Potret Depok Rasa Jepang: Jalan Margonda Dihiasi Tabebuya Bermekaran

Pemandangan di Kota Depok belakangan ini berubah drastis, menghadirkan nuansa layaknya negeri sakura. Ribuan bunga tabebuya yang ditanam di sepanjang Jalan Margonda, Jalan Juanda, hingga kawasan Gran

Jul 08, 2026 - 08:46
0 0
Potret Depok Rasa Jepang: Jalan Margonda Dihiasi Tabebuya Bermekaran

Pemandangan di Kota Depok belakangan ini berubah drastis, menghadirkan nuansa layaknya negeri sakura. Ribuan bunga tabebuya yang ditanam di sepanjang Jalan Margonda, Jalan Juanda, hingga kawasan Grand Depok City (GDC) kini tengah memasuki masa mekar sempurna, menciptakan hamparan kelopak merah muda dan putih yang memukau mata.

Pantauan di lapangan, pohon-pohon tabebuya yang telah berusia beberapa tahun itu serempak mengeluarkan bunga saat kemarau tiba. Daun-daunnya rontok lebih dulu, menyisakan ranting-ranting yang kemudian dipenuhi bunga berbentuk terompet. Hasilnya, koridor jalan utama Depok itu berubah menjadi terowongan alami berwarna pastel, mirip dengan pemandangan sakura di Jepang yang biasa terjadi pada musim semi.

Fenomena ini sontak menarik perhatian warga dan pengguna jalan. Banyak di antara mereka yang sengaja berhenti sejenak, mengeluarkan ponsel, dan mengabadikan momen langka tersebut. Tidak sedikit pula yang mengunggahnya ke media sosial, membuat tagar seperti #DepokJepang dan #TabebuyaMargonda ramai diperbincangkan.

“Setiap tahun memang mekar, tapi tahun ini rasanya lebih lebat dan serentak. Saya sengaja lewat sini pulang kerja lebih awal biar bisa foto-foto. Cantik banget, kayak lagi di Jepang,” ujar Rahma, seorang warga yang ditemui di trotoar Jalan Margonda, Selasa sore.

Pemerintah Kota Depok sebelumnya memang menanam ratusan pohon tabebuya sebagai bagian dari program penghijauan dan estetika kota. Jenis yang dipilih adalah Tabebuia rosea (berbunga merah muda) dan Tabebuia aurea (kuning), namun yang mendominasi di Margonda dan Juanda adalah varietas merah muda. Selain mempercantik kota, tanaman ini dinilai tahan terhadap cuaca dan minim perawatan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok pernah menyampaikan bahwa pemilihan tabebuya bukan sekadar tren, melainkan telah melalui kajian. Pohon ini mampu menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, memiliki akar yang tidak merusak trotoar, serta siklus berbunga dua kali setahun. Namun, momentum mekar kali ini dianggap paling spektakuler karena cuaca kering yang berkepanjangan justru merangsang pembungaan lebih optimal.

Di sepanjang Jalan Juanda, terutama di sekitar area kampus dan pusat perbelanjaan, kelopak bunga yang gugur membentuk karpet alami berwarna merah muda di atas rumput dan aspal. Anak-anak terlihat bermain dan mengumpulkan kelopak, sementara para pesepeda dan pejalan kaki tampak menikmati suasana sejuk di bawah rindangnya pohon. Sementara itu, di kawasan GDC, bunga-bunga ini melatari taman kota dan area residensial, menjadikannya latar sempurna bagi sesi foto prewedding atau sekadar konten keluarga.

Sayangnya, keindahan ini diprediksi hanya akan bertahan sekitar satu hingga dua pekan sebelum bunga-bunga tersebut layu dan berganti dedaunan hijau kembali. Oleh karena itu, warga dan pengunjung diimbau untuk menikmati momen ini sebaik mungkin tanpa merusak atau memetik bunga.

Fenomena tabebuya memang bukan hanya milik Depok. Sejumlah kota seperti Surabaya dan Malang juga memiliki ikon serupa. Namun, transformasi Margonda yang merupakan jalur sibuk dan identik dengan kemacetan menjadi pandang elok penuh warna memberi optimisme tersendiri. Wajah kota penyangga Jakarta itu seolah ingin menyampaikan bahwa keindahan bisa tumbuh di tempat yang tak terduga.

Tim Apaberita.com akan terus memantau perkembangan dan momen-momen menarik lainnya seputar pesona tabebuya di Kota Depok.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
putri-anggraini

Fact Checker. Memverifikasi klaim publik dan informasi viral.

Comments (0)

User