Pariwisata Berkelanjutan dan Ekowisata Jadi Prioritas Pembangunan Nasional
JAKARTA — Pemerintah Indonesia terus menggencarkan program pariwisata berkelanjutan dan ekowisata sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi pascapandemi. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreati
JAKARTA — Pemerintah Indonesia terus menggencarkan program pariwisata berkelanjutan dan ekowisata sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi pascapandemi. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan pengembangan 30 destinasi ekowisata baru hingga tahun 2025, dengan fokus pada konservasi alam, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pengalaman wisata yang ramah lingkungan. Langkah ini sejalan dengan komitmen Indonesia dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) dan mengurangi dampak negatif pariwisata massal terhadap lingkungan.
Ekowisata sebagai Solusi Ramah Lingkungan
Ekowisata menjadi salah satu pilar utama pariwisata berkelanjutan di Indonesia. Konsep ini menekankan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Destinasi seperti Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera, dan Desa Wisata Penglipuran di Bali menjadi contoh sukses penerapan ekowisata. Di Taman Nasional Komodo, misalnya, pemerintah memberlakukan kuota kunjungan harian sebanyak 200 orang sejak 2022 untuk menjaga kelestarian populasi komodo dan habitatnya. Langkah serupa juga diterapkan di Taman Nasional Gunung Leuser dengan sistem e-ticketing dan jalur trekking terbatas.
Data dari Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan ke destinasi ekowisata meningkat 15% pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total 12,5 juta perjalanan wisatawan nusantara dan mancanegara. Kontribusi sektor pariwisata berkelanjutan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional diperkirakan mencapai 4,8% pada tahun 2024, naik dari 4,2% pada tahun 2022. Hal ini menunjukkan bahwa ekowisata tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan.
Langkah Pemerintah dan Partisipasi Masyarakat
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah meluncurkan beberapa program strategis, di antaranya Program Desa Wisata Berkelanjutan yang melibatkan 500 desa di seluruh Indonesia. Program ini memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal tentang pengelolaan homestay, interpretasi alam, dan pemasaran digital. Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan pedoman sertifikasi ekowisata yang wajib dipenuhi oleh pengelola destinasi, termasuk aspek pengelolaan sampah, penggunaan energi terbarukan, dan pelibatan komunitas adat.
Di tingkat daerah, Gubernur Bali telah mengeluarkan kebijakan moratorium pembangunan hotel dan vila di kawasan wisata alam tertentu untuk mencegah alih fungsi lahan. Sementara itu, di Yogyakarta, komunitas lokal di Desa Wisata Ketingan aktif mengembangkan ekowisata berbasis pertanian organik dan budaya, dengan pendapatan yang meningkat 40% dalam dua tahun terakhir. Partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan, karena mereka berperan langsung sebagai pemandu, pengelola penginapan, dan penjaga kearifan lokal.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun prospek cerah, pariwisata berkelanjutan masih menghadapi tantangan. Di antaranya adalah kurangnya kesadaran wisatawan akan praktik ramah lingkungan, serta keterbatasan infrastruktur di destinasi terpencil. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa volume sampah plastik di kawasan wisata alam masih tinggi, mencapai 30% dari total sampah yang dihasilkan. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah bersama swasta dan komunitas mulai menerapkan sistem pengelolaan sampah terpadu dan kampanye #BawaPulangSampah.
Ke depan, Indonesia bertekad menjadi salah satu destinasi ekowisata terbaik di dunia. Dengan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, pariwisata berkelanjutan diyakini dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan ramah lingkungan. Seperti yang disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, “Ekowisata bukan hanya tren, melainkan kebutuhan bagi masa depan pariwisata Indonesia. Kami mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga alam dan budaya sebagai aset berharga yang diwariskan kepada generasi mendatang.”
Comments (0)