PDIP Desak Warga Jaga Kondusivitas Pascabentrokan Maut Menteng

Jakarta — Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Dewan Perwakilan Rakyat, Nasyirul Falah Amru, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas bentrokan berdarah ...

PDIP Desak Warga Jaga Kondusivitas Pascabentrokan Maut Menteng

Jakarta — Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Dewan Perwakilan Rakyat, Nasyirul Falah Amru, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas bentrokan berdarah yang terjadi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin malam (20/7/2026). Insiden yang melibatkan dua kelompok warga itu menewaskan dua orang dan melukai tiga lainnya.

Mewakili fraksinya, Nasyirul mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menahan diri dan menjaga stabilitas keamanan di ibu kota. "Saya sangat menyesalkan peristiwa ini. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah. Saya meminta warga tetap tenang, tidak terprovokasi, dan bersama-sama merawat kondusivitas lingkungan kita," tegasnya dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Selasa (21/7/2026).

Kronologi Bentrokan di Menteng

Menurut keterangan Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat, bentrokan pecah sekitar pukul 22.00 WIB di Jalan Teuku Cik Ditiro. Dua kelompok yang diduga telah berseteru selama tiga bulan terakhir saling serang menggunakan senjata tajam dan botol beling. Mereka dikabarkan memperebutkan pengelolaan lahan parkir di sekitar pusat perbelanjaan yang selama ini menjadi sumber ketegangan.

Bentrokan berlangsung selama kurang lebih 30 menit sebelum petugas tiba. Korban AR (34) meninggal di lokasi dengan luka tusuk di dada, sedangkan MR (29) wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo setelah perawatan intensif. Tiga orang lainnya masih dirawat dengan luka berat dan ringan. Polisi menyita dua bilah celurit dan sejumlah barang bukti lainnya.

Latar Belakang Sengketa

Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan bahwa kedua kelompok berasal dari rukun tetangga yang bertetangga. Perselisihan tentang hak kelola parkir telah berulang kali dimediasi oleh kelurahan setempat, namun selalu menemui jalan buntu. Ketegangan memuncak ketika salah satu pihak diduga melanggar kesepakatan yang telah disepakati bersama. "Ini bukan konflik tiba-tiba. Warga sudah resah, tapi sayangnya tidak tertangani dengan baik," ujar seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.

Seruan dari PDIP

Nasyirul Falah Amru menekankan bahwa peristiwa semacam ini tidak boleh terulang, apalagi di kawasan Menteng yang merupakan salah satu pusat sejarah dan simbol ketertiban ibu kota. "Menteng adalah etalase Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI dan kepolisian harus segera melakukan langkah-langkah preventif. Pendekatan sosial, mediasi, dan penegakan hukum harus berjalan beriringan agar rasa aman warga pulih," tegas legislator asal daerah pemilihan Jawa Timur X itu.

Ia juga mengingatkan bahwa partai politik, organisasi masyarakat, dan tokoh agama memiliki tanggung jawab untuk tidak menyebarkan narasi provokatif. "PDIP menempatkan persatuan di atas segalanya. Jangan ada pihak yang mengambil keuntungan dari duka ini. Kami mendesak semua pihak untuk mengedepankan dialog dan menahan diri," imbuhnya.

Komitmen DPR Mengawal Kasus

Komisi III DPR yang membidangi hukum dan keamanan, melalui anggota Fraksi PDIP Trimedya Panjaitan, menyatakan akan memanggil Kapolres Metro Jakarta Pusat dan pejabat terkait untuk memberikan klarifikasi. "Kami ingin memastikan penanganan kasus berjalan profesional, transparan, dan adil. Tidak boleh ada impunitas. Deteksi dini terhadap potensi konflik sosial harus menjadi prioritas," ujar Trimedya.

Sementara itu, Nasyirul menegaskan bahwa fraksinya akan terus memantau perkembangan investigasi. "Kami percayakan proses hukum kepada kepolisian, tetapi kami tidak akan tinggal diam. Semua warga negara sama di mata hukum, dan negara wajib hadir memberikan keadilan," pungkasnya.

Respons Aparat dan Pemerintah Daerah

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Besar Polisi Dwi Prasetyo, menyatakan situasi di Menteng telah terkendali. Pihaknya meningkatkan patroli dan menempatkan personel di titik-titik rawan. "Kami menjamin keamanan warga. Masyarakat kami imbau untuk tidak ragu melapor jika melihat indikasi gangguan. Hingga saat ini kami telah memeriksa enam saksi dan memburu dua pelaku utama yang identitasnya sudah dikantongi," katanya.

Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, turut menyampaikan belasungkawa. "Saya berduka atas jatuhnya korban. Ini menjadi pelajaran pahit untuk kita semua. Ke depan, kita harus lebih peka terhadap konflik-konflik kecil di masyarakat. Saya akan mengevaluasi sistem pengamanan lingkungan hingga tingkat kelurahan," ujarnya melalui keterangan tertulis.

Suara Warga dan Pengamat

Salah seorang warga Menteng, Rina (45), mengaku tidak menyangka kawasan tempat tinggalnya yang biasanya aman berubah menjadi arena pertumpahan darah. "Saya sangat terpukul. Anak-anak takut keluar rumah. Semoga polisi cepat menangkap pelaku dan suasana kembali damai," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Pengamat keamanan perkotaan dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Arif Budiman, menilai peristiwa ini sebagai sinyalemen adanya ketidakpuasan sosial yang terpendam. "Akar masalah seperti sengketa lahan dan ekonomi mikro tidak boleh diabaikan. Pemerintah harus proaktif menyelesaikan persoalan di tingkat bawah sebelum berubah menjadi kekerasan massal. Citra Jakarta sebagai kota aman juga dipertaruhkan di mata investor dan wisatawan," ungkapnya.

Sosiolog dari Universitas Nasional, Dr. Siti Zuhro, menambahkan bahwa momentum duka ini seharusnya menyatukan, bukan memecah belah. "Semua pihak, termasuk elit politik, harus menahan diri untuk tidak menjadikan insiden ini sebagai senjata politik. Fokus kita bersama adalah memulihkan kepercayaan warga dan memastikan hukum ditegakkan tanpa pandang bulu," tuturnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User