Pria di Lampung Nekat Panjat Tower 52 Meter, Turun Usai Dibujuk Sang Istri Lewat HT
Bandar Lampung, Apaberita.com – Seorang pria di Kecamatan Tanjung Senang, Kota Bandar Lampung menghebohkan warga pada Rabu (24/6) setelah nekat memanjat menara pemancar sinyal setinggi 52 meter. Pr
Bandar Lampung, Apaberita.com – Seorang pria di Kecamatan Tanjung Senang, Kota Bandar Lampung menghebohkan warga pada Rabu (24/6) setelah nekat memanjat menara pemancar sinyal setinggi 52 meter. Pria yang identitasnya belum diungkap itu bertahan di puncak tower selama hampir tiga jam, sebelum akhirnya berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat berkat bujukan sang istri melalui radio handy talky (HT).
Evakuasi Dramatis oleh Tim Basarnas
Berdasarkan laporan yang diterima Apaberita.com, Tim Rescue Basarnas Lampung menerima informasi insiden tersebut sekitar pukul 10.00 WIB. Komandan Tim Rescue Basarnas Lampung, Sumariansyah Eka Putra, mengungkapkan bahwa proses evakuasi memakan waktu hingga tiga jam. “Kami menerima informasi pukul 10.00 WIB dan korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat sekitar pukul 13.00 WIB,” ujarnya kepada awak media di lokasi kejadian.
“Kami menerima informasi pukul 10.00 WIB dan korban berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat sekitar pukul 13.00 WIB.” – Sumariansyah Eka Putra, Komandan Tim Rescue Basarnas Lampung
Tim rescue dan petugas gabungan dari kepolisian serta pemadam kebakaran sudah berupaya melakukan negosiasi secara langsung, namun korban sempat menolak berkomunikasi dan tidak merespons imbauan. Upaya persuasif dari bawah tower tidak membuahkan hasil selama lebih dari dua jam, sehingga menimbulkan kekhawatiran di antara warga yang berkerumun. Beberapa saksi mata menyebut korban hanya berdiri diam di atas konstruksi baja menara, sesekali memandang ke bawah, dan membuat petugas khawatir akan adanya tindakan yang lebih berbahaya.
Peran Kunci Sang Istri dengan Radio HT
Titik terang muncul ketika istri korban tiba di lokasi sekitar pukul 12.30 WIB. Atas izin petugas, ia menggunakan radio HT untuk menyampaikan pesannya secara langsung kepada suaminya yang bertengger di ketinggian lebih dari 50 meter. Dalam komunikasi yang berlangsung beberapa menit itu, sang istri melontarkan kalimat-kalimat menenangkan dan berhasil meruntuhkan kebuntuan psikologis korban.
“Istri korban melakukan pendekatan persuasif melalui HT. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan evakuasi siang itu,” kata Sumariansyah.
Setelah dialog emosional melalui HT, korban akhirnya mau mengikuti arahan tim rescue secara perlahan. Dengan pengamanan penuh, pria itu turun bertahap dibantu oleh peralatan high angle rescue pada pukul 13.00 WIB. Angin kencang yang berhembus di area menara sempat membuat proses turun berjalan lebih hati-hati. Warga yang menyaksikan dari bawah bersorak lega saat korban menyentuh tanah dalam kondisi lemas namun sadarkan diri.
Pemeriksaan Kesehatan dan Penyelidikan Motif
Korban langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat untuk menjalani pemeriksaan medis setelah tiga jam terpapar terik matahari dan tiupan angin di ketinggian. Beruntung, tidak terdapat luka fisik serius yang dialaminya. Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian setempat masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengungkap motif aksi nekat ini. Dugaan sementara mengarah pada permasalahan pribadi yang dialami korban, namun petugas belum memberikan keterangan resmi.
Peristiwa ini menjadi bukti betapa pentingnya pendekatan personal dalam situasi darurat. Kehadiran dan ketepatan komunikasi sang istri menjadi penyelamat utama di tengah ketegangan yang sempat melanda kawasan Tanjung Senang, Bandar Lampung.
Comments (0)