Mijen, Semarang — Festival Sobo Roworejo 5 Rekatkan Warga Kampung Wisata

Puncak perhelatan Festival Sobo Roworejo yang kelima digelar di Kampung Wisata Ranting Pelangi, Kelurahan Wonolopo, Mijen, Kota Semarang, pada Minggu, 5 Ju

Jul 08, 2026 - 03:10
0 0

Puncak perhelatan Festival Sobo Roworejo yang kelima digelar di Kampung Wisata Ranting Pelangi, Kelurahan Wonolopo, Mijen, Kota Semarang, pada Minggu, 5 Juli 2026. Rangkaian acara puncak yang dimulai pagi hari itu berhasil menyedot antusiasme warga setempat serta tamu undangan melalui Kirab Sendang Belik, Kirab Gunungan Palawija, dan pertunjukan seni Kuda Lumping. Festival ini menjadi momentum untuk memperkuat kohesi sosial sekaligus mengangkat kembali nilai-nilai tradisi lokal yang telah dirawat secara turun-temurun.

Rangkaian Acara Puncak

Prosesi puncak Festival Sobo Roworejo 5 disusun secara kronologis untuk menggambarkan perjalanan budaya dan rasa syukur masyarakat. Berikut urutan acara berdasarkan pantauan di lokasi:

  1. Kirab Sendang Belik – Warga berjalan bersama menuju Sendang Belik, mata air yang menjadi sumber kehidupan kampung. Di lokasi ini, digelar doa bersama sebagai penghormatan terhadap pusaka air yang menghidupi warga.
  2. Kirab Gunungan Palawija – Arak-arakan gunungan berisi hasil bumi berupa palawija diarak keliling kampung. Gunungan kemudian diperebutkan warga sebagai simbol rezeki dan keberkahan.
  3. Pertunjukan Kuda Lumping – Rangkaian ditutup dengan atraksi seni tradisional Kuda Lumping yang melibatkan partisipasi warga dari berbagai usia, menutup acara dengan suasana sukacita dan kebersamaan.

Seluruh rangkaian acara berlangsung meriah tanpa insiden, dengan kehadiran lebih dari 200 warga serta perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.

Makna Kebersamaan dan Rasa Syukur

Festival yang memasuki tahun ke-5 penyelenggaraan ini tidak sekadar menjadi hajatan budaya tahunan, melainkan juga wadah untuk merawat memori kolektif kampung. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Manggar Selaras Wonolopo, Sumitri Leksono, menegaskan bahwa kebersamaan yang ditunjukkan warga selama festival merupakan cerminan dari guyub rukun yang perlu terus dijaga.

"Pada masyarakat akan terlihat geguyubannya. Mereka terlihat bahagia jika bersama-sama. Guyub rukun dalam membersihkan wilayah masih perlu dijaga, sehingga keegoisan masing-masing bisa luntur karena kekompakan," ujar Sumitri.

Sementara itu, Muslika, salah satu peserta Kirab Gunungan Palawija, mengungkapkan bagaimana kirab mampu menjadi jembatan sosial yang menyatukan warga yang jarang bertemu dalam keseharian.

"Kirab itu menyatukan orang-orang yang jauh jadi dekat, biasanya tidak ketemu gitu kan, tapi lewat kirab ini bisa ketemu dan saling sapa dan bersenda gurau sehingga yang tadinya hanya berdiam di rumah, melalui ini bisa menyatukan kebahagiaan bersama," tuturnya.

Dukungan Pemerintah untuk Wisata Budaya

Festival Sobo Roworejo tidak hanya menjadi agenda warga tingkat kampung, namun mulai dilirik sebagai salah satu potensi wisata budaya Kota Semarang. Andri Tegar, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, hadir dan memberikan apresiasi sekaligus harapan agar tradisi ini bisa dikenal lebih luas.

"Semoga Sobo Roworejo bisa diketahui oleh masyarakat yang lebih luas, bukan sekadar hidden gem saja. Banyak sekali destinasi wisata di Semarang di luar Lawang Sewu dan Kota Lama, salah satunya tradisi Sobo Roworejo di Kelurahan Wonolopo ini," ujar Andri.

Dengan sinergi antara warga, Pokdarwis, dan pemerintah, Festival Sobo Roworejo diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya di wilayah pinggiran Semarang sekaligus mempertahankan warisan tradisi kolektif yang menjadi identitas Kampung Wisata Ranting Pelangi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User