Minat Sewa Hunian Meningkat 58,6 Persen pada Kuartal II 2026
BANTENRAYA.COM — Platform properti terkemuka Rumah123 merilis data terbaru yang menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi masyarakat terhadap huni
BANTENRAYA.COM — Platform properti terkemuka Rumah123 merilis data terbaru yang menunjukkan pergeseran signifikan dalam preferensi masyarakat terhadap hunian. Sepanjang kuartal II 2026, tercatat bahwa 58,6 persen dari total pencarian atau enquiry pengguna di platform tersebut diarahkan pada hunian sewa. Sementara itu, hanya 41,4 persen sisanya yang mencari hunian untuk dibeli. Temuan ini menandai babak baru dalam dinamika pasar properti nasional, di mana fleksibilitas mulai mengalahkan tradisi kepemilikan aset.
Dominasi Minat Sewa Melampaui Beli
Data yang dihimpun dari April hingga Juni 2026 memperlihatkan bahwa untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, selisih antara minat sewa dan beli mencapai titik tertinggi. Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, mengungkapkan bahwa jarak tersebut kini mencapai 17,2 poin persentase. Angka ini bukanlah lonjakan sesaat, melainkan puncak dari tren yang telah berlangsung konsisten selama lima kuartal terakhir. Secara bertahap, grafik minat sewa terus menanjak, sementara minat beli menunjukkan perlambatan yang stabil.
Pergeseran Tahapan Kepemilikan Rumah
Marisa Jaya menilai fenomena ini bukan berarti masyarakat kehilangan minat untuk memiliki rumah. Sebaliknya, ia menyebutnya sebagai perubahan tahapan dalam perjalanan kepemilikan properti. “Aspirasi masyarakat untuk memiliki rumah tetap tinggi. Namun, data kami menunjukkan bahwa semakin banyak konsumen memilih menyewa terlebih dahulu sebagai strategi yang lebih fleksibel sambil mempersiapkan kondisi finansial, menyesuaikan kebutuhan hidup, dan menunggu momentum yang tepat untuk membeli rumah,” jelasnya dalam keterangan resmi yang dikutip pada Minggu (12/7/2026).
“Menyewa kini dianggap bukan lagi sekadar alternatif, melainkan batu loncatan strategis sebelum mengambil keputusan pembelian jangka panjang.”
Faktor Pendorong di Balik Tren Sewa
Sejumlah faktor ekonomi dan sosial turut memperkuat pergeseran ini. Ketidakpastian kondisi keuangan global, kenaikan suku bunga acuan, serta harga properti yang terus merangkak naik membuat generasi muda dan pekerja profesional lebih berhati-hati dalam mengambil kredit pemilikan rumah (KPR). Di sisi lain, gaya hidup urban yang dinamis menuntut mobilitas tinggi, sehingga opsi sewa menjadi lebih adaptif terhadap perubahan lokasi kerja, kebutuhan keluarga, atau preferensi lingkungan.
- Kenaikan harga properti residensial rata-rata 8–12 persen per tahun di kota besar.
- Suku bunga KPR yang fluktuatif meningkatkan beban cicilan jangka panjang.
- Pertumbuhan platform sewa digital yang memudahkan akses dan transaksi.
- Fenomena work-from-anywhere yang membuat komitmen lokasi tempat tinggal lebih longgar.
Implikasi bagi Pengembang dan Pasar Properti
Pergeseran ini memaksa pengembang untuk merumuskan ulang strategi bisnis mereka. Beberapa pengembang besar mulai mengalihkan sebagian portofolionya ke proyek hunian sewa atau build-to-rent. Segmen apartemen dengan fasilitas lengkap dan sistem sewa jangka panjang semakin diminati. Sementara itu, pasar jual beli tetap bergerak, namun didominasi oleh segmen menengah ke atas yang memiliki kestabilan finansial lebih baik.
Di sisi regulasi, pemerintah diharapkan dapat mendorong ekosistem hunian sewa yang sehat, termasuk perlindungan bagi penyewa dan pemilik, sehingga model ini tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi solusi hunian berkelanjutan.
Proyeksi: Akankah Minat Beli Kembali Bangkit?
Meski saat ini sewa mendominasi, Marisa Jaya optimistis bahwa minat beli akan kembali menguat seiring perbaikan ekonomi dan kestabilan harga properti. “Kami melihat ini sebagai penundaan, bukan pembatalan. Masyarakat sedang membangun fondasi yang lebih kokoh sebelum melangkah ke kepemilikan,” tambahnya. Rumah123 memproyeksikan perbaikan rasio beli terhadap sewa pada akhir 2026 apabila insentif pemerintah dan suku bunga KPR bergerak lebih bersahabat.
Dengan demikian, kuartal II 2026 menjadi penanda penting bahwa pasar properti Indonesia memasuki era baru—era di mana sewa dan beli tidak lagi berdiri sebagai opsi yang berlawanan, melainkan dua tahap yang saling melengkapi dalam perjalanan setiap individu menuju hunian idealnya.
[SOCIAL_TWEET]: Pasar properti bergeser! Data Rumah123: 58,6% enquiry kuartal II 2026 memilih sewa hunian, selisih 17,2 poin dari beli. Masyarakat tunda beli, utamakan fleksibilitas. Akankah tren ini bertahan? #SewaHunian #PasarProperti #Rumah123[SOCIAL_TG]: 🏠 Data Rumah123: Minat sewa hunian melonjak hingga 58,6% di kuartal II 2026, meninggalkan minat beli di 41,4%. Selisih terbesar dalam lima kuartal terakhir. Masyarakat kini lebih fleksibel sebelum memutuskan KPR. #Properti #SewaHunian
Comments (0)