Pameran Di Mana Wiji Thukul Digelar di Jakarta
Jakarta — Pameran seni bertajuk "Di Mana Wiji Thukul?" digelar di Ruang Kreatif Makarya, kompleks Gramedia Matraman, Jakarta, pada Kamis (20/8/2026). Pameran ini menampilkan arsip buku, tu...
Jakarta — Pameran seni bertajuk "Di Mana Wiji Thukul?" digelar di Ruang Kreatif Makarya, kompleks Gramedia Matraman, Jakarta, pada Kamis (20/8/2026). Pameran ini menampilkan arsip buku, tulisan, dan kumpulan puisi karya penyair Wiji Thukul yang dikenal luas melalui karya-karyanya yang kritis terhadap persoalan sosial dan politik.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ruang untuk mengenang sosok penyair sekaligus merawat ingatan kolektif tentang perjalanan hidup Wiji Thukul serta hilangnya ia bersama sejumlah aktivis lainnya. Melalui pameran ini, publik diajak menelusuri jejak pemikiran sang penyair yang terekam dalam setiap baris karya yang dipamerkan.
Publik Menyusuri Arsip di Ruang Kreatif Makarya
Sejumlah pengunjung terlihat mencermati arsip karya Wiji Thukul yang dipajang di Ruang Kreatif Makarya sejak pagi. Buku-buku kumpulan puisi, tulisan lepas, hingga dokumen perjalanan kreatif sang penyair tersusun dalam penataan yang dirancang untuk membawa pengunjung larut dalam dunia pemikiran Wiji Thukul. Suasana hening menyelimuti ruang pamer, seolah setiap baris puisi yang terpajang berbicara tentang zamannya.
Pameran bertajuk "Di Mana Wiji Thukul?" ini menghadirkan pengalaman berbeda bagi para penikmat sastra. Alih-alih sekadar memajang karya, pameran ini juga menjadi medium untuk mempertanyakan kembali nasib penyair yang jejaknya hilang dalam pusaran sejarah politik nasional. Setiap benda yang dipamerkan bukan sekadar artefak, melainkan saksi bisu atas perjalanan hidup seseorang yang memilih kata sebagai senjata perlawanan.
Karya yang Menyuarakan Suara Rakyat Kecil
Wiji Thukul lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada 1963. Sepanjang hidupnya, ia dikenal sebagai penyair yang karyanya berpihak pada rakyat kecil. Puisi-puisinya menyuarakan kegelisahan buruh, petani, dan kelompok marjinal yang kerap terpinggirkan oleh kebijakan yang timpang. Kumpulan puisinya seperti "Nyanyian Akar Rumput" dan "Aku Ingin Jadi Peluru" menjadi jejak yang menegaskan konsistensinya dalam menyuarakan keadilan.
Kekuatan karya Wiji Thukul terletak pada keberaniannya menulis tanpa kompromi. Dalam setiap bait, ia menuliskan realitas yang sering kali dihindari oleh banyak orang. Kritik sosial yang tajam menjadikan karya-karyanya abadi, bahkan setelah penyairnya tidak lagi berada di tengah-tengah masyarakat. Pameran ini, dengan demikian, menjadi pengingat bahwa karya sastra mampu melampaui batas waktu dan rezim.
Merawat Ingatan dan Menegaskan Hak atas Kebenaran
Perjalanan hidup Wiji Thukul tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik pada akhir dasawarsa 1990-an. Penyair ini dilaporkan hilang pada Mei 1998, di tengah gejolak politik yang melanda Indonesia. Sejak saat itu, keberadaannya tidak pernah terkonfirmasi, dan ia menjadi bagian dari daftar panjang aktivis yang nasibnya tidak jelas hingga kini.
Keluarga Wiji Thukul tidak pernah berhenti mencari kejelasan. Pada 2022, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menetapkan Wiji Thukul meninggal dunia secara hukum berdasarkan permohonan yang diajukan keluarganya. Penetapan tersebut menjadi babak baru dalam upaya panjang keluarga untuk memperoleh kepastian, meskipun pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya tetap menggantung.
Dalam konteks inilah pameran "Di Mana Wiji Thukul?" memiliki makna yang lebih dalam. Kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang sastra, tetapi juga menegaskan pentingnya hak atas kebenaran dan keadilan bagi mereka yang kehilangan anggota keluarganya dalam peristiwa pelanggaran hak asasi manusia. Dengan menghadirkan kembali karya-karyanya, publik diajak untuk tidak melupakan.
Warisan yang Tetap Hidup
Bagi generasi muda, pameran ini menjadi pintu masuk untuk mengenal sosok yang mungkin hanya dikenal dari namanya. Membaca kembali puisi-puisi Wiji Thukul berarti ikut merawat memori tentang perjuangan dan keberanian. Ruang Kreatif Makarya, dalam hal ini, berhasil menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini.
Pameran yang menampilkan buku, tulisan, dan kumpulan puisi karya Wiji Thukul ini diharapkan dapat menggerakkan publik untuk terus bertanya dan menggali kebenaran. Sebab, selama karya-karyanya masih dibaca dan dikenang, nama Wiji Thukul akan tetap hidup sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Comments (0)