Menteri Kebudayaan Dorong Replika Lukisan Purba Liang Metanduno di Museum Sultra

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong agar replika lukisan cadas tertua di dunia yang berada di Situs Liang Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, dipasang di Museum Sultra sebagai ikon baru p...

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong agar replika lukisan cadas tertua di dunia yang berada di Situs Liang Metanduno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, dipasang di Museum Sultra sebagai ikon baru penggerak wisata. Usulan tersebut disampaikan langsung dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Tenggara yang berlangsung di Kendari, Kamis (17/4/2025). Fadli Zon menilai kehadiran replika berskala penuh akan menghadirkan pengalaman mendalam bagi wisatawan tanpa mengancam kelestarian situs asli yang rentan terhadap perubahan iklim dan vandalisme.

“Kita harus membawa narasi besar ini ke ruang publik yang lebih luas. Museum Sultra dapat menjadi etalase peradaban, tempat masyarakat dan wisatawan menyaksikan bukti kecerdasan manusia prasejarah tanpa harus menempuh perjalanan ke ceruk gua yang sulit diakses,” ujar Fadli Zon dalam pemaparannya. Ia juga menekankan bahwa replika tersebut bukan sekadar tiruan, melainkan hasil pemindaian digital beresolusi tinggi agar detail pigmen, goresan, dan tekstur dinding gua tetap autentik.

Liang Metanduno menyimpan panel lukisan figuratif yang menggambarkan babi kutil Sulawesi (Sus celebensis) dan adegan perburuan. Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Griffith, Australia, melalui metode uranium-series dating pada lapisan kalsit yang menutupi lukisan, menetapkan usia karya tersebut setidaknya 45.500 tahun. Temuan yang dipublikasikan di Science Advances edisi Januari 2021 itu menggeser status lukisan gua tertua yang sebelumnya dipegang oleh situs di Eropa. Hingga kini, Situs Liang Metanduno masih menjadi rujukan global dalam studi migrasi dan kapasitas kognitif Homo sapiens awal di Wallacea.

Jejak Peradaban Tertua yang Terus Diteliti

Peneliti Utama BRIN, Dr. Adhi Agus Oktaviana, menyatakan bahwa panel di Liang Metanduno bukan sekadar artefak estetik, melainkan peta mental masyarakat pemburu-peramu yang telah mengenal representasi simbolik kompleks. “Gambar babi kutil yang dibuat dengan teknik spray tangan itu menunjukkan adanya sistem komunikasi visual lintas generasi pada periode Pleistosen akhir. Ini adalah titik balik pemahaman kita tentang asal-usul seni,” terang Adhi dalam sebuah simposium daring, belum lama ini. Ia menambahkan, pemindaian tiga dimensi yang telah dilakukan pada 2023 membuka kemungkinan reproduksi skala 1:1 dengan akurasi di bawah satu milimeter.

Pemerintah Kabupaten Muna, melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, mencatat bahwa akses menuju Liang Metanduno masih terbatas dan hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki melintasi hutan karst selama dua jam. Kondisi itu, meskipun menjaga keasrian, membatasi jumlah pengunjung. Kepala Dinas Pariwisata Muna, La Ode Muhammad Syarif, menyebut pihaknya telah berdiskusi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII untuk menyusun cetak biru replika yang akan ditempatkan di Museum Sultra sekaligus menjadi materi edukasi di sekolah-sekolah.

Museum Sultra Siap Menampung Ikon Baru

Kepala Museum Sultra, Dr. Andi Tenri Abeng, menyambut usulan Menteri Kebudayaan dan menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan ruang pamer seluas 300 meter persegi di sayap timur gedung museum. “Kami akan mendesain lorong imersif yang mereplikasi suasana gua, lengkap dengan tata cahaya dan suara alam. Replika lukisan cadas itu nantinya menjadi pusat dari narasi besar tentang jalur rempah dan peradaban maritim Nusantara,” jelasnya di sela-sela rapat koordinasi. Proyek ini ditargetkan memulai pengerjaan pada triwulan ketiga 2025, dengan anggaran yang diusulkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kebudayaan serta dukungan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk riset dan digitalisasi.

Selain replika fisik, Museum Sultra juga berencana menghadirkan fitur realitas virtual yang memungkinkan pengunjung “masuk” ke dalam gua asli secara digital. Langkah ini, menurut Andi Tenri, diharapkan mampu mendongkrak jumlah kunjungan museum yang saat ini rata-rata 1.500 orang per bulan menjadi 10.000 orang setelah instalasi selesai. “Dengan narasi ‘lukisan cadas tertua di dunia’, kami optimistis Museum Sultra bisa menjadi destinasi unggulan baru di Indonesia Timur,” tambahnya.

Menghidupkan Ekosistem Wisata Budaya Sultra

Usulan Fadli Zon tidak berdiri sendiri. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara tengah menyusun Rencana Induk Pariwisata Daerah (RIPDA) yang menempatkan wisata arkeologi sebagai salah satu pilar utama. Gubernur Sultra, Ali Mazi, dalam sambutannya menyatakan komitmen untuk menyelaraskan pembangunan infrastruktur pendukung, termasuk akses jalan menuju kawasan Museum Sultra dan banda udara. “Replika ini adalah katalis. Kami ingin wisatawan tidak hanya singgah, tetapi tinggal lebih lama dan mengeksplorasi kekayaan budaya lokal, mulai dari tenun Muna, kuliner, hingga ritual adat,” ujar Ali Mazi.

Sejumlah pegiat budaya dan pelaku ekonomi kreatif di Kendari merespons positif. Sekretaris Asosiasi Pelaku Pariwisata Sultra, Wa Ode Nurhasanah, mengatakan bahwa kehadiran ikon baru akan membuka peluang bagi tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar museum. “Kami siap mengembangkan paket wisata tematik yang menggabungkan kunjungan museum dengan workshop melukis ala prasejarah dan tur virtual ke situs-situs karst Muna,” katanya.

Dengan usia panel yang menembus 45.500 tahun, lukisan cadas Liang Metanduno bukan hanya warisan dunia, tetapi juga potensi ekonomi yang dapat menyejahterakan masyarakat setempat. Rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Kebudayaan itu pun menetapkan target agar pada akhir 2026, replika tersebut sudah dapat dinikmati publik sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Museum Nasional. Keputusan resmi tentang alokasi anggaran dan pelaksana proyek dijadwalkan akan diumumkan dalam rapat pleno bersama Komisi X DPR RI pada awal Mei 2025.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User