Prananda Prabowo dan Kader PDIP Kenakan Atribut Pro Mega di Peringatan Kudatuli

Ribuan kader PDI Perjuangan memadati halaman Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7) untuk memperingati tiga dasawarsa Tragedi Kudatuli. Selain diisi peresmian Monumen Kudatuli oleh...

Prananda Prabowo dan Kader PDIP Kenakan Atribut Pro Mega di Peringatan Kudatuli

Ribuan kader PDI Perjuangan memadati halaman Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin (27/7) untuk memperingati tiga dasawarsa Tragedi Kudatuli. Selain diisi peresmian Monumen Kudatuli oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, perhelatan itu juga langsung menyedot atensi karena sejumlah fungsionaris dan kader kompak mengenakan atribut bertuliskan “Pro Mega.” Yang paling mencolok adalah Muhammad Prananda Prabowo, Ketua DPP PDIP Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital sekaligus putra Megawati. Ia tampil dengan kemeja putih bertuliskan “Pro Mega,” sedangkan puluhan kader lain menggunakan ikat kepala dengan tulisan serupa.

Kemunculan atribut tersebut segera menimbulkan pertanyaan: apakah “Pro Mega” menandai lahirnya gerakan atau faksi baru di internal partai? Ketua DPP PDIP Bidang Keanggotaan dan Organisasi, Andreas Hugo Pareira, menegaskan bahwa hal itu bukanlah penanda organ baru.

Penghormatan bagi Militansi Akar Rumput

Andreas menjelaskan bahwa pemakaian atribut “Pro Mega” adalah bentuk penghormatan terhadap para pendukung Megawati Soekarnoputri yang lahir dari akar rumput pada era 1990-an. “Pro Mega, yang juga dikenal sebagai PDI Pro Mega, adalah himpunan massa militan pendukung Megawati Soekarnoputri yang muncul setelah Kongres Luar Biasa PDI 1993 di Surabaya,” ujarnya. Gerakan itu, lanjut Andreas, tumbuh spontan sebagai respons terhadap intervensi pemerintah Orde Baru yang berupaya menyingkirkan Megawati dari kursi kepemimpinan partai.

Menurut Andreas, kelompok ini bukan sekadar pendukung biasa, melainkan laskar rakyat yang mempertaruhkan nyawa. “Mereka adalah basis akar rumput yang dengan gagah berani, tanpa kenal menyerah, melawan rezim zalim pimpinan Soeharto. Militansi Pro Mega menjadi energi yang menjaga denyut perlawanan tetap hidup,” tegas politikus asal Nusa Tenggara Timur itu.

Tragedi 27 Juli 1996: Puncak Penindasan dan Daya Tahan Pro Mega

Sejarah Pro Mega tak terpisahkan dari peristiwa 27 Juli 1996. Massa pendukung Megawati yang bermarkas di Kantor DPP PDI Jalan Diponegoro digusur secara paksa oleh aparat keamanan. Tragedi yang menelan korban jiwa itu disebut Andreas sebagai puncak represi Orde Baru. “Peristiwa Kudatuli 1996 adalah puncak kesewenang-wenangan penguasa. Namun, tragedi itu justru membuktikan daya tahan Pro Mega yang luar biasa. Mereka tidak hancur, sebaliknya, puing-puing kantor itu menyulut api perlawanan yang merembet ke mana-mana dan akhirnya mendorong lahirnya reformasi pada 1998,” paparnya.

Setelah penyerbuan, solidaritas terhadap Megawati justru meluas. Pro Mega bertransformasi menjadi gerakan solidaritas nasional yang terus mengonsolidasi kekuatan meski dibayangi pengawasan ketat. “Ketahanan mereka menunjukkan bahwa penindasan tidak akan pernah mampu mengubur suara rakyat. Pro Mega menjadi simbol bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya,” tambah Andreas.

Cikal Bakal Kemenangan PDIP di Pemilu Pertama Reformasi

Ketika gelombang reformasi membuka keran demokrasi, Pro Mega menjadi modal politik utama bagi kelahiran PDI Perjuangan. Pada Pemilu 1999—pemilu demokratis pertama setelah Reformasi—PDIP keluar sebagai pemenang dengan dukungan signifikan. “Tanpa Pro Mega, mustahil PDI Perjuangan bisa meraih kemenangan di Pemilu 1999. Mereka adalah embrio yang menentukan DNA partai: berjuang dari bawah, setia pada pemimpin, dan pantang tunduk pada kesewenang-wenangan,” ujar Andreas.

Mengenakan atribut “Pro Mega” di peringatan 30 tahun Kudatuli, menurut Andreas, adalah upaya memastikan bahwa ingatan kolektif partai tidak luntur. Bukan untuk membentuk organ baru, melainkan untuk mewariskan spirit kepada generasi penerus. “Kami ingin memastikan semangat Pro Mega—militan, berakar pada rakyat, dan setia pada perjuangan—terus menyala di dada setiap kader,” pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User