Sebuah studi terbaru yang dilakukan para peneliti Vrije Universiteit Brussel dan diterbitkan di jurnal Science Advances mengungkapkan bahwa perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia telah membuat 560 juta anak di seluruh dunia menghadapi paparan panas ekstrem setiap tahun, jauh lebih banyak dibandingkan generasi sebelumnya. Anak-anak berusia 0 hingga 9 tahun tercatat mengalami setidaknya satu bulan tambahan hari bertekanan panas (heat stress) dalam setahun sebagai akibat langsung dari kenaikan suhu global.
Tekanan panas terjadi ketika tubuh kesulitan melepaskan panas berlebih sehingga suhu inti tubuh meningkat. Pada anak-anak, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas harian, kualitas tidur, hingga konsentrasi belajar, di samping menimbulkan risiko kesehatan jangka pendek maupun jangka panjang.
Dalam studi tersebut, para peneliti menegaskan bahwa beban tekanan panas yang ditanggung anak-anak diperkirakan terus meningkat seiring proyeksi kenaikan suhu Bumi. Dengan demikian, generasi yang lahir dalam dua dekade terakhir berpotensi menanggung dampak iklim yang jauh lebih intens dan berkepanjangan sepanjang hidup mereka dibandingkan generasi orang tuanya.
Beban Panas Anak Lebih Berat daripada Generasi Sebelumnya
Penelitian itu membandingkan jumlah hari bertekanan panas yang dialami anak-anak saat ini dengan kondisi pada generasi sebelumnya. Hasilnya, anak-anak zaman sekarang tercatat menjalani jauh lebih banyak hari dalam suhu yang membahayakan kesehatan. Para peneliti menilai tren tersebut tidak akan berbalik arah tanpa upaya penurunan emisi gas rumah kaca yang signifikan dan konsisten dari negara-negara di dunia.
Penulis utama studi, Rosa Pietroiusti, menyatakan bahwa perubahan iklim telah menempatkan ratusan juta anak di berbagai negara pada kondisi panas yang berbahaya dan menimbulkan risiko serius bagi kesehatan mereka. Ia menambahkan, ancaman tersebut menjadi semakin serius karena banyak anak hidup dalam keadaan yang membuat mereka sulit melindungi diri dari panas.
Kemiskinan dan Kualitas Hunian Memperbesar Kerentanan
Menurut Pietroiusti, sejumlah faktor sosial ekonomi turut memperparah kerentanan anak terhadap suhu ekstrem. Kemiskinan, kualitas hunian yang buruk, keterbatasan akses terhadap pendingin ruangan, serta sistem layanan kesehatan yang terbebani membuat kemampuan anak dalam menghadapi panas semakin terbatas.
Kondisi tersebut, lanjut para peneliti, tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga mengganggu fungsi fisiologis tubuh. Paparan panas yang berkepanjangan dapat melemahkan kemampuan tubuh dalam mengatur suhu dan meningkatkan risiko penyakit serius yang berkaitan dengan panas, termasuk dehidrasi dan gangguan pada organ vital.
Bayi Baru Lahir dan Lansia Kelompok Paling Berisiko
Tingkat kerentanan terhadap tekanan panas, menurut studi tersebut, berbeda-beda berdasarkan usia. Kelompok bayi baru lahir, anak-anak, dan penduduk lanjut usia dinilai paling berisiko mengalami dampak kesehatan akibat panas. Para peneliti menekankan bahwa anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim dan akan menghadapi dampak yang semakin intens sepanjang hidup mereka.
Kerentanan pada anak diperkuat oleh kondisi tubuh yang masih dalam tahap perkembangan, sehingga kemampuan beradaptasi terhadap perubahan suhu lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Kombinasi faktor fisiologis dan kondisi sosial ekonomi itulah yang menjadikan anak sebagai kelompok yang paling membutuhkan perhatian dalam kebijakan penanganan perubahan iklim.
Perlunya Percepatan Aksi Mitigasi dan Adaptasi
Temuan tersebut memperkuat urgensi percepatan langkah mitigasi, termasuk penurunan emisi gas rumah kaca secara ambisius, serta penguatan langkah adaptasi bagi kelompok rentan. Para peneliti menilai negara-negara dengan jumlah penduduk terdampak yang besar perlu memperluas akses terhadap infrastruktur pelindung panas, memperbaiki kualitas hunian, dan memperkuat sistem layanan kesehatan bagi masyarakat.
Para peneliti juga menekankan bahwa perlindungan anak dari dampak perubahan iklim harus menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan di tingkat nasional maupun global. Kebijakan yang berorientasi pada kelompok rentan dinilai penting untuk memastikan setiap anak memperoleh hak atas lingkungan yang aman dan sehat.
Studi ini menjadi salah satu bukti ilmiah terbaru bahwa dampak perubahan iklim tidak lagi menjadi persoalan masa depan, melainkan telah dirasakan langsung oleh generasi termuda saat ini. Tanpa intervensi yang memadai, beban panas yang ditanggung anak-anak diprediksi terus bertambah dan berpotensi memperlebar kesenjangan kesehatan antara kelompok masyarakat mampu dan tidak mampu di berbagai negara.
Comments (0)