Menlu RI dan Iran Bahas Dinamika Kawasan dan Perdamaian Global

Jakarta, 14 April 2025 – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Seyyed Abbas Araghchi, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Neg...

Jul 12, 2026 - 12:26
0 0
Menlu RI dan Iran Bahas Dinamika Kawasan dan Perdamaian Global

Jakarta, 14 April 2025 – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, Seyyed Abbas Araghchi, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, pada Senin pagi. Pertemuan bilateral tertutup yang berlangsung hampir dua jam tersebut secara khusus membahas eskalasi terkini di Timur Tengah, upaya perdamaian di Jalur Gaza, serta penguatan kerja sama ekonomi dan politik antara Jakarta dan Teheran. Kedua diplomat utama itu juga menyelaraskan pandangan terhadap dinamika kekuatan global yang dinilai kian terfragmentasi.

Keprihatinan Mendalam atas Kemanusiaan di Gaza

Dalam pernyataan pers bersama, Sugiono menegaskan posisi konstitusional Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan dan mendesak akses tanpa hambatan bagi bantuan kemanusiaan ke wilayah konflik. Ia merujuk pada Resolusi Majelis Umum PBB ES‑10/23 yang terus diabaikan. "Indonesia tidak akan berhenti menyuarakan hak bangsa Palestina untuk merdeka dan hidup berdampingan secara damai. Kami mencatat bahwa hingga kuartal pertama 2025, jumlah korban sipil di Gaza telah melampaui angka yang dapat diterima oleh hati nurani peradaban," ujarnya tanpa menyebut negara tertentu.

Araghchi yang pada periode sebelumnya memimpin tim perunding nuklir Iran, menyambut ketegasan Indonesia dan menekankan keselarasan visi kedua negara. "Kami melihat Indonesia sebagai kekuatan moral di Dunia Islam dan di fora internasional. Setiap inisiatif Jakarta untuk gencatan senjata permanen akan mendapatkan dukungan penuh Teheran," kata Araghchi. Kedua menteri juga membahas perlunya rekonstruksi Gaza pascakonflik serta peran potensial Badan Kemanusiaan ASEAN yang diusulkan Indonesia.

Menyikapi Ketegangan di Laut Merah dan Program Nuklir

Selain krisis Palestina, masalah keamanan jalur pelayaran strategis di Laut Merah menjadi perhatian serius. Sugiono menekankan bahwa gangguan terhadap kebebasan bernavigasi berdampak langsung pada rantai pasok Indonesia, mengutip data Badan Pusat Statistik yang menunjukkan lonjakan biaya logistik impor gandum hingga 18 persen sejak akhir 2024. Kedua pihak sepakat mendorong deeskalasi dan dialog maritim regional yang lebih inklusif.

Terkait isu program nuklir Iran yang kembali memanas pasca keluarnya sejumlah pihak dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), Sugiono mendorong penyelesaian melalui saluran diplomatik. "Indonesia percaya bahwa Perjanjian Non‑Proliferasi Nuklir tetap menjadi pilar stabilitas strategis. Kami mendesak semua pihak kembali ke meja perundingan tanpa prasyarat," tegasnya. Araghchi menanggapi dengan menyatakan bahwa Teheran terbuka untuk verifikasi Badan Energi Atom Internasional sepanjang hak bangsa Iran untuk penguasaan teknologi nuklir damai dihormati.

Peningkatan Hubungan Bilateral yang Terukur

Di luar isu geopolitik, pertemuan ini menghasilkan sejumlah capaian konkret. Kedua menteri menandatangani nota kesepahaman kerja sama energi baru terbarukan, yang akan memungkinkan transfer teknologi panel surya dan pengelolaan pembangkit listrik tenaga mikrohidro dari Iran ke Indonesia. Nilai perdagangan bilateral pada tahun 2024 tercatat sebesar 1,2 miliar dolar AS, dan Sugiono menargetkan peningkatan hingga 2,5 miliar dolar AS dalam tiga tahun ke depan melalui diversifikasi komoditas nonmigas seperti farmasi, produk halal, dan suku cadang otomotif.

Tak ketinggalan, mekanisme konsultasi politik tahunan (Joint Political Consultation) disepakati untuk digelar di Teheran pada September 2025. Araghchi mengundang secara langsung Menlu Sugiono untuk hadir dan melanjutkan pembahasan isu-isu strategis termasuk keanggotaan Indonesia dan Iran di BRICS. "Kami melihat kehadiran Indonesia dan Iran di BRICS sebagai peluang untuk memperkuat suara negara berkembang dalam arsitektur keuangan global," ujar Araghchi menutup sesi.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User