Pameran Naskah Perlawanan Dibuka di Perpustakaan Nasional
Pameran naskah-naskah sejarah bertema perlawanan secara resmi dibuka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 12 Agustus 2024....
Pameran naskah-naskah sejarah bertema perlawanan secara resmi dibuka di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta Pusat, pada hari Senin, 12 Agustus 2024. Acara yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional tersebut menampilkan 175 dokumen asli peninggalan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, dalam rangka menindaklanjuti keputusan Rapat Koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang ditetapkan pada 5 Juli 2024. Kepala Perpustakaan Nasional Prof. Dr. Haryono Suryadharma, M.A., menyatakan bahwa pameran ini disusun berdasarkan UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan untuk memperkuat literasi historis dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda.
Keputusan Rapat Koordinasi dan Penyelenggaraan Pleno
Dalam rapat koordinasi yang digelar di kantor Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada awal Juli lalu, pihak Perpustakaan Nasional bersama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan menyepakati penyelenggaraan pameran berskala nasional sebagai bagian dari program pelestarian arsip kenegaraan. Keputusan tersebut kemudian ditetapkan dalam pleno internal Perpustakaan Nasional pada 18 Juli 2024, yang menghasilkan penunjukan tim kuratorial khusus untuk mengumpulkan dan merawat naskah-naskah perlawanan dari berbagai daerah di Nusantara.
Direktur Jenderal Kebudayaan Dr. Nadia Kusumawati, M.Hum., menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pameran estetika, melainkan upaya konkret untuk mengembalikan memori kolektif bangsa terhadap perjuangan melawan penjajahan. Beliau menyatakan, 'Setiap naskah yang dipajang memiliki jejak politik tersendiri yang menunjukkan bagaimana para pendahulu kita menyusun strategi perlawanan melalui tulisan dan surat-menyurat.' Pernyataan tersebut disampaikan dalam sambutan resminya di hadapan undangan yang terdiri dari perwakilan akademisi, sejarawan, serta anggota Fraksi-fraksi di Dewan Perwakilan Rakyat.
Koleksi Dokumen dan Partisipasi Fraksi
Pameran yang berlangsung hingga 30 September 2024 itu memamerkan surat-surat pribadi para pahlawan daerah, draft perjanjian perlawanan, serta catatan-catatan lapangan milik organisasi pergerakan nasional yang sebelumnya tersimpan dalam kotak penyimpanan khusus. Diantara koleksi utama yang dipamerkan terdapat naskah tulisan tangan sepanjang 48 halaman yang berisi rancangan strategi perlawanan sipikolonial di wilayah Sumatera Barat pada tahun 1840-an, dan kumpulan surat edaran dari sebuah perhimpunan di Jawa Tengah yang disahkan oleh pemimpin komunitas setempat pada 1908.
Kehadiran perwakilan Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Partai Golkar, dan Fraksi NasDem dalam acara pembukaan menunjukkan dukungan lintas partai politik terhadap program pelestarian sejarah nasional. Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Bambang Priyatna, menegaskan bahwa pameran semacam ini perlu dijadikan acuan dalam penyusunan kurikulum pendidikan politik di tingkat parlemen. 'Naskah-naskah ini membuktikan bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan telah tertuang dalam dokumen-dokumen yang harus kita jaga keasliannya,' ujarnya dalam keterangan pers usai acara.
Dampak Kebijakan dan Rencana Pengembangan
Berdasarkan UU Nomor 43 Tahun 2007, Perpustakaan Nasional bertanggung jawab atas pelestarian naskah kuno dan dokumen bersejarah milik bangsa. Kepala Bidang Pelestarian Perpustakaan Nasional, Dr. Rina Marlina, S.S., M.A., menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan proses digitalisasi terhadap 120 dari total 175 naskah yang dipamerkan. Proses tersebut menindaklanjuti instruksi kebijakan yang disahkan dalam rapat koordinasi teknis pada 20 Juni 2024, yang menetapkan bahwa seluruh arsip vital milik negara wajib mengalami preservasi digital dalam kurun waktu lima tahun ke depan.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Haryono Suryadharma menambahkan bahwa Perpustakaan Nasional berencana menggelar pameran serupa di tiga kota besar lainnya, yakni Surabaya, Makassar, dan Medan, pada tahun anggaran 2025. Rencana tersebut telah ditetapkan dalam keputusan internal dan akan menindaklanjuti kesuksesan penyelenggaraan di Jakarta. 'Kami berkomitmen untuk terus menyuarakan semangat perlawanan melalui jejak-jejak arsip yang menjadi bukti peradaban bangsa ini,' tegasnya.
Pengunjung dapat menyaksikan pameran tersebut setiap hari kerja mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB dengan mendaftarkan diri secara daring melalui laman resmi Perpustakaan Nasional. Panitia menyediakan panduan kuratorial bagi kelompok pelajar dan mahasiswa yang ingin memperdalam pemahaman mengenai konteks politik di balik setiap naskah yang dipajang.
Comments (0)