Pusat Emas Cikini atau Cikini Gold Center yang terletak di Jakarta Pusat tidak hanya dikenal sebagai sentra perdagangan emas dan perhiasan. Berdasarkan penelusuran di lokasi, kawasan ini juga menampung geliat bisnis seserahan pernikahan hingga parcel yang tersebar di lantai 1 dan lantai 2 gedung tersebut. Aktivitas dagang itu tetap berjalan meskipun volume kunjungan dilaporkan mengalami perubahan dibandingkan periode sebelumnya.
Salah satu pelaku usaha, Yanti, penjaga Toko Mayas yang berfokus pada seserahan pernikahan, menyatakan bahwa permintaan terhadap produk seserahan masih tetap ada sepanjang tahun. Menurutnya, pernikahan berlangsung setiap bulan sehingga kebutuhan akan kemasan dan dekorasi seserahan tidak pernah sepenuhnya berhenti.
"Masih sih alhamdulillah, kan orang nikah setiap bulan ada, biasanya abis lebaran haji, lebaran kita, itu ramai-ramainya, atau tanggal-tanggal kembar, tanggal cantik," kata Yanti ketika ditemui di tokonya.
Musim Pernikahan Menentukan Ramai Tidaknya Transaksi
Yanti menegaskan bahwa pola kunjungan pembeli sangat dipengaruhi oleh momen tertentu dalam kalender. Puncak keramaian terjadi setelah Lebaran Haji dan Lebaran Idulfitri, serta pada tanggal-tanggal yang dianggap istimewa oleh calon pengantin, seperti tanggal kembar dan tanggal cantik. Pada periode tersebut, permintaan terhadap paket seserahan meningkat signifikan dibandingkan hari biasa.
Meski demikian, ia mengakui bahwa kondisi usaha saat ini tidak seramai beberapa tahun sebelumnya. Penurunan itu, menurut Yanti, tidak terlepas dari bertambahnya pelaku usaha seserahan yang beroperasi dengan skema rumahan. Banyak perajin dan penyedia jasa kini menjalankan bisnis tanpa membuka toko fisik, sehingga persaingan menjadi lebih ketat.
"Agak berkurang. Soalnya yang bisnis kaya gini per rumahan juga ada, yang enggak buka toko tapi buka jasa-jasa gini. Tapi orang tau Cikini itu kan tempat seserahan, jadi tetap datang juga," ujarnya.
Selain faktor pesaing rumahan, maraknya tutorial dekorasi seserahan yang tersedia di berbagai platform digital turut memengaruhi minat konsumen. Calon pengantin kini memiliki alternatif untuk merangkai sendiri seserahan mereka dengan panduan yang mudah diakses, sehingga tidak selalu bergantung pada jasa penyedia di pusat perbelanjaan.
Strategi Toko Bertahan Lewat Penjualan Daring
Untuk mempertahankan pangsa pasar, Toko Mayas tidak hanya mengandalkan transaksi tatap muka di lokasi. Yanti menjelaskan bahwa pihaknya juga membuka layanan pemesanan secara daring, termasuk melalui siaran langsung di platform TikTok. Menurutnya, tingkat keramaian antara penjualan langsung dan daring relatif seimbang.
Produk yang ditawarkan toko tersebut mencakup penjualan kemasan sekaligus jasa dekorasi seserahan, hingga penyewaan kemasan. Yanti merinci bahwa harga dekorasi dan penjualan kemasan seserahan dimulai dari Rp 500 ribu untuk box berbahan akrilik. Sementara itu, skema sewa dibanderol lebih murah, yakni Rp 300 ribu per set.
Satu set box yang disewakan umumnya terdiri dari tiga ukuran berbeda, mulai dari kecil, sedang, hingga besar. Skema sewa ini menjadi pilihan sebagian konsumen yang ingin menghemat biaya namun tetap memperoleh tampilan seserahan yang rapi dan menarik.
Daya Tarik Kawasan Cikini bagi Konsumen
Reputasi Cikini sebagai kawasan yang identik dengan kebutuhan seserahan pernikahan membuat lokasi ini tetap menjadi rujukan. Meskipun banyak alternatif jasa rumahan bermunculan, pelanggan yang mengetahui keberadaan sentra tersebut cenderung tetap mendatangi lantai 1 dan 2 Cikini Gold Center untuk berbelanja langsung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ekosistem perdagangan di kawasan tersebut tidak tunggal. Di samping komoditas emas yang menjadi identitas utamanya, bisnis penunjang seperti seserahan dan parcel turut menghidupkan denyut ekonomi di pusat perbelanjaan itu. Para pedagang berharap momentum musim pernikahan pada bulan-bulan tertentu dapat terus menopang keberlangsungan usaha mereka di tengah perubahan perilaku konsumen dan persaingan yang semakin beragam.
Comments (0)