Prabowo Apresiasi Sinergi Semua Pihak Wujudkan LNG Abadi
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pemangku kepentingan yang bersinergi mewujudkan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pemangku kepentingan yang bersinergi mewujudkan Proyek Strategis Nasional (PSN) LNG Abadi Masela. Dalam pernyataan resmi di Istana Merdeka, Presiden menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, kontraktor, pemerintah daerah, dan masyarakat adat menjadi kunci kemajuan proyek gas raksasa di Laut Arafura tersebut. “Saya berterima kasih atas kerja keras semua pihak, dari tingkat pusat hingga desa, yang terus menjaga momentum proyek ini,” ujar Prabowo di hadapan jajaran menteri dan CEO Inpex.
Pilar Baru Kedaulatan Energi Nasional
Proyek Abadi Masela bukan sekadar proyek migas biasa. Dengan cadangan gas alam mencapai 10,7 triliun kaki kubik (TCF), lapangan yang terletak sekitar 150 kilometer lepas pantai Kepulauan Tanimbar ini digadang-gadang menjadi salah satu tumpuan utama ketahanan energi Indonesia pasca-2030. Analis energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menilai proyek ini sebagai “transformasi lanskap gas nasional” yang mampu memperpanjang umur pasokan domestik di saat lapangan-lapangan tua mulai menurun.
Kilang LNG yang semula direncanakan terapung di tengah laut (Floating LNG/FLNG) akhirnya diputuskan dibangun di darat, tepatnya di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Perubahan skema ini membawa konsekuensi investasi yang membengkak namun menjanjikan efek pengganda ekonomi yang jauh lebih besar bagi daerah.
Kronologi dan Tonggak Penting
- 2000: Inpex Corporation menemukan potensi gas di Blok Masela.
- 2010: Plan of Development (PoD) pertama disetujui dengan skema FLNG.
- 2019: Pemerintah memutuskan beralih ke kilang LNG onshore demi manfaat lokal yang lebih luas.
- 2023: Persetujuan revisi PoD onshore dengan kapasitas produksi 9,5 juta ton LNG per tahun serta tambahan 150 juta standar kaki kubik gas pipa per hari untuk domestik.
- 2026: Presiden Prabowo menegaskan percepatan konstruksi dan peresmian status final investasi.
Membandingkan Skema FLNG vs Onshore
| Aspek | Rencana FLNG (lama) | Rencana Onshore (baru) |
|---|---|---|
| Lokasi Kilang | Lepas pantai (floating vessel) | Darat, Pulau Yamdena |
| Total Investasi (estimasi) | Sekitar USD 14-16 miliar | Hingga USD 20-24 miliar |
| Kapasitas LNG/tahun | 7,5 juta ton | 9,5 juta ton |
| Gas untuk Domestik | Minim | 150 MMSCFD dialokasikan untuk pupuk/pembangkit |
| Penyerapan Tenaga Kerja | <5.000 saat konstruksi | 30.000+ pekerja saat puncak konstruksi |
Sinergi yang Ditekankan Prabowo
Presiden menyoroti peran Inpex sebagai operator dengan kepemilikan 65%, Pertamina dengan 20%, serta dukungan Shell yang digantikan oleh Pertamina dan kemungkinan masuknya investor strategis baru dari Asia. Tidak kalah penting, dukungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang telah menyiapkan peraturan daerah dan lahan strategis untuk kawasan industri pendukung.
Di tingkat pusat, SKK Migas dan Kementerian ESDM bekerja sama menyelesaikan insentif fiskal berupa pembebasan pajak bumi dan bangunan jangka panjang serta skema bagi hasil yang menarik. “Ini adalah bukti Indonesia ramah investasi tanpa kehilangan kedaulatan,” tegas Menteri ESDM yang mendampingi Presiden.
“Proyek ini bukan hanya milik Inpex atau Jakarta, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia. Oleh karena itu, sinergi harus terus dijaga hingga LNG pertama mengalir.” — Presiden Prabowo Subianto
Dampak Ekonomi dan Lingkungan
Dengan produksi puncak 9,5 juta ton per tahun, proyek ini diproyeksikan menyumbang 0,4-0,6% PDB nasional selama fase operasi. Inpex berkomitmen menerapkan teknologi penangkapan karbon (CCS) untuk mengurangi emisi sesuai target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) Indonesia. Sekaligus, program pemberdayaan masyarakat adat di Tanimbar yang tengah disusun bersama LSM akan menjadi proyek percontohan pengelolaan sumber daya alam berkeadilan.
Proyek yang mulai konstruksi penuh di tahun 2027 dan ditargetkan onstream pada 2032 ini menjadi warisan strategis pemerintahan Prabowo dalam peta geopolitik energi global yang makin ketat. “Tidak ada lagi jeda. Abadi Masela harus benar-benar abadi bagi kemakmuran bangsa,” tutup Presiden.
[SOCIAL_TWEET]: Presiden Prabowo apresiasi sinergi semua pihak wujudkan proyek LNG Abadi Masela. Kilang darat di Tanimbar, investasi Rp300+ triliun, 30.000 lapangan kerja. LNG pertama 2032. #AbadiMasela #EnergiIndonesia #Prabowo[SOCIAL_TG]: 🚀 Presiden Prabowo apresiasi kolaborasi erat wujudkan Proyek LNG Abadi Masela! Kilang onshore di Yamdena, 9,5 juta ton/tahun, 30.000+ pekerja, target onstream 2032. Energi baru untuk Indonesia timur! 🇮🇩
Comments (0)