuan dana publik seni...
GIANYAR, BALI — Putra Adi Darmaja (8), putra tunggal almarhum Ketut Darmaja (45), korban tewas akibat aksi pengeroyokan massa di Desa Taro, Kabupaten Gianyar, Bali, menerima bantuan dana publik senilai Rp190.250.000, Minggu (26/7/2026). Penyerahan dilakukan di rumah duka oleh perwakilan Yayasan Peduli Sesama Bali (YPSB) setelah penggalangan dana spontan yang bermula dari keprihatinan warga terhadap nasib bocah tersebut.
Kepala Desa Taro, I Wayan Sudirta, yang mendampingi keluarga menyatakan, donasi itu merupakan wujud solidaritas masyarakat Bali yang menyesalkan aksi main hakim sendiri terhadap almarhum. “Kami berharap uang ini dapat menjamin masa depan Putu, terutama untuk pendidikannya. Ini bukan sekadar angka, melainkan pesan bahwa hukum tidak boleh ditegakkan dengan kekerasan,” ujar Sudirta saat ditemui di lokasi. Berdasarkan data yang dihimpun, donasi mengalir dari lebih dari 1.200 penyumbang, baik individu maupun komunitas, dalam kurun waktu kurang dari 48 jam sejak insiden mencuat.
Kronologi Tragedi yang Menewaskan Seorang Petani
Peristiwa nahas itu berlangsung pada Sabtu (25/7) dini hari sekitar pukul 02.30 WITA. Ketut Darmaja, seorang petani dan buruh serabutan, diduga tertangkap tangan oleh sejumlah warga setelah mengambil dua ekor ayam milik tetangganya, I Made Sutarya. Menurut keterangan Kepolisian Sektor Gianyar, peristiwa berawal dari laporan warga yang mencurigai gerak-gerik korban di pekarangan rumah Sutarya. Sekelompok massa kemudian mengejar dan mengeroyok Darmaja hingga tak sadarkan diri.
Kapolsek Gianyar, AKP I Gusti Ngurah Triadi, dalam konferensi pers, Minggu sore, menegaskan bahwa pihaknya telah menetapkan enam orang tersangka terkait pengeroyokan yang mengakibatkan kematian. “Enam orang telah kami amankan, dan kami masih mengembangkan penyidikan untuk mengetahui apakah ada tersangka lain yang ikut terlibat. Kami juga mengimbau masyarakat tidak terprovokasi dan menyerahkan penegakan hukum kepada aparat,” tegas Triadi. Hasil visum dari Rumah Sakit Umum Daerah Gianyar menunjukkan korban mengalami trauma tumpul berat pada bagian kepala dan dada, yang menyebabkan pendarahan hebat dan berujung pada kematian.
Inisiatif Penggalangan Dana Bermula dari Media Sosial
Gerakan penggalangan dana bermula dari unggahan seorang warga Desa Taro, Ni Luh Putu Ariani, yang menyaksikan langsung suasana duka keluarga korban. Unggahan foto Putu Adi yang menangis di samping jenazah sang ayah viral di media sosial dan menuai simpati luas. “Saya hanya menulis, ‘Anak ini kehilangan ayahnya semalam. Siapa yang tergerak hati, silakan bantu.’ Tidak disangka responsnya begitu besar,” tutur Ariani. Dalam hitungan jam, donasi mulai berdatangan melalui transfer ke rekening yang dikelola YPSB, yang kemudian ditunjuk sebagai pihak yang memvalidasi dan menyalurkan dana.
Ketua YPSB, Made Suardana, mengonfirmasi, jumlah donasi yang terkumpul hingga pukul 12.00 WITA, Minggu, mencapai Rp190.250.000, belum termasuk donasi langsung berupa sembako dan perlengkapan sekolah yang diserahkan secara fisik. “Kami transparan mengelola setiap rupiah. Seluruh dana akan kami alihkan dalam bentuk beasiswa pendidikan 12 tahun untuk Adi, disertai pendampingan psikologis mengingat trauma yang dialaminya,” ujar Suardana. Pihak yayasan juga mencatat bahwa donasi terbesar, senilai Rp50 juta, berasal dari seorang pengusaha asal Denpasar yang enggan disebutkan namanya.
Penyerahan Donasi dan Harapan Masa Depan
Acara serah terima dilakukan secara sederhana di rumah duka di Banjar Taro Kelod, dihadiri oleh keluarga inti, perangkat desa, dan perwakilan donatur. Putu Adi, yang masih duduk di kelas 2 Sekolah Dasar, menerima buku tabungan atas namanya sendiri dengan saldo awal sebesar Rp170 juta; sisanya, Rp20,25 juta, diserahkan secara tunai untuk biaya pemakaman dan kebutuhan mendesak keluarga. I Kadek Arimbawa, paman korban yang kini ditunjuk sebagai wali, menyatakan rasa terima kasihnya. “Saya tak menyangka banyak yang peduli. Kami akan menjaga amanah ini sebaik-baiknya untuk kemenakan saya,” katanya dengan suara bergetar.
Peristiwa ini sekaligus membuka kembali diskusi tentang maraknya aksi main hakim sendiri di Bali, khususnya di wilayah pedesaan. Akademisi dari Universitas Udayana, Dr. I Ketut Artadi, menilai insiden ini sebagai cermin lemahnya kepercayaan terhadap aparat dan kurangnya pemahaman hukum di akar rumput. “Kasus ini bukan yang pertama. Perlu adanya program restorative justice berbasis desa adat untuk mencegah tragedi serupa,” ujarnya. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui Dinas Sosial telah menawarkan program santunan dan pendampingan jangka panjang bagi anak korban. Kepala Dinas Sosial Gianyar, Anak Agung Gede Wiratmaja, menyatakan akan mengintegrasikan Adi dalam program perlindungan anak daerah. “Kami pastikan hak-haknya sebagai anak tetap terpenuhi, termasuk akses kesehatan dan pendidikan gratis,” tegas Wiratmaja.
Di tengah duka mendalam, Putu Adi kini tinggal bersama keluarga paman dari pihak ibu di rumah sederhana berukuran 6x8 meter. Warga sekitar berinisiatif melakukan kerja bakti memperbaiki bagian atap rumah yang bocor sebagai bentuk dukungan moral. “Kami semua iba melihat Adi. Semoga ke depan ia bisa tumbuh seperti anak-anak lain, tanpa bayang-bayang tragedi yang menimpa ayahnya,” ujar Ni Made Tantri, tetangga dekat yang sehari-hari turut mengasuh Adi sepulang sekolah.
Comments (0)