Pemkot Beberkan Penyebab Harimau Putih Mati di Semarang Zoo
Pemerintah Kota Semarang melalui Sekretaris Daerah Handi Priyanto memberikan penjelasan resmi terkait kematian harimau putih koleksi Kebun Binatang Semarang (Semarang Zoo) yang terjadi pada Kamis, 23 ...
Pemerintah Kota Semarang melalui Sekretaris Daerah Handi Priyanto memberikan penjelasan resmi terkait kematian harimau putih koleksi Kebun Binatang Semarang (Semarang Zoo) yang terjadi pada Kamis, 23 Juli 2026. Satwa bernama Anggun itu dilaporkan mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif selama hampir dua pekan di kandang karantina. Kematian ini menimbulkan duka mendalam bagi pengelola kebun binatang dan masyarakat yang kerap mengunjungi satwa langka tersebut. Petugas menemukan Anggun dalam kondisi tidak bernyawa pada pukul 06.15 WIB dan segera melaporkan kejadian ini kepada dinas terkait.
Hasil Nekropsi dan Pengumuman Resmi
Handi Priyanto menyampaikan bahwa penyebab kematian Anggun telah diketahui melalui prosedur nekropsi yang dilakukan pada pukul 09.00 WIB di klinik hewan kebun binatang. Tim dokter hewan gabungan terdiri dari Dinas Pertanian Kota Semarang, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Diponegoro, dan dokter hewan praktisi yang dipimpin oleh Dr. Ratna Dewi, spesialis patologi satwa liar. Proses nekropsi berlangsung selama empat jam dan hasil lengkapnya dirilis pada pukul 14.00 WIB.
"Berdasarkan laporan yang kami terima, harimau putih betina berusia 15 tahun itu mengalami gagal ginjal tahap akhir yang diperparah oleh infeksi bakteri Escherichia coli pada saluran pencernaan. Bakteri ini memicu sepsis yang membuat kondisi kesehatannya terus memburuk meskipun telah diberikan antibiotik dan terapi suportif. Kami juga mendapat informasi bahwa uji antibiogram menunjukkan resistensi bakteri terhadap beberapa jenis antibiotik lini pertama, sehingga pengobatan menjadi kurang efektif,"
jelas Handi Priyanto dalam konferensi pers di Balai Kota Semarang, Jumat (24/7/2026). Ia menambahkan bahwa faktor usia menjadi kontributor dominan menurunnya fungsi organ vital harimau putih tersebut. Sampel organ juga telah dikirim ke laboratorium patologi independen untuk pemeriksaan histopatologi lebih lanjut guna memastikan tidak ada penyakit infeksius baru yang mengancam satwa lain.
Kronologi Penanganan dan Perawatan Intensif
Gejala awal penyakit Anggun mulai terdeteksi pada 11 Juli 2026 ketika penjaga kandang melihat satwa itu tidak nafsu makan dan terlihat lesu. Tim dokter hewan segera melakukan pemeriksaan awal dan mengambil sampel darah. Hasil laboratorium yang keluar pada 12 Juli menunjukkan adanya penurunan fungsi ginjal dan peningkatan sel darah putih yang menandakan infeksi. Anggun pun segera dipindahkan ke kandang karantina yang dilengkapi pendingin ruangan dan dipantau selama 24 jam oleh dua orang perawat satwa.
Selama perawatan, dokter hewan memberikan terapi cairan infus, vitamin, dan antibiotik berbasis hasil kultur bakteri. Namun, respons klinis tidak memuaskan. Pada 20 Juli, kondisi Anggun mulai kritis dengan gejala muntah dan diare berdarah. Tim medis memperkuat pengobatan dengan menambahkan obat antiradang dan melakukan konsultasi jarak jauh dengan drh. Bambang Supriyanto, spesialis satwa liar dari Taman Safari Prigen. Meskipun rejimen obat telah disesuaikan, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Anggun dinyatakan mati pada pukul 22.45 WIB pada 23 Juli 2026 setelah tim dokter hewan menyatakan tidak ada lagi respons vital.
Langkah Evaluasi dan Jaminan Kesejahteraan Satwa
Menanggapi peristiwa ini, Handi Priyanto menegaskan bahwa Pemerintah Kota Semarang akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap manajemen kesehatan satwa di Semarang Zoo. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah meminta Dinas Pertanian untuk melakukan audit terhadap standar operasional prosedur penanganan kesehatan hewan, termasuk perbaikan sarana karantina dan peningkatan kompetensi tenaga medis.
"Kami tidak ingin kejadian serupa terulang. Ke depan, kami akan memperketat pengawasan kesehatan satwa, terutama yang sudah berusia lanjut. Prioritas utama kami adalah menjamin kesejahteraan seluruh satwa di kebun binatang sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Saya juga telah memerintahkan pembentukan gugus tugas bersama yang melibatkan akademisi untuk menyusun sistem pemantauan kesehatan harian berbasis digital bagi satwa senior,"
tegas Handi. Ia juga memastikan bahwa bangkai Anggun akan diawetkan melalui proses taksidermi untuk kepentingan edukasi, sementara kandang yang pernah ditempatinya akan disterilisasi total menggunakan disinfektan khusus sebelum digunakan kembali. Pemerintah kota juga membuka ruang bagi akademisi dan lembaga konservasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut guna mencegah kematian dini pada satwa konservasi. Sebagai langkah transparansi, Pemkot mengundang auditor independen dari organisasi kesejahteraan hewan internasional untuk menilai tata kelola kebun binatang.
Respons Publik dan Solidaritas
Kabar kematian Anggun menyebar cepat di media sosial dan menuai ungkapan belasungkawa dari masyarakat. Banyak warga Semarang yang mengaku kehilangan karena harimau putih itu telah menjadi ikon kebun binatang sejak didatangkan dari Taman Safari Prigen pada 2012. Sejumlah komunitas pecinta satwa mendatangkan karangan bunga ke pintu masuk Semarang Zoo sebagai bentuk penghormatan terakhir. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, turut menyampaikan duka cita melalui akun resminya dan menginstruksikan agar pengelola menyediakan buku belasungkawa bagi pengunjung.
Direktur Semarang Zoo, Agus Wirawan, menyatakan bahwa pihaknya akan menggelar acara peringatan kecil bersama staf perawat yang telah merawat Anggun selama bertahun-tahun. "Anggun adalah bagian dari keluarga besar kami. Kepergiannya meninggalkan kesedihan yang dalam, tetapi kami berkomitmen untuk terus belajar dari pengalaman ini demi satwa-satwa lainnya. Kami juga akan menutup sementara area exhibit harimau putih untuk renovasi dan penghormatan," ucapnya.
Data Populasi dan Status Konservasi
Harimau putih merupakan varian genetik dari harimau bengal (Panthera tigris tigris) yang keberadaannya di alam liar sangat langka. Berdasarkan data dari Global White Tiger Conservation, populasi harimau putih di seluruh dunia diperkirakan tidak lebih dari 250 individu, yang sebagian besar berada di penangkaran. Di Indonesia, Semarang Zoo sebelumnya memiliki dua ekor harimau putih, yaitu Anggun dan pasangan jantannya yang bernama Bima. Bima sendiri telah mati pada 2021 akibat kegagalan organ multipel terkait usia.
Dengan kematian Anggun, Semarang Zoo kini tidak lagi memiliki satwa harimau putih. Pihak kebun binatang hanya merawat satu harimau sumatera yang merupakan hasil sitaan dan titipan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah. Handi Priyanto menambahkan bahwa rencana penambahan koleksi satwa akan disesuaikan dengan kapasitas kebun binatang dan rekomendasi dari otoritas konservasi. "Kami akan bekerja sama dengan BKSDA dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk memastikan kebun binatang tetap memenuhi standar sebagai lembaga konservasi ex-situ yang baik. Apakah akan menambah harimau putih lagi atau fokus pada spesies lain, semua akan dirumuskan berdasarkan kajian mendalam," pungkasnya.
Comments (0)