Pengembangan Wisata Religi Dorong Ekonomi dan Toleransi

JAKARTA — Pemerintah terus mendorong pengembangan wisata religi sebagai sektor unggulan pariwisata nasional. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, memperkuat toleransi antaragama

Jul 23, 2026 - 06:27
0 0
Pengembangan Wisata Religi Dorong Ekonomi dan Toleransi

JAKARTA — Pemerintah terus mendorong pengembangan wisata religi sebagai sektor unggulan pariwisata nasional. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, memperkuat toleransi antaragama, serta menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar destinasi. Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat bahwa kunjungan ke destinasi wisata religi pada 2023 mencapai 15,8 juta orang, meningkat 12% dibanding tahun sebelumnya.

Destinasi Unggulan dan Dampak Ekonomi

Beberapa destinasi wisata religi yang menjadi prioritas pengembangan antara lain Masjid Istiqlal di Jakarta, Candi Borobudur di Jawa Tengah, serta makam ulama dan pesantren di berbagai daerah. Pengembangan ini tidak hanya fokus pada aspek spiritual, tetapi juga infrastruktur pendukung seperti akses transportasi, akomodasi, dan pusat oleh-oleh. Di kawasan Masjid Agung Demak, misalnya, jumlah pedagang kaki lima meningkat 30% sejak revitalisasi area wisata rampung pada 2023.

Ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Fauzi, menilai bahwa pengembangan wisata religi memiliki efek berganda. "Setiap satu kunjungan wisatawan religi rata-rata menghabiskan Rp 1,2 juta per perjalanan. Ini menggerakkan sektor UMKM, perhotelan, dan transportasi lokal," ujarnya dalam sebuah diskusi daring. Selain itu, pengembangan ini juga membuka lapangan kerja baru bagi pemandu wisata religi dan pengelola homestay.

Penguatan Toleransi dan Edukasi

Kementerian Agama juga turut serta dalam program ini dengan mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama. Wisata religi tidak hanya diperuntukkan bagi umat Islam, tetapi juga terbuka untuk wisatawan dari berbagai latar belakang. Contoh sukses adalah program "Wisata Harmoni" di Kampung Bali, Denpasar, yang mengajak pengunjung belajar tentang toleransi di tengah keberagaman budaya dan agama. Program ini berhasil menarik 50.000 wisatawan domestik pada semester pertama 2024.

Selain itu, pengembangan wisata religi juga diarahkan untuk pelestarian budaya. Di kompleks makam Sunan Gunung Jati, Cirebon, pemerintah daerah setempat mengadakan festival budaya setiap bulan yang menampilkan seni tradisional Islami. Festival ini mampu meningkatkan kunjungan rata-rata 20% setiap tahunnya.

Target dan Tantangan ke Depan

Pemerintah menargetkan peningkatan jumlah wisatawan religi sebesar 15% pada 2025. Namun, tantangan masih ada, seperti kesiapan infrastruktur di daerah terpencil dan perlunya standarisasi pelayanan. Kepala Badan Otorita Pariwisata Danau Toba, Jimmy Siregar, menyatakan bahwa pengembangan destinasi religi di kawasan Danau Toba saat ini masih terkendala akses jalan yang rusak. "Kami terus berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk perbaikan jalan, sehingga wisatawan dapat lebih mudah menjangkau lokasi," jelasnya.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, pengembangan wisata religi diharapkan tidak hanya menjadi motor ekonomi, tetapi juga menjadi jembatan persaudaraan antarbangsa. Industri ini pun optimistis dapat mendongkrak devisa negara sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai destinasi wisata religi yang ramah dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User