Menteri Kebudayaan Tegaskan Komitmen Pengembangan Museum Pos Indonesia
BANDUNG — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk melestarikan warisan budaya nasional melalui pengembangan Museum Pos Indonesia menjadi ruang edukasi mo...
BANDUNG — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk melestarikan warisan budaya nasional melalui pengembangan Museum Pos Indonesia menjadi ruang edukasi modern sekaligus sarana penguatan identitas bangsa. Penegasan tersebut disampaikan Fadli Zon saat melakukan kunjungan kerja ke museum yang berada di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Jawa Barat.
Dalam kunjungan itu, Fadli Zon meninjau langsung sejumlah koleksi bernilai sejarah tinggi, mulai dari prangko dari berbagai negara dan era, peralatan pos tempo dulu, hingga dokumentasi perjalanan layanan pos di Nusantara sejak masa kolonial. Ia menilai museum ini menyimpan kekayaan narasi sejarah bangsa yang perlu diperkenalkan secara luas kepada generasi muda.
"Museum Pos Indonesia bukan sekadar gedung tua berisi koleksi prangko. Ini adalah gudang memori kolektif bangsa yang mencatat bagaimana komunikasi dan konektivitas Nusantara dibangun dari masa ke masa," ujar Fadli Zon dalam keterangannya.
Museum Sebagai Ruang Edukasi Generasi Muda
Fadli Zon menyatakan, Kementerian Kebudayaan akan menindaklanjuti pengembangan museum melalui revitalisasi tata pamer, digitalisasi koleksi, serta penyusunan program edukasi yang menyasar pelajar dan mahasiswa. Menurutnya, museum harus bertransformasi menjadi ruang publik yang hidup, interaktif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
"Kita ingin museum hadir sebagai ruang belajar yang menarik. Anak-anak muda harus merasa bahwa museum adalah tempat mereka mengenal jati diri bangsanya, bukan tempat yang membosankan," katanya.
Ia menambahkan, penguatan fungsi edukasi museum sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam pemajuan kebudayaan, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam beleid tersebut, pelindungan dan pengembangan warisan budaya, termasuk museum dan benda cagar budaya, menjadi tanggung jawab bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Jejak Sejarah Museum Pos Indonesia
Museum Pos Indonesia merupakan salah satu museum tertua di Tanah Air. Gedungnya dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan diresmikan sebagai museum pada tahun 1931 dengan nama Museum PTT (Post, Telegraaf en Telefoon). Bangunan bergaya arsitektur kolonial itu berdiri tidak jauh dari Gedung Sate, ikon Kota Bandung.
Hingga kini, museum yang dikelola oleh PT Pos Indonesia (Persero) tersebut menyimpan ribuan koleksi filateli, di antaranya prangko dari 174 negara, prangko era kemerdekaan, timbangan surat kuno, sepeda dinas petugas pos, hingga bis surat dari berbagai zaman. Koleksi itu merekam evolusi layanan pos dan telekomunikasi di Indonesia selama hampir satu abad.
Fadli Zon menilai, nilai sejarah yang dimiliki museum ini sangat strategis untuk diintegrasikan ke dalam ekosistem pendidikan dan pariwisata budaya Kota Bandung. Ia mendorong agar museum dapat terhubung dengan destinasi cagar budaya lain di sekitarnya sehingga membentuk kawasan wisata sejarah yang utuh dan saling menguatkan.
Sinergi Kementerian dan BUMN
Dalam kesempatan yang sama, Fadli Zon menyatakan kesiapan Kementerian Kebudayaan bersinergi dengan PT Pos Indonesia (Persero), Pemerintah Kota Bandung, serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memperkuat pengelolaan museum. Kerja sama lintas lembaga itu dinilai penting agar revitalisasi berjalan berkelanjutan dan tidak berhenti pada penataan fisik semata.
"Pelestarian warisan budaya tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri. Perlu kolaborasi antara kementerian, BUMN, pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas filateli. Ke depan, kami akan menindaklanjuti dengan langkah-langkah konkret," ucapnya.
Selain revitalisasi tata kelola, Kementerian Kebudayaan juga mendorong pemanfaatan teknologi digital, seperti tur virtual dan katalog daring, agar koleksi museum dapat diakses masyarakat luas tanpa batas ruang dan waktu. Langkah ini dinilai penting untuk menjangkau publik yang lebih luas, khususnya generasi digital yang terbiasa mengakses informasi melalui gawai.
Dengan dukungan penuh pemerintah pusat, Museum Pos Indonesia diharapkan mampu bertransformasi menjadi pusat edukasi modern yang tidak hanya merawat artefak masa lalu, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap sejarah dan identitas bangsa Indonesia.
Comments (0)