Jakarta — Pengguna Google Maps kini dituntut lebih waspada. Modus penipuan terbaru memanfaatkan gambar buatan kecerdasan buatan (AI) yang diunggah ke halaman profil bisnis palsu. Dalam gambar tersebut, terselip nomor telepon palsu yang mengarahkan korban ke penipu, bukan ke usaha yang asli. Kasus ini mulai marak dilaporkan di berbagai kota dan menyeret korban dari berbagai kalangan.
Para pelaku membangun reputasi palsu secara cepat. Mereka membuat daftar usaha baru, mengunggah foto-foto tampak profesional hasil render AI, lalu menanamkan nomor kontak milik sendiri. Ketika calon korban mencari layanan — dari bengkel, servis AC, hingga jasa pindahan — nomor penipu yang muncul lebih dulu.
Cara Kerja Modus di Lapangan
Berdasarkan rangkaian laporan pengguna, pola kejadiannya berulang dan mudah ditelusuri:
- Penipu membuat bisnis baru di Google Business Profile dengan nama mirip usaha asli, terkadang hanya berbeda satu huruf atau tambahan kota.
- Gambar AI diunggah massal — foto toko, tim kerja, hingga nota transaksi dibuat sintetis sehingga terlihat kredibel.
- Nomor palsu disisipkan di dalam gambar atau deskripsi, tidak terdaftar di kontak resmi bisnis asli.
- Korban menelepon, lalu diminta membayar muka atau biaya jaminan barang sebelum layanan dikerjakan.
- Uang masuk ke rekening penipu, sementara pelaku menghilang dan menutup profil bisnisnya.
Yang membuat modus ini efektif adalah kepercayaan pengguna pada ulasan dan foto Google Maps. Lebih dari 70 persen pengguna mengaku memilih jasa berdasarkan rating dan tampilan visual profil, tanpa memverifikasi nomor telepon ke sumber resmi.
Tanda-Tanda yang Mudah Dikenali
Ahli keamanan siber menegaskan bahwa penipuan jenis ini menyisakan jejak yang kentara. “Gambar AI punya cacat visual khas — jari tangan berlebih, tulisan di papan nama yang tidak nyambung, dan bayangan tidak konsisten,” ujar seorang peneliti keamanan digital. “Kalau fotonya terlalu sempurna tapi detailnya aneh, curigai.”
Beberapa penanda lain yang perlu diperiksa:
- Rating sempurna dalam waktu singkat — puluhan ulasan bintang lima muncul dalam hitungan hari.
- Nomor telepon berbeda dari website resmi atau akun media sosial bisnis.
- Alamat tidak konsisten — tertera di Google Maps tetapi tidak ditemukan di pencarian lain.
- Permintaan pembayaran di muka lewat transfer bank atau dompet digital tanpa kontrak.
Waspadai profil bisnis yang seluruh materinya terasa “terlalu rapi”, tetapi tidak memiliki jejak digital di luar Google Maps.
Cara Memastikan Informasi yang Benar
Langkah paling sederhana adalah membandingkan nomor telepon pada Google Maps dengan nomor yang tercantum di situs resmi, akun media sosial terverifikasi, atau direktori bisnis lain. Jika ada perbedaan, batalkan panggilan. Selain itu, gunakan fitur verifikasi lapisan biru pada profil bisnis, dan baca ulasan terbaru — bukan hanya ringkasan rating.
Google sendiri menyediakan mekanisme pelaporan. Pengguna dapat menandai profil sebagai “Tempat ini tidak ada” atau “Info menyesatkan” melalui menu laporan di aplikasi. Pelaporan massal terbukti mempercepat penghapusan profil palsu.
Pihak berwenang mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah terpancing rayuan harga murah. Kerugian per kasus berkisar Rp500 ribu hingga Rp5 juta, dengan total dugaan kerugian puluhan juta rupiah hanya dari satu wilayah. Kunci utamanya tetap satu: verifikasi silang sebelum membayar.
Comments (0)