MI Matraman Dalam Berlakukan PJJ Imbas Bentrokan Kemarin

Jakarta – Sebuah lembaga pendidikan dasar di Jalan Matraman Dalam, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dan beralih ke metode pembelaj...

MI Matraman Dalam Berlakukan PJJ Imbas Bentrokan Kemarin

Jakarta – Sebuah lembaga pendidikan dasar di Jalan Matraman Dalam, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dan beralih ke metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada Senin (28/7/2026). Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipatif menyusul pecahnya bentrokan di sekitar Jalan Tambak, Menteng, pada Minggu malam (27/7) yang memicu kekhawatiran terhadap keamanan peserta didik.

Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang berlokasi hanya berjarak kurang dari 500 meter dari pusat bentrokan tersebut memutuskan untuk meniadakan kehadiran fisik seluruh siswa hingga situasi dinyatakan benar-benar kondusif. Proses belajar mengajar dialihkan sepenuhnya melalui platform daring yang telah disiapkan oleh pihak sekolah.

Langkah Cepat Pihak Madrasah

Kepala MI bersangkutan, H. Ahmad Fauzi, S.Pd.I., menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah ia melakukan koordinasi intensif dengan aparat keamanan setempat dan pengurus komite sekolah pada Minggu malam. "Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama. Kami tidak ingin mengambil risiko sedikit pun setelah melihat dampak dari kejadian semalam," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin pagi.

"Keselamatan anak-anak adalah prioritas utama. Kami tidak ingin mengambil risiko sedikit pun setelah melihat dampak dari kejadian semalam."

Berdasarkan data dari tata usaha madrasah, total 287 siswa yang terdaftar di jenjang kelas 1 hingga 6 akan mengikuti PJJ hingga batas waktu yang belum ditentukan. Surat edaran resmi bernomor 421.2/07/MI/VII/2026 telah disebarluaskan kepada seluruh orang tua melalui grup pesan instan pada pukul 06.15 WIB, sekitar satu jam sebelum jam masuk biasanya pukul 07.15 WIB.

Keputusan ini juga merujuk pada prosedur operasi standar (SOP) yang diterapkan oleh Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta dalam menghadapi situasi darurat yang berpotensi mengganggu keamanan lingkungan sekolah.

Situasi Keamanan Pascabentrokan

Bentrokan yang terjadi pada Minggu malam melibatkan dua kelompok massa yang berselisih di Jalan Tambak, tepatnya di sekitar perempatan yang menghubungkan Jalan Matraman Dalam dengan Jalan Tambak. Hingga Senin pagi, aparat gabungan dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat dan unsur TNI masih berjaga di sejumlah titik strategis untuk mencegah eskalasi susulan. Sejumlah ruas jalan, termasuk akses utama menuju madrasah, sempat ditutup dan baru dibuka kembali pada pukul 04.30 WIB setelah dilakukan sterilisasi.

Kapolsek Menteng, Kompol Rudi Hartono, dalam keterangan tertulisnya menyatakan bahwa situasi sudah mulai terkendali. "Kami mengimbau warga untuk tidak terprovokasi dan tetap tenang. Personel keamanan akan terus bersiaga di beberapa lokasi rawan," katanya. Meski demikian, aroma ketegangan masih terasa di kawasan tersebut, dengan beberapa bekas material bentrokan yang masih terlihat di tepian jalan.

Lokasi madrasah yang berada di tengah permukiman padat penduduk membuat akses keluar-masuk siswa menjadi sangat rentan apabila terjadi kembali kericuhan. Oleh karena itu, banyak pihak menilai keputusan sekolah untuk menerapkan PJJ sebagai langkah yang tepat.

Respons Orang Tua dan Otoritas Pendidikan

Sejumlah orang tua murid menyambut baik kebijakan tersebut, meskipun mengaku menghadapi tantangan dalam mendampingi anak belajar dari rumah. Siti Nurhasanah (38), wali murid kelas 3, mengungkapkan, "Awalnya kaget karena dapat pemberitahuan mendadak, tapi saya setuju karena keamanan lebih penting. Semoga situasi cepat pulih." Ia menambahkan bahwa pembelajaran daring hari ini difokuskan pada penugasan mandiri melalui aplikasi yang biasa digunakan madrasah.

Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Pusat, Drs. Budi Santoso, M.Pd., menyatakan bahwa pihaknya mendukung penuh langkah yang diambil satuan pendidikan di bawah koordinasinya. "Sekolah memiliki otonomi untuk mengambil keputusan situasional demi melindungi peserta didik, sepanjang berkoordinasi dengan aparat dan dilaporkan secara berjenjang," ujarnya di kantor Sudin Pendidikan, Senin siang.

PJJ yang diberlakukan di MI Matraman Dalam ini merupakan salah satu dampak langsung dari kerawanan sosial yang terjadi di wilayah perkotaan. Dunia pendidikan dipaksa untuk kembali mengandalkan infrastruktur digital yang sempat teruji selama masa pandemi beberapa tahun silam. Pihak madrasah memastikan bahwa materi pembelajaran tetap berjalan sesuai kurikulum dan seluruh guru telah diinstruksikan untuk memberikan layanan daring optimal hingga pengumuman lebih lanjut.

Situasi di sekitar Jalan Tambak sendiri masih fluktuatif. Tokoh masyarakat setempat, H. Syarifuddin, mengimbau warga untuk tidak mudah terpancing isu yang dapat memperkeruh suasana. "Kami sedang memediasi pihak-pihak yang bertikai agar konflik bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada indikasi kapan kegiatan belajar tatap muka di MI tersebut akan kembali normal. Kepala MI H. Ahmad Fauzi menyebutkan bahwa evaluasi akan dilakukan setiap hari berdasarkan laporan situasi dari kepolisian dan hasil rapat internal tim manajemen sekolah. "PJJ ini kita berlakukan sementara. Kalau besok pagi situasi sudah benar-benar aman dan tidak ada potensi susulan, kita akan pertimbangkan untuk kembali normal," pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User