Presiden Prabowo Panggil Mendiktisaintek dan Waka BRIN Bahas Prioritas Riset
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan terbatas dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto serta Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN...
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan terbatas dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto serta Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amarulla Octavian di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026). Pertemuan yang berlangsung tertutup ini berfokus pada pembahasan strategis pengembangan riset nasional, hilirisasi inovasi, serta percepatan integrasi program riset antar kementerian dan lembaga.
Berdasarkan pantauan, kedua pejabat tiba di Istana Merdeka sekitar pukul 13.30 WIB dan langsung menuju ruang kerja Presiden. Pertemuan dilaksanakan selama kurang lebih dua jam tanpa adanya keterangan pers terbuka seusai acara. Hanya ada pernyataan singkat dari Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi yang mengonfirmasi substansi pertemuan tersebut.
Koordinasi Strategis Riset Nasional
Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo menekankan pentingnya sinergi antara Kemendiktisaintek dan BRIN dalam mewujudkan target Indonesia Emas 2045. Presiden meminta agar kedua institusi menyelaraskan peta jalan riset, terutama di sektor pangan, energi baru terbarukan, kesehatan, dan teknologi pertahanan. Presiden Prabowo secara eksplisit meminta percepatan komersialisasi hasil riset dan penguatan peran universitas dalam ekosistem inovasi.
Sumber di lingkungan Istana yang enggan disebut namanya mengungkapkan, Presiden menyoroti perlunya sistem tata kelola riset yang lebih terintegrasi untuk menghindari tumpang tindih program. “Presiden ingin BRIN fokus pada riset dasar dan lanjutan, sementara perguruan tinggi di bawah Kemendiktisaintek didorong untuk lebih aktif dalam riset terapan dan pengabdian masyarakat,” ujar sumber tersebut.
Pemerintah dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026 telah menetapkan riset dan inovasi sebagai salah satu prioritas nasional. Sesuai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, BRIN bertindak sebagai koordinator riset nasional, sedangkan Kemendiktisaintek membidangi riset di lingkungan pendidikan tinggi. Sinergi kedua lembaga ini dipandang krusial untuk menghindari fragmentasi kebijakan yang selama ini menjadi kendala.
Pernyataan Resmi Pihak Istana
Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Noudhy Valdano, menyampaikan konfirmasi bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rapat Koordinasi Terbatas yang rutin digelar Presiden. “Bapak Presiden ingin memastikan bahwa investasi negara di bidang riset dan inovasi memberikan dampak nyata bagi perekonomian rakyat. Beliau memberikan arahan langsung agar Kemendiktisaintek dan BRIN segera menindaklanjuti poin-poin yang telah disepakati,” ujar Noudhy dalam pernyataan tertulisnya.
Noudhy menambahkan, Presiden juga menegaskan komitmennya untuk mengalokasikan anggaran riset yang lebih kompetitif, sejalan dengan target peningkatan alokasi dana riset terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 1,2 persen pada 2029. “Presiden sudah menandatangani instruksi presiden yang akan segera disahkan sebagai dasar percepatan reformasi ekosistem riset nasional,” tegasnya.
Tindak Lanjut dan Rencana ke Depan
Menindaklanjuti arahan Presiden, Menteri Brian Yuliarto dijadwalkan akan menggelar rapat koordinasi dengan seluruh rektor perguruan tinggi negeri pada pekan depan. Sementara itu, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyatakan bahwa pihaknya akan segera menyusun skema pendanaan riset multiyears untuk mendukung target prioritas nasional. “BRIN telah diminta untuk mempercepat proses hilirisasi setidaknya 50 inovasi strategis pada semester kedua tahun ini,” ujar Amarulla singkat sebelum meninggalkan Istana.
Selain membahas arah riset, Presiden juga mengingatkan pentingnya kolaborasi dengan sektor swasta melalui skema pendanaan bersama atau matching fund. “Presiden ingin agar dunia industri turut berkontribusi dalam pendanaan riset, tidak hanya mengandalkan APBN,” kata sumber Istana. Arahan ini sejalan dengan program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) yang telah diluncurkan BRIN sejak 2025.
Terkait hilirisasi, pemerintah menargetkan peningkatan nilai tambah produk riset dalam negeri hingga 30 persen pada 2028. Untuk itu, Presiden meminta agar setiap kementerian dan lembaga terkait menyusun peta jalan hilirisasi yang terukur dan terintegrasi. Brian Yuliarto dalam kesempatan sebelumnya menyatakan, Kemendiktisaintek siap mendukung melalui pengembangan pusat unggulan inovasi di 10 universitas besar pada tahun ajaran 2026/2027.
Pertemuan ini juga menandai semakin intensifnya komunikasi antara Presiden dengan para pemangku kepentingan riset. Sebelumnya, pada awal Juli 2026, Presiden Prabowo juga telah menerima audiensi dari Perhimpunan Periset Indonesia dan memberikan arahan mengenai perlunya ekosistem riset yang inklusif.
Profil Kedua Pejabat
Menteri Brian Yuliarto merupakan akademisi dari Institut Teknologi Bandung yang dilantik pada Februari 2025 menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro. Sejak menjabat, Brian aktif mendorong transformasi pendidikan tinggi melalui program Merdeka Belajar Edisi Sains dan Teknologi. Sementara itu, Amarulla Octavian adalah perwira tinggi TNI Angkatan Laut dengan latar belakang akademik di bidang strategi pertahanan. Ia menjabat sebagai Wakil Kepala BRIN sejak Desember 2024 dan membidangi riset dan inovasi pertahanan serta keamanan.
Comments (0)