Penanganan Kebakaran TPA Jatiwaringin Berlanjut di Hari Kedelapan
Petugas pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Tangerang terus melakukan upaya pemadaman di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Jatiuwung, K...
Petugas pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Tangerang terus melakukan upaya pemadaman di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Jatiuwung, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (07/07/2026). Kebakaran pada tumpukan sampah yang menumpuk sejak belasan tahun itu memasuki hari kedelapan dengan tingkat kesulitan yang tergolong tinggi akibat ketebalan timbunan mencapai belasan meter dan kepulan asap pekat yang menyelimuti area sekitar.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, Hendar Susanto, dihubungi melalui sambungan telepon, menegaskan bahwa hingga pukul 16.00 WIB, sebanyak 12 unit mobil pemadam dan 89 personel masih berjibaku melakukan pendinginan dan pembongkaran gunungan sampah menggunakan alat berat. "Kami terus menyemprotkan air dan cairan pembasah untuk menekan laju api di dalam timbunan. Medannya sulit karena api bergerak di bawah permukaan sampah yang sudah terkompaksi," menyatakan Hendar.
Kronologi dan Eskalasi Penanganan
Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Senin (30/06/2026) sekitar pukul 09.30 WIB dari titik pantau petugas jaga. Api diduga berasal dari reaksi panas spontan gas metana yang terakumulasi di dalam gunungan sampah organik. Hanya dalam tempo dua jam, kobaran api meluas hingga radius 70 meter dari pusat api. DPKP Kabupaten Tangerang langsung mengerahkan 5 unit mobil pemadam dan 32 personel, namun upaya tersebut belum mampu mengendalikan api karena keterbatasan jangkauan semprot dan minimnya sumber air di area TPA.
Merespons situasi darurat ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Keputusan Bupati Nomor 356/Kep.212-BPBD/2026 yang ditetapkan pada 1 Juli 2026, secara resmi meningkatkan status menjadi Tanggap Darurat Bencana Kebakaran TPA. Keputusan itu menjadi dasar pengerahan sumber daya tambahan dari BPBD, TNI, Polri, serta partisipasi Perumda Air Minum Tirta Benteng untuk suplai air bersih dan perusahaan swasta yang meminjamkan alat berat. Hingga Selasa, total armada yang dikerahkan mencapai 17 unit, termasuk dua ekskavator yang difungsikan membongkar lapisan sampah agar air bisa menjangkau titik api di kedalaman.
Rapat Koordinasi Lintas Sektor
Rapat Koordinasi penanganan bencana yang dipimpin langsung oleh Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, di Posko Utama TPA Jatiwaringin pada Senin (06/07/2026) malam, menghasilkan sejumlah keputusan strategis guna menindaklanjuti lambatnya progres pemadaman. Dalam rapat yang dihadiri unsur Forkopimda, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Camat Jatiuwung, Bupati menegaskan perlunya pembagian zona prioritas pemadaman berbasis tiga ring. "Ring satu di pusat api utama seluas kurang lebih 1,2 hektare, ring dua di area penyangga yang masih menyisakan titik panas, dan ring tiga di permukiman terdekat untuk memastikan kualitas udara tetap dalam ambang aman," ujar Bupati setelah rapat.
Rapat juga menghasilkan kesepakatan untuk meminta dukungan water bombing dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui helikopter Sikorsky, mengingat sumber air permukaan yang semakin menipis. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tangerang, Ujang Sudrajat, menyampaikan bahwa surat permohonan resmi telah dikirim dan dijadwalkan operasi udara dimulai Rabu (08/07/2026) dengan drop point di Danau Cipondoh. "Kami memperhitungkan setiap satu sortie mampu membawa 4.000 liter air yang bisa menjangkau area terdalam yang tidak bisa diakses mobil pemadam," katanya.
Dampak Lingkungan dan Kesehatan Warga
Kepulan asap putih kehitaman dari TPA Jatiwaringin telah berdampak langsung pada permukiman di tiga desa—Desa Jatiwaringin, Desa Gandasari, dan Desa Pasir Jaya—dengan radius terdampak mencapai 2,8 kilometer. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat, sejak 2 Juli 2026 hingga kemarin, sebanyak 347 warga memeriksakan diri dengan keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan iritasi mata. Kepala Dinas Kesehatan, dr. Siti Nurbalqis, menegaskan bahwa pihaknya telah mendistribusikan lebih dari 12.000 masker N95 dan mendirikan tiga posko kesehatan darurat. "Kami juga mengimbau agar kegiatan belajar mengajar di TK dan SD yang berada dalam radius 1,5 kilometer diliburkan sementara, berdasarkan rekomendasi yang sudah kami sampaikan ke Dinas Pendidikan," jelasnya.
Dari sisi lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang terus memantau kadar partikulat (PM2.5) menggunakan sensor bergerak. Data terakhir menunjukkan konsentrasi PM2.5 rata-rata 157 µg/m³—jauh di atas ambang baku mutu nasional sebesar 55 µg/m³—pada malam hari saat arah angin menuju permukiman. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Heru Setiawan, menyatakan pihaknya telah menerjunkan dua mobil penyemprot kabut (water mist) untuk meredam sebaran debu dan asap di area permukiman padat penduduk.
Evaluasi Sistem Pengelolaan Sampah
Peristiwa kebakaran berlarut ini memicu evaluasi mendasar terhadap pengelolaan TPA Jatiwaringin yang telah beroperasi sejak 2012 dan menerima beban harian 1.100 ton sampah dari 29 kecamatan. Bupati Ahmed Zaki, dalam sesi peninjauan, memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup untuk menyusun rencana aksi percepatan pembangunan instalasi pengolahan gas metana dan perluasan sistem penangkapan gas yang selama ini baru mencakup 20 persen dari area seluas 25 hektare. "Kami harus segera mewujudkan sistem sanitary landfill yang tertutup dan terkelola sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, agar kejadian serupa tidak berulang," tegas Bupati.
Sementara itu, Komisi D DPRD Kabupaten Tangerang yang membidangi lingkungan hidup, melalui Ketua Komisi D, H. Muhari, berencana menggelar rapat pleno khusus pada Kamis (09/07/2026) untuk membahas alokasi anggaran penanganan darurat dan rencana jangka panjang TPA. "Fraksi-fraksi di DPRD sepakat bahwa musibah ini harus menjadi momentum perbaikan tata kelola sampah secara menyeluruh, termasuk percepatan proyek TPA Regional yang sudah lama direncanakan," ujarnya. Hingga berita ini diturunkan, operasi pemadaman diproyeksikan masih akan berlangsung setidaknya enam hari ke depan, bergantung pada efektivitas water bombing dan penurunan suhu di dalam gunungan sampah.
Baca juga:
Comments (0)