Ketegangan politik dan kebebasan berekspresi di Israel kembali memanas setelah Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, secara terbuka menyerukan pencabutan kewarganegaraan bagi dua sineas pemenang Oscar, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Ancaman ini muncul menyusul perilisan film dokumenter investigatif mereka yang bertajuk NAZA, yang menyoroti pembunuhan massal warga sipil di Jalur Gaza.
Zohar menuduh kedua pembuat film tersebut telah melakukan tindakan makar yang merugikan kepentingan keamanan nasional di tengah kecaman internasional atas eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Tuduhan Makar Terhadap Sineas Pemenang Oscar
Menteri Kebudayaan Miki Zohar menegaskan bahwa tindakan memproduksi dan menyebarluaskan film dokumenter tersebut melanggar batas loyalitas warga negara terhadap negaranya. Ia mengecam keras pesan yang diangkat dalam karya sinematik itu.
"Langkah ini bukan lagi sekadar kritik seni, melainkan bentuk pengkhianatan nyata terhadap negara di tengah situasi perang," ujar Miki Zohar dalam pernyataan resminya.
Yuval Abraham dan Rachel Szor sebelumnya telah meraih pengakuan internasional, termasuk piala Oscar, atas karya dokumenter mereka yang kritis. Namun, karya terbaru mereka memicu reaksi keras dari jajaran politisi sayap kanan Israel yang menuntut sanksi hukum paling berat, termasuk pencabutan status kewarganegaraan.
Menguak Realitas Intelijen Militer Lewat Dokumenter NAZA
Film dokumenter NAZA, yang diproduksi atas kerja sama dengan media internasional The Guardian, mengangkat investigasi mendalam mengenai cara kerja dinas intelijen Israel dalam menentukan target serangan udara di Jalur Gaza. Nama "NAZA" sendiri diambil dari akronim militer yang digunakan dinas intelijen untuk menghitung estimasi jumlah korban sipil yang diperkirakan akan tewas dalam setiap pengeboman.
Dalam film tersebut, sejumlah poin penting diungkap ke hadapan publik global:
- Kalkulasi Korban Sipil: Militer menggunakan sistem komputasi dan pemetaan intelijen untuk memperkirakan angka fatalitas sipil sebelum melancarkan serangan udara.
- Penargetan Bangunan Padat: Kesaksian dalam film menyoroti bahwa pihak berwenang kerap mengetahui sebuah bangunan dihuni oleh anak-anak dan keluarga sebelum serangan diluncurkan.
- Dampak Humaniter: Dokumenter ini memperlihatkan kehancuran sistematis serta krisis kemanusiaan yang menimpa populasi warga sipil di Gaza.
Kronologi Eskalasi Kontroversi Film NAZA
- 10 September 2026: Ulasan perdana film dokumenter NAZA dirilis ke publik secara internasional dan memicu perdebatan sengit terkait etika operasi militer.
- 11 September 2026: Sutradara Yuval Abraham dan Rachel Szor merilis wawancara khusus yang membeberkan bagaimana data intelijen militer digunakan dalam pengeboman area padat penduduk.
- 14 September 2026: Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar melontarkan ancaman resmi untuk mencabut kewarganegaraan kedua sutradara dan menuduh mereka melakukan pengkhianatan negara.
Sorotan Komunitas Internasional dan Kebebasan Pers
Ancaman pencabutan kewarganegaraan terhadap jurnalis dan pembuat film ini memicu kekhawatiran luas dari organisasi hak asasi manusia serta asosiasi perfilman internasional. Para pengamat menilai bahwa langkah represif pemerintah Israel berpotensi membungkam kebebasan pers dan menyensor pengungkapan fakta atas pelanggaran hukum humaniter internasional di zona konflik.
Comments (0)