Pulisic Akui AS Tampil Baik meski Tersingkir di Piala Dunia 2026

Stadion MetLife di East Rutherford, New Jersey, bergemuruh hingga menit akhir, tetapi harapan tuan rumah akhirnya sirna. Amerika Serikat harus mengakui keu

Jul 09, 2026 - 20:01
0 0

Stadion MetLife di East Rutherford, New Jersey, bergemuruh hingga menit akhir, tetapi harapan tuan rumah akhirnya sirna. Amerika Serikat harus mengakui keunggulan Belgia 2–1 dalam laga babak 16 besar Piala Dunia 2026, menutup mimpi mereka melaju lebih jauh di turnamen yang digelar di negeri sendiri. Christian Pulisic, kapten sekaligus ikon tim nasional AS, berdiri di zona campuran dengan wajah lelah setelah 90 menit penuh determinasi. Meski kecewa, ia menegaskan satu hal: performa timnya malam itu layak dibanggakan.

Pertarungan Sengit di MetLife

Laga yang disaksikan lebih dari 82.500 penonton itu berlangsung dalam tempo tinggi sejak peluit awal. Belgia, yang diperkuat generasi emas terakhir mereka, langsung menekan melalui kombinasi Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku. Lukaku membuka skor pada menit ke-24, memanfaatkan kemelut di kotak penalti setelah sepak pojok De Bruyne. AS tidak gentar; Pulisic nyaris menyamakan kedudukan pada menit ke-33, tetapi tembakan mendatarnya masih membentur tiang. Babak pertama berakhir 1–0, namun statistik expected goals menunjukkan keseimbangan—1,2 untuk Belgia dan 1,1 untuk AS—cerminan pertandingan yang ketat.

Tekanan tuan rumah berlanjut di paruh kedua. Pelatih AS menurunkan Gio Reyna dan Folarin Balogun untuk menambah daya gedor. Namun, De Bruyne menggandakan keunggulan Belgia pada menit ke-67 lewat tendangan melengkung dari luar kotak penalti yang tak mampu dihentikan kiper Matt Turner. AS menolak menyerah; Pulisic memperkecil ketertinggalan pada menit ke-78, menuntaskan umpan terobosan Reyna dengan penyelesaian klinis ke sudut bawah gawang. Stadion meledak, dan sepuluh menit terakhir dipenuhi serangan sporadis AS yang nyaris memaksa perpanjangan waktu. Sayang, upaya sundulan Weston McKennie di masa injury time melambung tipis di atas mistar.

Kutipan Pulisic: Campuran Kekecewaan dan Kebanggaan

Di zona campuran, Pulisic tampak tenang meski matanya masih menyiratkan luka. Ia berbicara dengan nada terukur, menyoroti semangat juang timnya.

“Saya rasa kami tampil baik malam ini. Kami memberikan segalanya, dan itu yang saya minta dari setiap pemain. Belgia memang tim kuat, tetapi kami membuktikan bahwa kami bisa bersaing. Tentu ini menyakitkan, tapi ada banyak hal positif yang bisa kami bawa pulang,”

Ia menambahkan, nada suaranya sedikit bergetar saat menyinggung dukungan publik tuan rumah, bahwa energi dari suporter adalah bahan bakar yang membuat tim terus berjuang hingga detik terakhir. Statistik akhir menunjukkan penguasaan bola AS mencapai 47 persen, dengan 14 tembakan (5 tepat sasaran) berbanding 16 tembakan Belgia (6 tepat sasaran)—indikator bahwa AS tidak hanya bertahan, tetapi juga berani menekan lawan yang diunggulkan.

Visi ke Depan: Bersaing dengan Elit Dunia

Kekalahan ini tidak membuat Pulisic kecil hati. Sebaliknya, pemain berusia 27 tahun itu menyatakan ambisi jangka panjang agar AS diakui sebagai kekuatan reguler di pentas global. “Kami ingin bersaing dengan tim-tim terbaik dunia—bukan hanya tampil bagus, tapi juga menang. Turnamen ini menunjukkan kami tinggal selangkah lagi, dan kami akan bekerja lebih keras untuk menutup celah itu,” ucapnya, menatap ke depan dengan penuh determinasi.

Pernyataan itu selaras dengan target Federasi Sepak Bola AS yang menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai titik tolak regenerasi. Dengan rata-rata usia skuad 25,4 tahun, proyeksi masa depan tetap cerah. Pulisic, yang kini mengoleksi 78 caps dan 32 gol internasional, diyakini akan menjadi pilar penting menuju Piala Dunia 2030. Langkah kecil malam itu mungkin belum cukup untuk trofi, namun cukup untuk membangun keyakinan bahwa Amerika Serikat akan segera menjadi ancaman serius di panggung sepak bola dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User