Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, secara langsung memimpin operasi evakuasi puing-puing pesawat PK-RCY milik PT Associated Mission Aviation (AMA) di kawasan terpencil Distrik Borme, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Sabtu (18/7/2026). Pesawat nahas itu dilaporkan hilang kontak sejak Jumat (17/7) pagi dan ditemukan dalam kondisi hancur di punggung bukit berhutan lebat.
Berdasarkan data manifest, pesawat jenis Pilatus PC-6 Porter tersebut mengangkut dua awak dan lima penumpang, termasuk seorang tenaga medis dan bantuan logistik untuk sebuah klinik pedalaman. Seluruh penumpang dan awak dinyatakan meninggal dunia setelah tim SAR gabungan menemukan lokasi jatuh pada Sabtu dini hari. Operasi evakuasi serpihan pesawat dan jenazah korban berlangsung di medan yang sangat menantang, melibatkan dua helikopter TNI AD, satu tim Kopassus, serta personel Basarnas.
Kronologi dan Penemuan Lokasi Jatuh
Pesawat PK-RCY lepas landas dari Bandara Sentani, Jayapura, pada Jumat pukul 06.20 WIT dengan tujuan Lapangan Terbang Borme. Jadwal tempuh normal sekitar 45 menit. Namun, pada pukul 06.55 WIT, pilot melaporkan kondisi cuaca buruk dan meminta izin bermanuver menghindari awan tebal. Setelah itu, komunikasi terputus sepenuhnya. Pukul 07.30 WIT, AMA menyatakan status keadaan darurat. Basarnas dan TNI segera mengerahkan tim pencarian lewat udara dan darat.
Letjen Lucky Avianto, yang juga menjabat Pangkogabwilhan III, mengungkapkan bahwa titik jatuh pesawat sulit dijangkau. “Kami menerjunkan drone thermal pada malam hari, dan titik panas terdeteksi di koordinat 4°16' LS 140°15' BT. Personel Kopassus kami kerahkan melalui penyisiran darat, dan pada Sabtu subuh, tim menemukan bangkai pesawat di lereng bukit dengan kemiringan hampir 60 derajat,” ujarnya dalam keterangan pers di Posko Kogabwilhan III, Timika.
Proses Evakuasi di Medan Ekstrem
Menindaklanjuti penemuan tersebut, Letjen Lucky langsung terbang menuju lokasi terdekat menggunakan helikopter Bell 412 dan menetapkan posko lapangan di Distrik Borme. Proses evakuasi berjalan lambat karena kabut tebal yang baru terangkat menjelang siang. “Kami tidak bisa mengambil risiko. Setiap pengangkatan serpihan dan jenazah harus menunggu jendela cuaca aman. Helikopter hanya bisa mendekat secara terbatas, sehingga tim harus melakukan vertical rescue,” tegasnya.
Data dari Kogabwilhan III menunjukkan sebanyak empat jenazah berhasil dievakuasi ke RSUD Borme pada Sabtu sore, sementara tiga lainnya masih dalam proses. Evakuasi puing utama, termasuk mesin dan bagian sayap, direncanakan dilanjutkan pada Minggu (19/7) dengan penambahan satu helikopter Chinook dari Skadron 31/Serbu. “Kami prioritaskan evakuasi korban lebih dulu, baru potongan besar badan pesawat untuk penyelidikan,” tambah Letjen Lucky.
Investigasi dan Dukungan Logistik
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III itu juga menegaskan bahwa seluruh prosedur investigasi akan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan otoritas penerbangan. AMA, yang selama ini beroperasi mendukung misi sosial di wilayah Papua, belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun seorang perwakilan AMA di Sentani mengonfirmasi pihaknya akan bekerja sama penuh.
Kogabwilhan III telah menyiagakan satuan-satuan di bawahnya untuk memastikan bantuan logistik dan keamanan selama proses evakuasi dan investigasi. “Kami menerjunkan 37 personel gabungan dari Kodam XVII/Cenderawasih, Lanud Silas Papare, dan Lantamal XI. Ini wujud komitmen TNI dalam menanggulangi setiap musibah penerbangan, sekaligus memastikan tidak ada gangguan keamanan yang menghambat upaya kemanusiaan ini,” kata Letjen Lucky.
Dengan temuan cepat dan kepemimpinan langsung Panglima Kogabwilhan III, proses evakuasi diharapkan tuntas dalam dua hari ke depan. Sementara itu, pihak KNKT dijadwalkan tiba di lokasi pada Senin (20/7) untuk mengumpulkan data awal penyebab kecelakaan. Kecelakaan ini menambah panjang daftar insiden penerbangan di pedalaman Papua yang kerap dipicu cuaca ekstrem dan medan sulit.
Comments (0)