Sep 16, 2026
Nasional

Pemprov Kalbar Kerahkan 3 Pesawat Modifikasi Cuaca Atasi Karhutla

PONTIANAK, APABERITA.COM — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi men

Pemprov Kalbar Kerahkan 3 Pesawat Modifikasi Cuaca Atasi Karhutla

PONTIANAK, APABERITA.COM — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah strategis dalam menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penanganan intensif ini melibatkan armada udara sebanyak 3 unit pesawat yang disiagakan untuk menyamai awan-awan potensial hujan di atas wilayah-wilayah yang paling rawan terbakar.

Langkah ini diambil mengingat intensitas cuaca kering yang kian meningkat di sepanjang musim kemarau, yang berpotensi memicu lonjakan jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah kabupaten. Operasi modifikasi cuaca tersebut berfokus pada wilayah lahan gambut yang memiliki tingkat kerawanan sangat tinggi, seperti Kabupaten Kubu Raya, Ketapang, dan Mempawah. Dengan penyemaian garam (NaCl) secara terukur, diharapkan presipitasi hujan buatan dapat membasahi lahan gambut yang mengering sebelum api meluas.

Strategi Modifikasi Cuaca dan Penanganan Jalur Udara

Operasi Modifikasi Cuaca yang diresmikan ini menyinergikan peran Pemprov Kalbar, BNPB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI AU. Penggunaan 3 pesawat armada khusus ini ditujukan untuk mempermudah jangkauan ke area terisolasi yang sulit diakses oleh tim Satgas Darat.

Menurut analis kebencanaan, penanganan karhutla di lahan gambut memerlukan pendekatan komprehensif karena karakter api yang sanggup merambat di bawah permukaan tanah. "Intervensi cuaca melalui OMC sangat vital untuk menjaga kelembapan tanah gambut. Jika lapisan gambut atas tetap basah, potensi timbulnya titik api akibat paparan panas terik dapat ditekan secara signifikan," ujar pakar lingkungan hidup regional.

Berikut adalah tahapan operasional yang dilakukan oleh Tim Satgas Karhutla Kalbar dalam mendukung pelaksanaan OMC:

  1. Pemetaan Udara dan Radar BMKG: Mengidentifikasi pertumbuhan awan Cumulus potensial setiap pagi sebelum sortie penerbangan dilakukan.
  2. Penyemaian Bahan Semai (NaCl): Pesawat menerbangkan bahan semai ke ketinggian optimum untuk menstimulasi pembentukan titik-titik air hujan di atas kawasan rawan.
  3. Pembasahan Gambut (Water Bombing): Helikopter pembom air dikerahkan untuk melakukan pemadaman langsung pada titik api yang sudah terdeteksi menyala.
  4. Patroli Terpadu Satgas Darat: Penjagaan intensif di lokasi yang sudah dibasahi guna memastikan tidak ada sisa jelutong atau sekam yang memicu kembali kebakaran.
"Kami tidak boleh lengah sedikit pun. Penggunaan tiga unit pesawat OMC ini adalah bukti komitmen bersama antara pemerintah daerah dan pusat untuk melindungi masyarakat dari bencana kabut asap yang merusak kesehatan dan perekonomian," ungkap perwakilan BNPB.

Analisis Distribusi Armada dan Target Operasi Karhutla

Guna memetakan efektivitas operasi udara ini, berikut adalah rincian alokasi dan peran armada pesawat yang dikerahkan dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat:

Jenis Armada Jumlah Fungsi Utama Wilayah Prioritas
Pesawat C208 / Casa 2 Unit Penyemaian Awan (OMC / Hujan Buatan) Kubu Raya, Ketapang, Sanggau
Helikopter Water Bombing 1 Unit Pemadaman Langsung Titik Api (Direct Attack) Area Gambut Terisolasi

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha di sektor perkebunan untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar. Ketegasan hukum akan diterapkan bagi pihak-pihak yang sengaja memicu kebakaran hutan. Diharapkan dengan kombinasi strategi OMC dari udara dan patroli ketat di darat, Provinsi Kalbar terbebas dari ancaman bencana asap tahun ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rizky-amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Comments (0)

User